"Heh, lo pada tau kalo abangnya Dara masuk RS? Napa kaga pada nelpon gue sih?" Gerutu Yona, menelpon teman-temannya saat berada di lampu merah.
"Woy serius? Gue ga tau sumpah, semalem gue baru sampe langsung ngebo. Ini aja gue kebangun gara-gara notif lo." Balas Anya, dari seberang panggilan.
"Kayaknya Dara panik deh, nggak sempet ngabarin kita. Yaudah, siap-siap kita ke sana, lo tau RS nya Na?" Tanya Alma.
"Gue tadi nelfon Kak Ian, katanya di RS Medika."
"Oke lah, gue langsung siap-siap. Btw kemarin lo kemana setan? Anak-anak pada panik nyariin lo sama Kak Dylan." Anya bangun dari ranjang tempat tidurnya menuju kamar mandi. Telponnya ia biarkan tetap menyala.
"Nanti gue jelasin disana, dah dulu gue mau jalan lagi." Tut, telepon terputus.
Disisi lain, Ian sedang berada di kantin Rumah Sakit. Jujur saja, ia belum makan di rumah. Ibunya hanya membuatkan 2 porsi bubur ayam, niatnya untuk Dara dan Ian.
Tapi mengetahui bahwa Bang Tama sudah sadar, mau tidak mau tentu Ian berikan bubur ayam itu. Sudahlah, lagian hanya bubur ayam saja. Ian bisa meminta ibu untuk membuatkan nya lagi.
"Aksa!" Sang pemilik nama Antariksa itu menoleh, mendapatkan Dara yang antusias berjalan ke arahnya. Ian tersenyum lebar pada gadis itu.
"Loh? Abangmu ditinggal sendirian?"
"Bang Ata abis makan langsung tidur, katanya masih sakit. Manja aja sih dia," Terlihat dari raut wajahnya, Dara begitu bahagia mengetahui Tama sudah sadar kembali.
"Kamu mau pulang dulu ngga? Aku anterin, nanti aku balik lagi jagain abang kamu. Kamu pasti capek kan? Sekalian bebersih dulu," Tawar Ian mengelus puncak kepala Dara lembut.
"Kayaknya aku ngerepotin kamu terus ya, Aksa." Balas Dara merasa tidak enak.
"Kalo direpotin nya sama kamu sih, nggak masalah." Dara yang mendengarnya hanya terkekeh geli atas ucapan Ian.
"Aksa kalo misalkan hubungan kita nggak bertahan sampe lama, kamu gimana?" Pertanyaan random dari Dara, membuat Ian mengerut kebingungan.
"Gimana ya? Mungkin aku bakalan tetep jatuh cinta sama cewek pemilik nama Aldara Revalia walaupun kita udah ngga bersama." Balas Ian kembali mengelus puncak kepala Dara dengan lembut.
Dara tersipu malu. "Kalo Antariksa selingkuh aku boleh dong marahin kamu?"
"Marahin Antariksa nya lah, kok aku?" Gurau Ian.
"Ya kan kamu Antariksa!"
***
"Kemana lo sama Yona semalem?" Tanya Yohan melihat sepupunya ini baru saja pulang.
"Ke rumah lamanya." Jawab Adylan singkat. "Lu ngapain dah disini? Pagi-pagi udah ngapel aja, suka ya lu sama gue?" Lanjut Adylan bergurau.
"Kalo iya gua suka sama cowok pun, selera gua nggak akan lo." Ucap Yohan yang langsung dihadiahkan kekehan kecil dari Dylan.
"Yona cerita semuanya ke lo?" Tanya Yohan lagi.
"Belum, gue ga mau maksa dia. Dengan dia mau cerita ke gue masalah sebutan 'Lea' itu aja gue udah ngerasa seenggaknya dia percaya sama gue meskipun sedikit." Jawab Adylan, membuang napas kasar.
"Ternyata lo udah tau. Lo mutusin buat tetep manggil itu walau lo tau sebutan 'Lea' bener-bener berat buat dia?"
Adylan menoleh, ia menunduk sesaat memikirkan jawaban yang pantas atas pertanyaan Yohan. "Gue mau buat dia berdamai sama masa lalunya, Yo. Gue ga akan biarin dia lari lagi, sekalipun itu sulit bagi dia gue bakalan tetep temenin dia sampe dia selesai."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)