CHAPTER 28

6.1K 557 63
                                    

Pagi ini Aurel Aurel sudah siap dengan setelan olahraganya. Gadis itu melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Pagi ini ia akan olahraga dengan berlari santai mengelilingi komplek perumahannya.

Ya Aurel, gadis itu sudah keluar dari rumah sakit 3 hari yang lalu. Awalnya abangnya, Rangga tidak mengijinkan tapi Aurel dengan sifat keras kepalanya tidak menyerah untuk membujuk Rangga. Karena dokter juga bilang kalau ia sudah sehat dan sudah bisa pulang.

Dengan segala bujuk rayuan dan rengekannya, akhirnya Rangga menyerah dan dengan terpaksa mengijinkan sang adik pulang ke rumah dengan syarat, harus istirahat di rumah selama satu Minggu dengan alasan ia masih sakit dan butuh istirahat penuh.

Awalnya Aurel ingin protes, tapi jika ia protes maka ia tidak akan di bolehkah keluar dari rumah sakit ini. Akhirnya dengan terpaksa gadis itu mengiyakan saja.

Sang mommy yang melihat wajah putrinya yang lesu dan pasrah pun akhirnya membujuk putra sulungnya untuk membiarkan adiknya istirahat selama tiga hari saja dan akhirnya Rangga menyetujuinya.

Kembali lagi pada Aurel yang kini sudah berdiri di depan pagar mansion bersiap untuk memulai olahraga paginya.

Gadis itu memasang headset pada telinga dan mulai berlari kecil mengelilingi komplek perumahannya.

💚💚💚

Jam 07.00 pagi para inti GRAVENTAS sudah berada di ruang tengah mansion keluarga Laxander

Saat ini mereka tengah asik dengan kegiatannya masing-masing. Dion dan Angkasa yang sedang bermain PS, Varo, Vando dan Kevan yang bermain game online, Geraldi dan Raditya yang sibuk dengan ponsel sendiri, dan Vano yang belum turun dari kamarnya.

"Eh, si neklam mana? Tumben gak keliatan?" Tanya Dion.

"Gak tau, dari tadi juga gue gak liat." Jawab Varo acuh.

Tiba-tiba Vano muncul dan duduk di samping Angkasa membuat pria blasteran Jepang itu terkejut.

"Ngagetin aja Lo njir, untung gue gak jantungan." Kesal Angkasa.

Sedangkan Vano hanya menghendikkan bahunya acuh dan memainkan ponselnya dengan santai tanpa mempedulikan tatapan kesal dari sahabatnya itu.

💚💚💚

Aurel berhenti berlari saat tiba di sebuah taman. Di taman ini tidak terlalu ramai hanya ada beberapa orang yang lewat dan lari pagi sepertinya.

Aurel menghampiri salah satu warung dekat taman untuk membeli minuman.

"Bu, saya beli pocari sweat-nya satu." Ucap Aurel pada pemilik warung.

"Eh, iya neng. Harganya lima ribu aja neng." Seru ibu pemilik warung.

"Ini Bu, kembaliannya ambil aja." Ucap Aurel sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.

"Terimakasih banyak atu neng." Ucap pemilik warung.

"Sama-sama."

Setelah itu Aurel menghampiri salah satu bangku taman yang kosong dan duduk di sana. Aurel membuka tutup botol pocari sweat dan meminumnya sampai setengah.

Saat Aurel mengedarkan pandangannya, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada seorang gadis, ah bukan gadis lagi mungkin yang sangat ia kenal duduk di salah satu bangku taman tak jauh darinya. Perempuan itu tidak sendirian, ia bersama seorang pria paru baya yang terlihat sekitar 45 tahunan.

Perlahan Aurel mendekati mereka secara mengendap-endap dan bersembunyi dibalik pohon dekat kedua orang itu.

Aurel membulatkan matanya saat melihat kedua orang itu berciuman dengan mesra tanpa tau tempat. Tangan perempuan itu turun dan meraba area bawah pria paru baya yang duduk bersamanya. Mereka terlihat begitu menikmati.

DIFFERENT SOULS (HIATUS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang