20

367 18 0
                                        

Yona sudah sampai di rumah sakit sekitar 20 menit yang lalu, bersama teman-temannya juga. Tapi tidak ada siapapun di kamar rawat Abangnya Dara, hanya abangnya yang sedang tertidur pulas.

Ketiga gadis itu ada di kantin rumah sakit, sedang sarapan katanya. Padahal sekarang sudah sekitar jam 11 siang.

"Punya abang enak nggak sih rasanya?" Tanya Anya, yang masih mengunyah roti di mulutnya.

"Enak." Sahut Yona.

"Lo kan nggak punya kakak anjir, mana bisa tau. Gimana Ma? Lo punya Abang kan?" Kali ini Anya menatap ke arah Alma.

"Aku punya nya Kakak perempuan Nya, kalo saudara cowok adanya adik bukan abang." Jelas Alma, membuat Anya mengangguk-angguk mengerti.

"Kita yang anak tunggal mana ngerti, ya nggak Na?" Anya berucap.

"Gue punya Abang anjir, sejak kapan gue bilang gue anak tunggal?" Yona mendelik tajam.

"SELALU." Anya tidak berteriak, hanya menekankan kalimatnya saja.

"Masa? Yaudah, sekarang ganti. Yona punya Abang, inget itu." Ujar Yona.

Anya langsung melayangkan geplak an keras pada Yona, membuat yang di geplak meringis kesakitan. Ini orang gila ya? Pikir Yona.

"Aku sudah bilang kok sama si Ian untuk segera menjauhi Dara. Lagipula, anak itu tidak cocok sama sekali dengan anak kita."

Suara yang sangat akrab dalam telinga ketiga gadis itu. Mereka secepat mungkin mencari sumber suaranya, tidak lain tidak bukan itu orang tua Dara.

"Kak Ian suruh jauhin Dara?" Anya berucap, yang langsung mendapat bekapan dari Yona.

"Jangan keras-keras anjir." Bisik Yona, Alma juga Anya mengangguk bersamaan.

"Kalo Dara nangis-nangis lagi gimana Pa?" Tanya Mama Dara, sedikit khawatir.

"Kita pindah ke luar negeri, lagian kalau sudah terbiasa Dara juga akan lupa dengan Ian. Aku tidak akan membiarkan Dara terus berhubungan dengan pria itu. Ian bukan yang terbaik untuk Dara," Jelasnya membuat Mama Dara mengangguk.

"Bukan yang terbaik palak mu, lo yang bukan bapak terbaik iya." Yona berucap asal, membuat Anya tak bisa menahan tawanya. Sementara Alma, gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku kasian sama Dara, pasti kalo dia kehilangan Kak Ian hidupnya bakalan hancur. Dara kan se-sayang itu sama Kak Ian." Ucap Alma.

***

Dara yang baru selesai membersihkan diri, langsung turun ke bawah hendak pergi menuju rumah sakit lagi. Gadis itu belum tahu kalau Papa dan mama nya sudah kembali.

"Nona Dara! Kata Tuan dan Nyonya, nona di rumah saja." Ucap Bibi, menghentikan pergerakan langkah Dara.

"Papa Mama udah pulang bi?" Tanya Dara.

"Iya non, mereka juga baru saja pergi katanya mau jenguk tuan muda Tama." Jawab bibi, yang mendapat anggukan dari Dara.

"Bibi udah masak? Aku mau bawain Abang makanan, Papa Mama pasti nggak minta itu kan? Aku mau kesana aja bi, jagain Abang." Ucap Dara.

"Oh iya maaf non, bibi kelupaan buat kasih makanan tuan muda ke tuan dan nyonya." Ujarnya.

"Bukan salah bibi kok, ya udah aku tunggu di kamar ya kalo udah jadi langsung panggil aja."

Dara kembali menaiki tangga ke arah kamarnya. Sekitar 20 menit ia menunggu bibi mempersiapkan makanan untuk Tama. Gadis itu kemudian pergi dengan menaiki ojol. Mengingat, Dara tak punya supir pribadi.

Jalanan terlihat ramai, tidak ada satu hari pun tanpa macet di Jakarta. Gadis itu terus mengelap keringatnya yang sedari tadi mengucur dikarenakan panas matahari yang sangat terik.

Ya tidak heran juga, lagian ini sudah hampir jam 12 tepat. Dibalik helm itu, Dara berdecak kesal mengapa tadi ia tidak pesan taksi saja ketimbang ojek?

"Masih lama ya pak?" Tanya Dara pada abang ojol yang menerima pesanan nya ini.

"Lumayan panjang macetnya dek," Ucapnya.

Jika Dara turun disini, ia harus berjalan jauh sekali. Daripada berjalan lebih baik ia menunggu saja sampai macetnya berkurang.

"Ian, motor kamu lebih enak dinaikin daripada motor Dylan ya." Suara yang familiar masuk pada telinga Dara, membuatnya langsung menoleh dan mendapati Ian juga Naya yang sedang berboncengan.

"Iya." Ian berujar singkat, malas berbicara dengan Naya lebih tepatnya. "Ini ke rumah sakit kan? Jangan bikin gue bolak balik." Ujar Ian.

"Iya bener, aku mau nemenin ibu." Ucap Naya, yang dibalas anggukan oleh Ian.

Lengan Naya berpindah menjadi memeluk Ian, Ian menggeliat mencoba melepaskan pelukan Naya tetapi gadis itu mencengkeram perutnya dengan erat.

Jujur saja, ingin Ian melakukan hal kasar pada gadis ini. Tapi ia seorang wanita, bagaimana Ian bisa memukul atau menonjoknya? Dengan pasrah, Ian hanya terdiam kesal.

"Aku yakin kamu nggak selingkuh Sa, tapi tetep aja hati aku sakit liat kamu dipeluk orang lain." Dara berucap dalam hatinya, ia langsung mengambil ponsel dan menelpon Ian saat itu juga.

Getar telepon yang berada di saku celana milik Ian terasa. Pemiliknya langsung melihat siapa yang menelponnya. Itu Dara, dengan cepat Ian langsung menyelipkan ponselnya di antara helm yang ia pakai.

"Halo Ra?"

"Aksa, kalo hati aku sakit aku boleh marah ke kamu?" Tanya Dara tiba-tiba.

"Maksud kamu? Siapa yang nyakitin kamu Ra?" Tanya Ian, panik.

"Kamu, kamu yang nyakitin aku." Ian terkejut,

"Aku kenapa? Aku ngelakuin apa sampe bisa bikin kamu sakit?" Tanya Ian, berusaha tenang.

"Kamu dipeluk cewek lain, aku nggak suka." Saat itu juga Ian langsung menoleh ke arah sana sini untuk mencari keberadaan Dara.

Dara menatap sendu ke arah Ian, air matanya sesekali menetes tetapi langsung dihapus oleh pemiliknya. Ian menggeleng pelan, berusaha melepaskan pelukan Naya lagi dari pinggangnya.

"Lepas!" Ian sedikit berteriak, membuat Naya menoleh bingung dan melepaskan pelukannya.

"Kalo nggak mau gue turunin disini, jangan pernah kelewat batas Naya." Tekan Ian, Naya yang mendengar itu rasanya menyeramkan.

tbc.

haii!! aku benar-benar ngga nyangka bisa sampe 2k readers!! makasih banyak buat kalian semua yang masih baca ceritaku, jaga kesehatan terus, ya!! lots of love from this little squid🐙💗💗💗

Jangan lupa follow
tiktoknya : cumicumipurple 👇👇

Jangan lupa followtiktoknya : cumicumipurple 👇👇

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

see you on the next part!! 💗💗

ANTARIKSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang