6

627 23 0
                                        

Matahari sangat terik kala itu, tidak heran karena memang saat ini pukul 1 siang. Ian mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Membawa seblak milik Dara.

Sepanjang perjalanan, Ian hanya tersenyum memikirkan kejadian di taman belakang sekolah tadi. Terkadang jika dipikir-pikir, cukup memalukan juga untuknya.

"Kagak beres nih gua," Ian mengusap wajah nya pelan.

Ia juga sebetulnya merasa kalau pengungkapan cintanya itu terlalu tiba-tiba. Bahkan sebetulnya pria itu pun tidak punya maksud untuk menyatakan cintanya hari ini. Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

***

"Oh iya mah, ini Alma. Temen aku. Ada satu lagi diatas, namanya Anya tapi dia lagi di kamar mandi. Mereka mau nginep disini, boleh kan?" ujar Dara lembut.

Wanita berusia sekitar 30-an itu tersenyum tipis. Tetapi tatapan matanya tak bisa bohong kalau dirinya tak menyukai teman anak gadisnya ini. Dengan cepat, lengan wanita itu menarik Dara untuk menjauh sedikit.

"Sayang, mama kan udah bilang jangan sembarangan bawa masuk orang asing ke rumah." bisiknya kepada Dara, gadis itu terlihat sebal. Siapa yang orang asing? Alma kan teman baiknya!

"Dia temen aku Ma, bukan orang asing." tekan Dara, tatapannya terasa geram.

"Iya Mama tau, tapi kan ga ada jaminan juga dia nggak akan macem-macem disini. Kamu harus hati-hati sayang," Dara tak menghiraukan, gadis itu menatap datar sembari menahan amarahnya.

Dara kesal, sebab Mama nya itu bahkan tidak pernah sekalipun bertanya tentang teman-temannya. Atau tentang sekolahnya, tetapi dengan mudahnya ia malah berpendapat seperti itu.

"Kalo aku marah, apa mungkin mama bakalan ngerti? Kalo aku maksa, mama pasti bakalan marah. Terus, aku harus ngapain?" Dara bergumam dalam hatinya.

Sejak kecil, Dara tidak pernah bisa membuat keputusannya sendiri. Ia selalu tertekan dengan pendapat-pendapat yang ada di sekelilingnya.

Mama bilang seperti ini, Papa bilang seperti itu. Orang lain berpendapat yang berbeda lagi, dan itu selalu membuatnya bingung. Akankah ia harus mengikuti ini atau itu?

Dan alhasil, dia hanya dapat mengikuti keputusan yang orang tuanya ambil. Dara tidak benci pada mereka hanya saja jika boleh, Dara ingin sekali orang tuanya itu mengerti apa yang dirinya rasakan. Sekali saja.

"Tapi Ma, dia udah ke sini." ucap Dara setelah sekian lama bertarung dengan pikirannya sendiri.

"Yaudah kali ini Mama izinin. Tapi lain kali, kamu harus minta izin Mama dulu." jelasnya.

Dara mengangguk—walaupun hatinya tak demikian—yang kemudian langsung membawa Alma untuk naik ke kamarnya. Alma yang sedari tadi hanya memperhatikan, menatap sendu ke arah Dara. Tampak sangat jelas bahwa gadis itu menyembunyikan segalanya.

Alma mengusap pundak Dara pelan, tersenyum lebar sehingga gadis itu merasa hangat di buatnya. Bisa dibilang, Alma itu seperti sosok ibu bagi teman-temannya.

Karena hanya gadis itu yang bisa berpikir dewasa dan tenang bahkan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Orang tuanya telah sangat berhasil mendidik Alma menjadi pribadi yang seperti ini.

Mereka selalu memberi kebebasan pada Alma untuk memilih. Jika itu salah, maka mereka akan memberi penjelasan mengapa hal itu tidak diperbolehkan.

Selagi benar, orang tua nya tak pernah berkomentar apapun. Mereka hanya mendukung dan memberi pengaruh positif agar anaknya itu dapat berkembang menjadi lebih baik.

***

"Gua boleh masuk?" tanya Yohan merasa canggung.

ANTARIKSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang