52 - Arschloch

4.8K 165 4
                                    

Di ruang tamu  penthouse mewah seorang pria terlihat gelisah, ia berdiri melihat ke dinding kaca dengan minuman ditangannya, walaupun tidak membantu banya setidaknya bisa mengurangi kegelisahannya saat ini. Pikirannya sungguh tidak bisa diajak kerjasama sekarang, meeting yang seharusnya ia hadiri pun terpaksa ditunda. Baju kemeja putih polos masih melekat ditubuhnya yang berotot.

Ares tak bisa berhenti mencemaskan istrinya, kejadian tadi diapartement si bangsat Kenzo tak pernah bisa ia lupakan. Bagaimana Agnia memengang dan mengelus pipi pria itu dihadapannya. Saat Agnia mengusirnya, bahkan bisa saja wanita itu benar masih mencintai mantannya yang bodoh itu kan?

Iya masih belum move on?

Mengapa Ares tidak berpikir ke arah sana ?

Wanita makhluk paling sulit ditebak, ia tidak akan membiarkan lelakinya dengan perempuan lain sementara terkadang dirinya bebas dekat dengan pria lain.

Tapi ada juga wanita yang tidak bisa menentukan pilihan, ia terlalu tenggelam dalam memori masa lalu hingga sekalipun ia punya pasangan yang baru tetap saja masa lalu nya tidak pernah benar benar ia tinggalkan.

Ares bukan tipe pria romanpicisan sebenarnya, tapi Agnia itu istrinya. Akan beda ceritanya saat Pria itu belum menikahi Agnia.

Suara bisikan untuk membunuh Ken terus saja memenuhi pikirannya.

"Ares?"

Pria itu menoleh, terlihat pria paruhbaya duduk di sofa tepat dibelakang ia berdiri.

"Dad? Belum pulang?"

"Apa perlu dad suruh pembunuh bayaran agar kau bisa tenang?"

Ares duduk di sofa lainnya. "Maksud Daddy?"

"Si anjing itu sudah banyak membuat kekacauan dihidupmu, jadi wajar jika Daddy pun sudah geram dengannya."

Ares mulai paham kemana arah pembicaraan Ayahnya. "Dad, Agnia hilang ingatan?"

Valero terkekeh sebentar, lalu menuangkan minuman Alkohol di gelasnya. Ia tak peduli Ares menunggu jawabannya, diteguknya minuman berwarna bening itu.

"Dad ?"

Valero terkekeh pelan lagi sambil kepalanya menggeleng, lalu menatap anak sulungnya itu.

"Kau yang bodoh? Atau Daddy yang berusaha kau bodohi?"

Ares menatap Ayahnya dengan penuh tanya, apa yang dimaksudnya?

"Daddy tau ingatan Agnie sudah kembali."

"Dad, tapi—"

"Res, Daddy mengenal Agnie cukup lama, saat kalian keluar kamar bersama, dia terlihat begitu mencintaimu. Jika ingatannya belum kembali, dia akan bersikap cuek bukan malu-malu seperti kemarin."

"Agnia mencintaiku?" Ares masih berperang dengan logikanya, cinta yang seperti apa tega mengusirnya dan memilih mantan pacarnya.

"Kau meragukan istrimu?" Valero tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya ini.

"Tapi dad—" Hampir saja Ares berkata jujur tentang Agnia.

"Tapi apa?"

"Tidak, aku lupa masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan."

"Tunggu, Dad telah sepakat dengan Lord Czar akan mengadakan pesta pernikahan kalian secepatnya."

"Dad, Agnia belum sepenuhnya pulih."

"Terlalu banyak gosip yang beredar tentang Agnie. Kami tidak mau mengambil resiko itu mempengaruhi hubungan kalian."

"Itu urusanku Dad."

Valero berdiri bersedekap dada,"Ada apa denganmu? Harusnya kau senang."

"Aku ada urusan." Ares pergi begitu saja.

Ares bukannya bekerja di ruang kerjanya. Ia malah sibuk menghubungi Agnia melalui ponsel ditangannya namun tidak ada jawaban.

Bayangan istrinya bercinta dengan pria keparat itu terus menghantuinya. Akhinya Ares pergi ke suatu tempat, tepat diseberang apartement Kenzo, terdapat hotel dan disitulah Ares berdiri mengawasi menggunakan teropong.

Seperti orang bodoh yang menanti bulan purnama, lama pria itu mengamati namun tak seorangpun dilihatnya di Apartement itu.

Dimana mereka?

Hingga matahari lenyap digantikan bulan dengan cahayanya yang remang.

"Sial !" Ares mondar mandir bersedekap dada, sesekali memijat dahinya.

Ares telah menyuruh bodyguardnya untuk mencari Agnia, namun nihil jejak mereka tidak ditemukan.

"Lord." Salah satu bodyguard Ares menghampirinya.

"Ada apa?"

"Kami tidak berhasil menemukan Lady Agnie. Kami sudah cek cctv tidak ada tanda tanda Lady Agnie maupun Kenzo keluar dari apartement."

"Kau boleh pergi. Terus awasi." Ucap Ares dingin.

Sesaat setelahnya Ares kembali melihat teropong, pembuluh darah di lehernya terlihat jelas, dengan rahang yang mengetat ia melihat Agnia tengah tertawa bercengkrama dengan pria bangsat itu. Sesekali Kenzo mengusap kepala Agnia, pria keparat itu menatap Agnia seakan wanita itu miliknya.

"Arschloch!!!"

Saat itu juga Ares memerintahkan semua bodyguard nya untuk menjauhi tempat itu.
Ia pergi tanpa berniat menghampiri istrinya.

Segila itu mencintai hingga harga dirinya diinjak. Rasanya baru kemarin Ares mengawasi Agnia di rumah sakit jakarta waktu pertama kali ia melihat Agnia hingga mereka menikah sekarang. Apa yang dilakukan oleh wanitu itu?

Dia hanya terobsesi dengan perusahaannya.

Dia hanya mencintai Rizell group.

Percuma, Agnia keras kepala tak akan menuruti Ares sekalipun itu suaminya. Selesai sudah, perceraian mungkin menjadi jalan keluarnya.

Selang beberapa hari, malam itu Agnia menajamkan penglihatannya saat melihat pria tengah dinner dengan wanita sexy, bahkan hampir seluruh punggungnya terbuka karna gaunnya hanya seutas tali kecil di leher. Bagian dadanya pun terbuka seolah menggoda siapapun yang melihatnya, payudara besar yang diyakini Agnia hanya implant semata itu, menjijikan !

Pria dengan jas hitam itu santai mengunyah pasta sambil mendengarkan wanita dihadapannya mengoceh. Terlihat wanita itu sangat antusias sementara pria itu hanya menanggapi dengan sesekali anggukan kepala.

"Bastrad!! Si pelacur itu lagi!!" Agnia sangat mengingat Bella Hirisley apalagi melihat wanita itu di lift bersama Ares saat di Paris, seharusnya malam itu juga Agnia membunuh pelacur siluman itu.

Restaurant ini sepi, memang tidak sembarang orang yang bisa makan disini selain harganya yang fantastis juga untuk kalangan pejabat dan pemilik perusahaan.

Agnia menerima pesan dari Ares untuk menemuinya disini. Tapi apa yang dilihatnya? Pria itu malah dinner dengan pelacur?!!

Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menghampiri mereka? Itu akan menambah malu Agnia dan si peklacur itu akan merasa menang.

Agnia baru saja akan memutar tubuhnya untuk pergi tapi Ares menyadari keberadaannya dan mata mereka bertemu. Pria itu mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya ada apa?

Agnia tidak memperdulikan, ia melangkah dengan percaya diri menghampiri kedua manusia yang membuatnya ingin mencabik cabik orang sekarang juga.

Tbc,,

Sebentar lagi kita akan berpisah dengan pasangan ini😢

💔

Emerald EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang