"Yona kemana sih?" Dara bergumam.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Apa Yona tidak mendapat taksi? Atau ojek online tidak ada yang mau menerima orderannya? Ah tapi rasanya tidak mungkin. Dara terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Ada rasa menyesal juga telah meninggalkan gadis itu.
Tapi ini juga bukan salahnya. Yona sendiri yang mengiyakan ajakan Kak Ian. Tapi tetap saja, gadis itu gelisah karena merasa dirinya juga ikut andil dalam keterlambatan Yona pagi ini.
"Selamat pagi anak-anak, kabar baik untuk kalian semua karena hari ini Bapak tidak bisa mengajar dikarenakan ada urusan pribadi yang mendadak. Bapak tidak perlu meminta maaf kan? Kalian pasti senang." jelas Pak Adi, nadanya meledek.
"Nggak pak! Kita sedih loh nggak bisa belajar..." ucap Satria, anak paling ribut di kelas yang duduk di bangku paling belakang.
"Sedih? Yakin nih? Yaudah, bapak kasih tugas aja mau?"
Semua menggeleng secara bersamaan. Diiringi juga dengan teriakan kata tidak yang serempak. Bahkan Satria yang tadi menjawab pun ikut berteriak.
"Yasudah, tapi jangan ada keributan. Bapak tinggal ya," Pak Adi meninggalkan kelas.
Pak Adirahman itu bisa dibilang merupakan guru terfavorit. Tidak hanya bagi kelas 10 MIPA 2 saja. Tapi bagi satu sekolah.
Cara mengajarnya yang tidak terlalu formal, dan sikapnya yang bisa dengan mudah mengatur murid-murid bandel tanpa harus melakukan kekerasan itu... keren banget deh! Walau memang terkadang image nya terlihat buruk karena sering meninggalkan kelas dimata para guru.
Tetapi, sebenarnya Pak Adi memang mempunyai anak yang sakit dan ia harus sering bolak-balik RS untuk menjaga anak semata wayangnya itu dikarenakan istrinya sudah tiada.
"Ra, Yona nggak masuk ya?"
Cewek berambut hitam pendek yang sedikit bergelombang itu menghampiri Dara yang masih sibuk dengan ponselnya. Gadis itu bernama lengkap Liara Almahira atau lebih akrab disapa Alma.
"Dia berangkat kok. Tadi pagi udah siap-siap." ucapnya yang masih berusaha menelpon Yona.
"Lah, terus sekarang tu anak kemana?" Anya mulai menghampiri mereka berdua.
Kanya Tamara, salah satu sahabat Dara yang memiliki sifat ceplas-ceplos berbanding dengan Alma yang pendiam.
"Gue juga nggak tau, apa mungkin dia kejebak macet ya?" Dara sedikit mengerutkan keningnya.
"Coba kita cek di lapangan. Kalo telat, Yona pasti ada disana. Dia pasti kena hukuman kan?" usul Alma yang mendapat anggukan serempak dari kedua sahabatnya.
"Yaudah ayo!"
***
Sementara itu, Ian sedang berada di kantin. Tempat terbaik untuk bolos pelajaran matematika. Ian sedikit malas jika sudah membahas tentang angka. Menurutnya itu rumit, kecuali uang.
Jika bolos sendiri, tentu tidak asik. Mereka bolos bersama, hanya teman-teman satu perkumpulan Ian saja sebenarnya. Tidak satu kelas. Hanya ada Ian, Agam, Andra, Yohan, dan ya harusnya Dylan kw itu ada disini.
Dia juga tidak masuk kelas. Sedang sibuk berjemur ditengah-tengah lapangan bersama Ayang Lea. Tapi Ian dan teman-temannya itu masih belum tahu keberadaan Adylan. Mereka pikir, Adylan bolos bersama pacarnya.
"Heh si Adylan kemana?"
Mereka berpikir dalam hati masing-masing. Beberapa detik kemudian semuanya menggelengkan kepala secara bersamaan. Tanda jawaban tidak tahu dari pertanyaan Agam tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)