Gerimis kecil membasahi tanah. Ian melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Pria itu bergegas pergi dari Waryun, memakai jaketnya dan langsung membayar gorengan juga es teh yang sudah ia habiskan tadi.
"Gam, lo balik nggak?" tanya Ian sebelum menyalakan motor.
"Sekarang? Lo duluan aja lah, gua nanti." jawab Agam yang masih mengunyah bakwan goreng dengan lahap. Ian mengangguk menanggapi.
Belum sempat pria itu keluar dari Waryun, Andra mencegahnya. "Eh, Yan! Gue nebeng bisa kali ya." katanya, tersenyum bodoh.
"Rumah lo sama gua nggak se-arah bego."
"Yaelah, ntar lo tinggal puter balik aja." pria itu berkata enteng.
"Yaelah, lo tinggal pake motor sendiri aja." balas Ian, meledek Andra.
Dengan cepat pria itu langsung bergegas menyalakan mesin motornya. Andra tidak jadi ikut, mungkin nanti dia akan jalan kaki saja. Hahaha. Ian melambaikan tangan—berpamitan.
"Duluan!"
"Yo! Tiati!"
***
Ian menelusuri jalanan malam yang cukup gelap, tetapi tidak sepi. Banyak orang yang masih berlari-lari kecil untuk meneduh di warung, atau para pedagang yang masih berjualan di trotoar jalan dengan hanya mengandalkan payung miliknya.
Ian tersenyum kecil. Pedagang-pedagang itu, serta makanan yang dijual mereka mengingatkan Ian pada saat masa kecilnya dulu. Dulu, pria itu suka berkumpul di sekitar sini, sekadar membeli jajanan, atau duduk di Waryun sembari memainkan game dengan teman-temannya dulu, juga Dara.
Rumahnya dan Dara memang sedikit jauh. Tetapi tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan sepeda motor. Namun keduanya hanya bertemu jika Dara sedang bermain di rumah neneknya saja. Karena apa juga alasan Ian jika ingin menemui Dara di rumahnya?
Ian sebenarnya cukup bingung dengan perasaannya sendiri. Pria itu masih tidak tahu apakah ia menyukainya atau tidak. Tetapi ia juga tidak bisa mengelak kalau ia selalu merasa senang saat mereka bertemu. Keduanya memang jarang berbalas pesan, apalagi bertelepon. Biasanya jika ada perlu saja—seperti tadi.
Agam pernah berkata pada Ian, bahwa Dara itu sebenarnya menyukainya. Hanya saja seperti cewek pada umumnya, dia tidak berani mengungkapkan duluan. Tetapi Ian juga bingung apakah pria itu benar-benar menyukainya, atau hanya sekadar perasaan nyaman saja?
Ian bukan laki-laki brengsek seperti Adylan. Yang sekarang saja memiliki 3 pacar dari kelas yang berbeda. Anehnya, semua wanita itu juga tidak keberatan jika diselingkuhi.
Nah, Ian tidak ingin seperti Adylan. Dia ingin memiliki satu wanita yang membuatnya berhenti untuk mencari lagi. Membuat Ian mencintainya tanpa alasan, dan menjadikannya alasan mengapa dirinya bahagia.
Mantan-mantannya juga banyak. Tapi nyatanya, tidak ada yang dapat membuat Ian berhenti. Untuk saat ini, tidak ada gebetan baru. Hanya perasaan ambigu kepada gadis itu.
"Adylan! Lan!" Ian berteriak, melihat motor Ninja Kawasaki berwarna hitam lewat dihadapannya. Adylan berhenti mendadak. Pria itu membuka helmnya, menampakkan paras rupawan yang tegas dan berwibawa.
"Ian? Napa?" Dylan bertanya dengan cepat.
"Mau kemana lo? Rumah lo kan nggak ke arah situ." jawab Ian heran.
"Ngawal Lea, mau ke rumah Dara katanya." Kali ini Ian terkekeh bukan main. Tidak biasanya Dylan seperti ini. Dia biasanya malas sekali mengejar-ngejar seorang wanita.
Bahkan jika dia menyukai seseorang juga, dia tidak akan mengejarnya. Paling-paling, dia hanya bilang suka lalu sudah. Tidak ada drama seperti ini. Hanya Ayang Lea yang diperjuangkan olehnya. Hahaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIKSA [END]
RomanceSudah End ✓ [Proses Revisi] [Alangkah baiknya follow dulu sebelum membaca] ⚠️ FICTION!! ⚠️ . . . "Nama aku aja yang jauh, kamu jangan." - Antariksa. "Kita udah terlanjur jauh, Aksa." - Aldara. Siapa yang harus disalahkan ketika cinta dan restu ora...
![ANTARIKSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/287204800-64-k766198.jpg)