8

525 25 0
                                        

"Ra!"

"Maaf ya Kak, lama." Dara menghampiri pria itu.

"Iya nggak papa, mau makan disini?" tanya Ian santai.

"Iya hehe, kayaknya lebih enak aja sih." jawabnya. Padahal bukan itu alasan Dara menghampiri Ian disini. Namun Dara juga masih belum berani untuk terbuka sepenuhnya kepada pria itu.

Sembari menunggu pesanan dibuat, keduanya terdiam selama beberapa saat. Tak lama setelah itu pelayan datang dan memberikan pesanan yang sudah mereka pesan tadi.

"Eh? Kakak nggak beli juga?" tanya Dara yang hanya melihat satu mangkuk pesanan diatas meja.

"Aku nggak suka seblak, Ra." Ian berkata jujur sembari tersenyum kikuk.

Pria itu sempat mencobanya saat Lia meminta ia mengantarnya ke tempat seblak langganannya. Tetapi tak seperti dugaan, rasanya terlalu asin untuk Ian sampai ia harus memuntahkannya kembali. Sejak saat itu, Ian tidak pernah mau mencoba seblak lagi.

"Ih kenapa? Enak loh padahal! Cicipin dulu deh," gadis itu menyendok beberapa seafood yang ada didalam seblak beserta kuahnya.

Ian sedikit bingung untuk menolak, "Kamu aja deh ya. Aku nggak usah." katanya.

"Yah... nggak enak dong kalo gitu. Masa aku makan sendiri?"

"Ini aku temenin, Ra. Even if aku nggak makan seblaknya pun, aku akan tetep nungguin kamu sampe selesai makan." jelas Ian, tersenyum hangat.

"Tapi nanti kakak bosen nggak sih liatin aku makan doang?"

"Mana mungkin! Jangankan cuma sekedar liatin kamu makan, kalo kamu suruh aku temenin kamu sampe maut memisahkan juga aku sanggup!" balas pria itu bersemangat.

Haa... dasar anak muda.

Dara tertawa keras, "DASAR!"

***

"Ini Yona lama banget sih," ujar Anya yang sedari tadi masih berada di depan rumah Dara.

"Coba gue telpon ya." balas Alma.

Anya mengangguk.

"Halo? Yona?"

"Iya?"

"Kamu dimana?"

"Sebentar lagi gue nyampe kok."

"Cepetan ya,"

"Iya."

Alma mematikan telepon nya.

"Bentar lagi katanya."

Sesaat setelah itu, orang tua Dara menghampiri mereka. Anya sedikit takut melihat keduanya berjalan menuju ke arahnya. Dengan langkah gontai, Papa Dara berdiri dihadapan Anya dan juga Alma.

"Kalian teman-teman Dara kan?" Anya dan Alma saling menatap satu sama lain.

"Iya, Om." keduanya mengangguk.

"Dimana Dara?" Nadanya terdengar tegas, membuat atmosfer disekitar mereka terasa mencekik.

"Dia lagi ke luar, Om." Alma yang menjawab. Terdengar bahwa ada sedikit rasa takut dari getaran suaranya.

"Saya tau, tapi dimana tepatnya?"

"Kami nggak tau, Om." kali ini Anya yang menjawab.

"Jangan berbohong. Asal kalian tahu ya, Dara sebenarnya tidak butuh teman seperti kalian. Memangnya kalian anak siapa? Sudah berapa cabang bisnis nya?" Anya dan juga Alma terdiam.

ANTARIKSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang