Namanya Aksa. Antariksa Geviandra, atau biasa dipanggil Ian. Aksa itu cuman panggilan sayang dari seseorang aja.
Tepat dihari Selasa saat Ian masih berusia 12 tahun, anak laki-laki itu memang sedang suka-sukanya bermain PS. Berbagai game sudah ia coba mainkan. Beberapa menit pria kecil itu akan berseru senang, beberapa menit kedepannya berdecak sebal. Tak jarang juga ia bertengkar dengan kawan sepermainannya.
Setelah puas berkutat dengan stik PS selama 2 jam, ia pun langsung kembali ke rumah. Dengan raut wajah memerah sebab kesal, pria kecil itu terbangun dari duduknya. Beranjak pergi dengan langkah gontai—Ian kalah rupanya.
Agam yang melihat sepupunya sudah seperti raksasa yang ingin mengamuk itu dengan cepat mengejar, untungnya rumah mereka memang tidak jauh. Hanya butuh beberapa langkah kecil saja.
"Ian!" Agam berteriak dari luar teras rumah berwarna hijau, tak besar namun cukup. Rumah itu rumah keluarga Ian.
Sementara Ian yang berada didalam kamar berdecak kesal "Ck!" dengan langkah malasnya, tubuh kecil itu bangkit dari kasur, menuju pintu depan untuk menemui Agam.
"Apasih teriak-teriak?! Kayak ga pernah dikasih bansos negara aja lu!" ujar Ian, pedas.
Agam yang mendengar mendelik sinis, "Enak aja! Abah gua noh juragan resto!" tegasnya, Ian mendengus.
"Lu ngapain buru-buru balik gitu sih? Ada yang nungguin lu selesai main PS padahal." Ian mengernyit, wajahnya terlihat kebingungan.
Tak lama, Agam menunjuk ke arah gadis manis yang bersembunyi dibalik tubuh kecil Agam.
"Siapa?" Ian sedikit menurunkan nada bicaranya, kasihan gadis itu sepertinya takut pada Ian.
"Manusia lah dodol, masa setan." balasnya dengan nada menyebalkan.
Ian memutar bola matanya malas. Haa... harus ekstra sabar berbicara dengan kembaran setan seperti Agam ini. "Maksud gua nama dia."
Dengan langkah santai Ian menghampiri gadis yang berada disamping juragan rental PS itu—keluarganya memang punya bisnis apa saja.
"Kamu yang mau kenalan?" Ian berujar ramah, tak enak hati melihat raut wajah gadis itu yang sudah pucat. Memangnya Ian se-menakutkan itu ya?
Agam yang mendengar nada sok manis dari Ian itu serasa ingin muntah di tempat. Sementara gadis yang tengah diajak bicara malah terlihat kebingungan—malu.
"E-eh nggak kok, dia cuman ngeledekin aku aja." jawab gadis itu menatap tajam Agam.
Ian terkekeh kecil karena tingkah gadis di depannya ini. "Diledekin kenapa?"
Mata gadis itu menatap Ian, "Nggak! Lupain aja. Aku duluan ya, bye!" kelakuannya terasa kikuk dan menjanggal, namun Ian hanya menanggapinya dengan kekehan kecil.
Tak lama, pria itu berujar. "Eh Gam, nama dia siapa?"
Agam menoleh, tatapannya menyebalkan—jahil. "Kenapa? Suka lu? Ekhem cie-cie Ian jatuh cintong nih."
Pria kecil itu berdecak sebal, "Apasih?! Jawab aja kali!"
"Dara."
***
Agustus 2021.
Hari itu Jakarta di guyur hujan deras. Jam sekolah telah usai, Ian bergegas keluar kelas menuju parkiran belakang sekolah. Sekarang pria itu sudah remaja, duduk di bangku kelas 3 SMA.
Akibat berlari-lari kecil tanpa memperhatikan sekitar, Ian tak sengaja menabrak orang. Entah efek hujan atau apa, tapi orang tersebut memang tidak kelihatan di matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)