53 - Lets Play!

8.1K 193 7
                                        

"Lord Evgene, anda disini juga?" Wanita dengan dress biru menyapa Ares dengan santainya. Namun pria itu tau mata wanita dihadapannya ini terlihat amarah terpendam.

"Lets play!" Batinnya.

Ares berdiri, membenarkan jasnya. "Anda sendiri Lady Czar?" Ares sengaja menekan dua kata terakhirnya, harusnya Agnia sudah sah dipanggil Lady Evgene. Namun karena keegoisan wanita itu semuanya rumit.

"Aku ada janji dengan kekasih ku, tapi sepertinya dia sibuk jadi aku mau pulang saja." Jawab Agnia geram.

Bella terlihat tidak senang dengan kedatangan Agnia, wanita itu menatap remeh Agnia dan memperhatikan Agnia dari wajah hingga kakinya. "Kau yang saat itu diparis bukan? Kenalkan aku Bella calon istrinya Ares maksudku Lord Evgene" bella mejulurkan tangannya angkuh.

Agnia tak berniat menjabat tangan Bella. "Oh calon istri? Kau yakin akan menjadi istri pertamanya?" Agnia tersenyum miring.

Bella terlihat bingung, mengalihkan pandangannya pada Ares, lalu kembali menatap Agnia jengkel. "Memangnya Ares sudah menikah?"

Agnia tak kuasa menahan senyumnya melihat lawannya kalah telak. "Hm tanyakan saja, katanya kau calon istrinya."

Ares bukannya panik malah terlihat santai dengan aura dingginnya yang khas."Bergabunglah Lady Czar, kau tidak keberatan kan bella?"

Dengan berat hati Bella mengiyakan.

Agnia mendekat pada Ares membelai dada kiri lalu menjalar ke bahu pria itu, bibirnya didekatkan pada telinga Ares, berbisik. "Kau tidak akan mendapatkan maaf dariku Pria bangsawan, bersenang senanglah dengan jalangmu ini."

"Silahkan, aku tidak berminat lagi padamu."

Setelahnya Agnia pergi, Ares menatap istrinya dengan tersenyum miring. Ternyata masih cemburu wanita itu padanya. Namun keputusan Ares untuk berpisah sudah final, pria itu akan melepaskan Agnia daripada memaksakan Agnia tetap menjadi istrinya.

Agnia tiba di sebuah hotel yang jauh dari pusat kota, wanita itu sengaja menjauh. Rencana nya malam ini akan memberi kejutan pada Ares. Agnia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, benda persegi panjang dengan garis dua ditengahnya.

Wanita itu sebenarnya tidak yakin dirinya hamil namun setelah memastikan berulang kali hasilnya tetap sama, garis dua jelas terlihat.

Rencananya sudah hampir selesai jika saja Ares tidak menyakitinya.

Sekarang apa yang harus diperjuangkan lagi dalam hubungannya?

Agnia membuang testpack itu ditempat sampah dikamar mandi. Agnia bertekad membesarkan anaknya sendirian saja. Wanita itu terus menangis hingga tertidur di ranjang hotel.

Cahaya menembus melalui celah jendela kamar membangunkan wanita cantik dengan bulu mata lentik. Yang pertama kali dilihatnya, pria dengan kemeja berwarna hitam duduk di sofa menyilangkan kaki menatapnya.

Agnia memastikan itu Ares?

Wanita itu mendudukkan tubuhnya bersandar di ranjang.

"Bagaimana kau bisa disini?"

"Ini hotelku." Ares sambil menghembuskan asap rokoknya.

Betapa bodohnya Agnia menginap di hotel Ares dengan mudah pria itu masuk mengganggu privasinya.

"Ada perlu apa? Sudah puas bermain dengan jalangmu?" Agnia merendahkan.

"Dia cukup hebat diranjang."

"Lalu kau belum puas juga?"

"Aku sudah memutuskan kita berpisah, kau urus perusahaanmu dan jangan campuri urusanku."

Emerald EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang