Bandung, 30 September
"Ini tempat soto nya?" Tanya Adylan, dan Yona mengangguk.
"Alhamdulilah masih ada." Jawab Yona, yang kemudian memasuki warung makan dipinggir jalan itu.
"Ternyata lo suka makan di pinggir jalan gini ya? Gue kira, lebih suka di cafe atau restoran?"
"Gue dulu suka jalan-jalan sama bang Leo, terus kita pasti mampir ke sana sini. Biasanya sih, kalo di resto itu pas ada acara makan sama orang tua gue aja. Padahal enak makan dipinggiran gini, kalo kata gue."
Yona juga Adylan berbincang-bincang sembari menunggu Soto pesanannya jadi. Kala itu, mereka tahu bahwa sepertinya perpisahan bukanlah hal yang harus mereka takutkan.
Perpisahan yang pasti akan terjadi diantara keduanya. Tetapi bersikap biasa seperti ini, rasanya lebih baik dibandingkan harus menjauhi satu sama lain.
Kurang dari 15 menit, soto ayam pesanan mereka disajikan. Adylan mulai melahap makanan yang ada di meja nya itu, sementara Yona ia masih menatap sendu pada kuah soto dihadapannya.
"Sotonya sekarang nggak tumpah, ya kan Lan?" Tanya Yona, pertanyaannya membuat kegiatan makan Adylan terhenti.
"Iya, makan yang banyak Lea." Ujar Adylan, mengelus surai hitam ke abu-abu an milik gadis itu.
Adylan masih ingat, semua dialog yang Yona katakan saat menceritakan kejadian masa lalunya dengan Leo. Mungkin terdengar panjang lebar, tapi ia tahu bahwa kenangan itu mana mungkin bisa Yona lupakan.
Setidaknya, Adylan sangat bersyukur dirinya bisa membantu Yona untuk berdamai dengan segalanya. Selesai sudah peran Dylan dalam hidup gadis itu, namun saat ini dirinya menginginkan hal lain.
Hal yang tak mungkin terjadi, yaitu Yona menjadi miliknya untuk selamanya.
"Habis ini mau ke rumah ku nggak?" Ucap Yona, disela kegiatan makannya.
"Everything you want."
Yona tersenyum lebar pada Dylan. Keduanya memakan soto dengan lahap, setelah selesai barulah mereka pergi menuju rumah Yona yang jaraknya tidak jauh dari sana.
"Lan, sini deh liat." Ucap Yona, menyuruh pria itu masuk ke kamar Leo.
"Aku mau kasih ini, ini jam tangan kesayangan bang Leo. Untung aja, waktu hari terakhirnya nggak dia bawa. Kayaknya dia sesayang itu sampe nggak mau jam ini rusak ya?"
"Iya, Lea. Itu juga alasan dia untuk nyuruh kamu tetep di mobil, tapi ini serius nggak papa?" Tanya Dylan merasa tidak enak.
"Kamu nggak suka ya? Kalo gitu gapapa lain kali, aku beliin sesuatu buat tanda terimakasih."
"Bukan nggak suka, Le. Ini kan barang berharga, aku cuman nanya untuk mastiin apa kamu bener-bener mau kasih jam ini ke aku?" Ujarnya.
"I Y A. Kalo nggak serius ngapain bilang, ya kan?"
"Kamu suka bercanda."
"Emang iya? Kalau gitu, ini serius."
Yona tersenyum menampakkan gigi rapihnya, yang bagi Dylan itu terlihat menggemaskan. Adylan mencubit pipi gadis itu gemas, kegiatannya terhenti karena tiba-tiba handphone nya bergetar.
"Halo?" Ucap Adylan, melihat nama dikontaknya adalah Yoyo.
"Dimana lo? Balik, anter Ian pulang Lan."
"Hah? Ian udah dibolehin pulang?" Adylan terlihat antusias, begitu juga Yona yang mendengarnya.
"Pulang ke tuhannya. Cepetan, lo nggak mau ketinggalan buat anterin dia istirahat buat yang terakhir kalinya 'kan?"
"Yo, jangan bercanda."
"Gila aja! Lo tau gua orangnya gimana, dah dulu banyak yang harus diurus."
"Yo, masa ian-"
Sebelum Adylan melanjutkan kalimatnya, Yohan sudah menutup panggilan teleponnya terlebih dahulu. Seketika, raut wajah pria itu berubah 360° membuat Yona yang melihatnya ikutan panik.
"Kak Ian kenapa, Lan?" Tanya Yona.
"Pulang." Jawab Adylan, suaranya bergetar.
Yona yang langsung memahami situasi tersebut langsung memeluk tubuh Adylan yang lebih tinggi darinya.
Sial, jika sudah seperti ini bagaimana perasaannya akan terkontrol? Adylan merasakan rasa sakit yang begitu dalam dihatinya. Sahabatnya telah berpulang, bahkan secepat itu rasanya.
Menatap kosong. "Le, kasih tau gue kalo ini cuma mimpi."
"Ini kenyataan, Dylan."
"Nggak mungkin, mana mungkin Ian ninggalin kita semua." Ucapnya menggelengkan kepala.
"Satu persatu, semua orang akan meninggalkan kita Dylan." Yona mengelus bahu pria yang biasanya memeluk tubuh gadis itu erat. Kali ini kebalikannya, Yona yang mendekap tubuh Adylan sementara Adylan hanya menenggelamkan wajahnya pada bahu Yona.
Pria itu tidak menangis, hanya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sekarang ini. Rasanya begitu tiba-tiba untuknya.
***
"Kita ke Perancis sekarang." Ucap Papa Dara, kepada Mama juga Dara yang masih lemas.
Dara menggeleng. "Aku harus bangunin Aksa."
Gadis itu langsung bangun dan beranjak pergi jika saja tidak ditahan oleh tangan kekar milik ayahnya. Dara menatap nyalang, jika bukan karena Papanya mungkin Ian masih hidup. Pikir Dara.
"Cukup Pa, Dara nggak akan mau dengerin perkataan Papa lagi." Ucap Dara mengehempaskan lengan Papanya yang mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"HENTIKAN DARA!!"
"PAPA YANG HENTIKAN!" Kali ini bukan Dara maupun Tama yang berteriak, melainkan Mama.
Baru kali ini Dara mendengar Mamanya berteriak sekeras itu. Dara menatap Mamanya yang sudah menangis sedari tadi.
"Stop, kumohon. Tolong, biarkan Dara memilih. Apakah kamu tidak pernah mau Dara bahagia? Bahkan sekarang, saat pria yang dicintainya tiada apakah kamu tetap ingin menghalanginya? Cukup, jangan lakukan hal ini lagi. Kita sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuk Tama maupun Dara, setidaknya sebelum terlambat mari memperbaiki segalanya." Ucap Mama Dara, menggenggam jemari suaminya lembut.
Dara tidak menyangka jika Mama nya akan membela dirinya. Tapi gadis itu juga berterimakasih karena dukungan dari seseorang sangat ia butuhkan saat ini.
"Ma, tapi masa depan Dara?" Nada suaranya merendah.
"Tidak semua kebahagiaan datang dengan uang Pa, ingat saat kita masih sebuah keluarga kecil yang bahagia? Lebih banyak waktu untuk bersama, dan mendekatkan diri satu sama lain." Ucapnya, mengingat masa lalu.
"Biarkan ya Pa? Biarkan Dara mengantarkan pria yang ia cintai untuk terakhir kalinya."
Menghela napas kasar. "Baiklah."
***
haii, hehe mampir sc yuk?
jangan lupa vote, komen dan follow ya-!!
okay, see you on the next part!!🐙💗
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)