Setelah empat hari beristirahat, Bian kembali untuk masuk sekolah karena cowok itu sudah bosan selama dirumah tidak melakukan aktivitas apapun. Walaupun bundanya melarang keras agar Bian istirahat beberapa hari lagi, tapi ia tetap bersikeras untuk masuk sekolah.
Dan sekarang kedatangan Bian sambil berjalan di koridor dengan mengenakan topi hitam untuk menutupi lukanya cukup menjadi perhatian anak tunas bangsa. Mereka semua bertanya tanya mengapa cowok itu mengenakan topi hitam saat disekolah.
Sama seperti biasanya, Bian tidak akan peduli dengan orang disekitarnya yang menatap dirinya dengan bingung. Cowok itu tetap melangkahkan kakinya menuju lapangan indoor karena masih ada waktu sepuluh menit sebelum bel sekolah berbunyi.
Cowok itu baru mendongakkan kepalanya ketika menutup pintu lapangan dan melihat sahabatnya sudah berkumpul semua disana.
"Muka masih bonyok gitu masih aja sekolah." Ledek Sagara ketika melihat Bian membuka topi hitamnya. Luka dibagian wajah cowok itu beberapa masih kelihatan walaupun Bian sudah tidak menutupinya dengan plester.
"Gue gamau ketinggalan materi buat ulangan." Jawab Bian sambil duduk ditribun. Lebih tepatnya diantara Keenan dan Sagara.
Pekan depan memang akan diadakan ulangan tengah semester. Dan minggu-minggu ini semua guru pasti akan memberikan materi yang akan diberikan atau kisi-kisi ulangan. Karena tidak mau ketinggalan, Bian akhirnya memaksakan diri untuk masuk sekolah.
Keenan melirik Bian dengan sinis. "Lo gamasuk juga ga akan ketinggalan materi." Mengetahui sahabatnya ini pintar. Sebenarnya Bian bukan pintar, tapi cowok itu sangat cepat menangkap apa yang sedang dijelaskan oleh guru.
"Besok belajar bareng yuk." Ajak Danillo yang dijawab anggukan oleh mereka.
"Dirumah lo aja, Bi." Bian melirik Danillo dengan sinis. Sebenarnya ia tidak masalah, tapi cowok itu bosan berada dirumah terus.
"Yang lain aja. Ga bosen kalian dirumah gue terus?" Tolak Bian.
Keenan mendengus. "Enggak. Udah dirumah lo aja ya?" Jawab Keenan. Alasan sebenarnya Keenan ingin dirumah Bian karena rumah cowok itu tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Udah sih, Bi. Biasanya juga gapapa kalau dirumah lo." Celetuk Dimas sambil menatap Bian dengan heran.
"Sekarang kenapa-napa. Gue bosen dari kemarin ketemu rumah mulu." Bantah Bian yang membuat sahabatnya itu tersenyum geli.
Bian si anak ekstrovert ini memang tidak bisa sehari tanpa keluar rumah. Makanya saat cowok itu sakit selama empat hari, ia merasakan sangat bosan. Untungnya sahabatnya itu setiap pulang sekolah datang untuk mengunjunginya.
"Lebay lo. Udah besok di kediaman Xabian Elzavero ya kita bertemu." Ucap Keenan yang membuat Bian menatap cowok itu dengan tajam.
Baru saja ia ingin menolak ucapan Keenan. Tapi bunyi suara telefon dari ponselnya membuat cowok itu akhirnya memutuskan untuk mengambil benda pipih itu dari saku celananya.
Setelah melihat siapa yang menelefonnya, cowok itu mengalihkan pandangannya menatap sahabatnya satu persatu dan segera menjauh dari mereka.
"Kenapa, Sya?" Tanya Bian saat cowok itu sudah menempelkan ponsel pada telinganya.
"Raiden udah sadar." Jawab Sasya dengan suaranya yang pelan. Mendengar itu, Bian tersenyum senang.
"Gue tahu dari Azriel. Tadi dia bilang sama anak-anak dikelas gue kalau abangnya udah sadar." Jelas Sasya.
"Oke, thanks infonya." Bian langsung memutuskan sambungan telefonnya secara sepihak. Dengan bangganya cowok itu langsung berjalan ke arah sahabatnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
XA's Brother
Novela JuvenilXabian Elzavero, cowok yang biasa disapa Bian ini adalah ketua dari perkumpulan orang yang paling disegani disekolahnya. apalagi kalau bukan Altair crew. anak pertama yang mempunyai dendam kepada orang yang telah membunuh adik kesayangannya. dengan...
