Agnia sudah menutup pintu kamar mandinya menuju ke tempat tidur, malam ini terasa lelah, sepertinya dia tidak berencana begadang dulu.
Lampu kamar Agnia telah redup, padahal tadi terang, atau dia lupa?
Agnia menjatuhkan tubuhnya di kasur king size, kamar luas seperti kamar puteri kerajaan cerita dongeng saat Agnia kecil.Agnia merasakan ada sesuatu yang keras disampingnya dan itu bukan bantal gulingnya. Agnia terperanjat berdiri mencari saklar untuk menyalakan lampu.
Lampu menyala memperlihatkan seorang pria yang berbaring di kasurnya mengedipkan mata menyesuaikan cahaya sekitar.
"Ares? Ini kamarku kenapa kau disini?" Agnia melangkah mendekati Ares yang duduk disisi ranjang masih menatapnya.
Ares menarik tangan Agnia hingga jatuh dipangkuannya.
"Ini kastilku dan kau kekasihku. Tidak ada yang salah." Ekspresi datar Ares membuat Agnia membeku."Kau kan punya kamar sendiri, Lord"
"Aku mau tidur denganmu. Ayo aku sudah sangat lelah seharian." Ares membaringkan Agnia di kasur dan memeluknya. Tertidur di ceruk leher gadisnya tanpa peduli Agnia mengumpat habis-habisan.
____________________________
Agnia terlambat bangun dan tidak menemukan Ares dikamarnya lagi, Agnia telah madi dan bercermin menatap penampilannya hari ini. Gaun selutut berwarna coral, atasnya masih terbilang sopan tidak terlihat belahan namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan tonjolan aset berharganya yang menggiurkan.
Agnia menuruni tangga hanya beberapa kali berpapasan dengan para maid yang memberi tau Ares berada di lapangan golf dibelakang kastil. Ah iya hari ini weekend jelas saja Ares tidak ke kantor.
Sampai disana Agnia melihat Ares tengah bermesraan dengan wanita, tunggu, wanita? Bermesraan? dan itu? Stevy? Cih katanya tidak mau dijodohkan. Malah terlihat Stevy mengelap keringat dipelipis Ares dengan tisu ditangannya. Agnia yakin Ares melihatnya karena jarak mereka hanya beberapa meter, tapi malah Ares menarik pinggang Stevy memeluknya dari belakang seolah mengajari bermain golf.
Apa dia marah karena semalam?
Tak habis pikir Lord Evgene perajuk.
"Sayang? Kau sudah sarapan?" Suara Agnia manja membuang rasa malunya, sebenarnya dia jengah menjadi seperti jalang. Tidak pernah seorang Agnia mengemis pada pria apalagi prianya masih saja memeluk wanita sialan ini mesra.
Ares melirik Agnia lalu mengacak rambut stevy gemas.
"Kau bicara padaku?"
Agnia dengan tidak tau malunya menarik lengan Ares menjauhkan kekasihnya dari Stevy. "Iya, siapa lagi? Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku kelelahan setelah kau gempur semalaman."
Ares melepaskan cengkraman di lengannya. Menatap Agnia dengan alisnya terangkat sebelah. Bisa bisanya Agnia berani berkata begitu.
"Kau menggemaskan kalau merajuk seperti ini."
Cup
Agnia mencium pipi Ares. Pria itu masih terpaku dengan rahang mengeras.
Sedetik
Duadetik
Ares melangkah menuju Stevy, merangkulnya lagi.
Hell ?
Agnia benar-benar terlihat seperti jalang sekarang. Ingin sekali agnia mengamuk saat ini juga.
"Pergilah aku sedang menikmati waktu dengan calon tunanganku."

KAMU SEDANG MEMBACA
Emerald Eyes
Chick-LitAgnia Gayatri Purwoko, dokter yang membuat para kaum adam rela berpura-pura sakit, hanya untuk disentuh olehnya. Selalu menjadi pusat perhatian karena parasnya bagai dewi Rusia ditengah kota Jakarta. Tatapan mata emerald-nya membuat siapapun tertund...