Dara tersenyum mengingat kejadian di taman tadi. Entah apa yang ia mimpikan semalam, sepertinya hari ini begitu baik untuknya.
"Ra! Cie... ada apa nih?"
Yona memasuki kelas dengan gelagat songongnya. Dara yang melihat gadis itu, langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Gue baru tau deh nama Kak Ian itu Antariksa. Jauh bet ya." tuturnya, Dara terkekeh pelan.
"Gapapa namanya jauh, yang penting dia nya jangan." ujarnya menoleh kepada Yona.
"IDIH!"
"Hehehe. Eh tapi gue kepikiran deh, Na. Kalo gue panggil Aksa, dia mau ga ya? Maksudnya biar beda gitu..." tanya Dara malu-malu.
"Cie cie panggilan kesayangan." Yona tersenyum jahil menggoda gadis itu.
"Iya, kaya panggilan Kak Dylan ke elo. Ayang Lea. Kiw kiw."
"TAIK LO!" Dara tertawa keras.
Yona tak berkata apapun lagi. Gadis itu bukan marah, tetapi ia sedang mengaduk-aduk isi tasnya. Entah sedang mencari apa.
Keduanya hening. Dara berpikir sejenak, tapi apakah tidak masalah jika ia memanggil seperti itu pada Kak Ian? Dia ingin, tapi gengsi. Bagaimana cara mengatakannya? Jika Kak Ian marah bagaimana? Dara selalu overthinking.
"Tapi ya Na, dia kayaknya tertarik deh sama gue." ucap Dara memecah keheningan. Yona yang mendengar langsung mengangkat kepalanya sembari mengeluarkan permen dari dalam tas nya.
"HAH?! TIBA-TIBA?! APA? KENAPA? GIMANA? KASIH TAU GUE SEKARANGG JUGAA!!!" teriak gadis itu membuat semua mata menoleh.
Yona tak menghiraukan, pokoknya yang paling penting sekarang adalah cerita Dara!
"Syuttt! Bisa jangan berisik nggak sih?" ujarnya membungkam mulut teman sebangkunya itu.
Alma dan Anya yang melihatnya keheranan sehingga menepuk bahu Dara dari belakang. "Apaan dah?" tanya Anya.
"Kata Dara Kak Ian dah naksir dia jir!" ucap Yona lagi, cukup keras tapi sepertinya tidak se-melengking tadi.
"SUMPAH?!" semuanya menoleh ke arah mereka, kali ini bukan suara Yona melainkan Alma dan juga Anya yang sama terkejutnya.
"Gimana eh ceritanya?" tanya Alma, Dara tersenyum malu. "Ya gitu deh,"
"AH ELAH!" Yona dan Anya berdecak sebal bersamaan. Sementara Dara malah terkekeh gemas melihat tingkah teman-temannya.
Tetapi ya sedikit sulit juga untuk menceritakan hal-hal manis yang Kak Ian katakan padanya kepada teman-temannya kan? Ia terlampau malu dan juga senang untuk menceritakan hal itu. Dara sudah menyimpan perasaannya sejak lama. Dan selama itu pula Dara menyimpannya dengan baik, semenjak ia masih berada di bangku SD.
"Setiba-tiba itu, Ra?" Tanya Yona, tidak menyangka.
"Gue juga nggak ngerti, Na."
***
Juni, 2013.
"Lang! Gilang!"
Hari itu Ian mengunjungi rumah salah satu temannya. Tidak ketinggalan Agam, yang bisa dibilang sendal jepitnya.
"Sebentar, Yan!" Gilang memakai sarungnya.
Mereka hendak menuju masjid untuk sholat Maghrib. Dara yang pada saat itu sedang menginap di rumah neneknya, atau mungkin bisa dikatakan rumah Gilang juga sebenarnya, terlihat sedikit panik melihat Ian yang ada di depan rumah.
Dara sedang bermain ponsel pada saat itu, bersama teman kecilnya bernama Ayya. Ian hanya tersenyum pada Dara sementara gadis itu bahkan sudah tidak bisa mengondisikan detak jantungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)