"Ka... mu"
Lelaki itu menautkan kedua alisnya "iya sayang ini aku, kamu kenapa? Kok kayak aneh gitu ngeliat aku" tanyanya dengan kebingungan.
Keberuntungan sedang tidak ada di pihakku, aku berusaha untuk setenang mungkin di hadapannya.
Aku menggeleng pelan menjawab pertanyaan raffi.
Raffi mengangkat tubuhku untuk berdiri "ayo kita pulang" raffi menggandengku menuju tempat parkir mobilnya.
Aku hanya bisa pasrah mengikutinya, kalau aku tolak percuma juga dia akan maksa aku dan itu membuat tontonan di lobby kantorku.kalau aku tanya langsung ke dia tentang wanita itu, apa dia mau jujur denganku akan masa lalunya?
Kalau bukan dari dia, lalu dengan siapa aku bertanya? Memikirkannya hanya membuat kepalaku pusing.aku butuh teman untuk bercerita saat ini, aku hanya manusia biasa yang masih membutuhkan seseorang untuk cari tahu ini semua.
****
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, mataku lurus ke depan atau melihat jalanan dari jendela kaca mobilnya.sesekali raffi mengajakku bicara tapi hanya aku balas dengan jawaban singkat.
Sesampainya di apartemen, aku langsung menuju kamarku.aku butuh mandi karna badanku yang sudah lengket dengan aktifitasku seharian.aku membiarkan raffi di ruang tengah, ada sorot kebingungan raffi dengan sikapku yang mendadak berubah dengannya.
Dia sempat bertanya tapi aku hanya membalas kalau aku capek dan butuh istirahat.jawaban yang masuk akal akhirnya di anggukkan oleh raffi.tapi bukan raffi namanya, dia pantang menyerah dan akan terus memberikanku pertanyaan-pertanyaan seperti detektif atau wartawan.
Selesai sudah membersihkan badanku di kamar mandi dan sekarang tinggal pakai baju lalu makan karna perutku yang sudah sangat lapar.aku lupa kalau aku belum ambil pakaianku di walk in closet samping kamarku.karna wic-ku tidak terhubung dengan pintu kamarku, jadinya aku harus keluar kamar dulu dan sedikit berjalan menuju walk in closet dan itu tentu saja melewati ruang tengah yang aku tahu ada raffi disana.
Tidak mungkin aku keluar, dengan keadaan seperti ini.ahhh.... bodoh sekali kamu ini andrea.aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku bisa lupa gini sihh....! Gumamku dalam hati.
Dengan perlahan aku buka handle pintu kamarku dan melongok ke ruang tengah melihat keberadaan raffi.semoga raffi sedang tidak ada disana atau dia terlelap.kalimat itu aku amini sendiri.
Aku celingak-celinguk, mataku melirik kanan kiri melihat keadaan ruang tengah dan beruntungnya aku tidak melihat sosok raffi disana.perlahan aku dorong pintu dengan sangat pelan agar raffi tidak mendengar dan aku tutup pintu kamarku dengan pelan juga.
Amaaan... batinku.
Aku membalikkan tubuhku dan seketika.
Bruk
"Awww....."
"RAFFI....... CABUL BANGET SIH KAMU" aku pukul dada bidang raffi yang berada di bawahku.
"Siapa yang cabul sih sayang, kamu sendiri yang nabrak aku" raffi tersenyum genit sambil menahan ketawanya dan memegang kedua lenganku.
Aku hanya diam dan berusaha bangun karna posisiku saat ini sangat memalukan dengan hanya memakai handuk yang memperlihatkan dada polosku, aku jatuh dan sial-nya aku berada di atas tubuh raffi lebih tepatnya aku menindih raffi.untung aja nih handuk nggak melorot, yang ada aku nangis sehari semalem tanpa henti gara-gara tubuh polosku terlihat oleh raffi.
Raffi menggenggam kedua lenganku erat sehingga mempersulitku untuk berdiri "raffi lepas nggak?" Aku meronta-ronta sedangkan mata raffi yang terus tidak berkedip melihat ke arah depan tepat berada dada polosku yang sedikit memperlihatkan belahan payudaraku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Tulus untuk Andrea
RomanceAndrea yang sangat sulit jatuh cinta karna ketakutannya sangat besar untuk mencintai seorang pria.dia sangat takut jatuh cinta karna dia takut patah hati, dia menginginkan cinta tulus untuknya tanpa patah hati.tapi takdir berkata lain, untuk mendapa...
