5

684 28 1
                                        

Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa hari ini semua mata pelajaran telah usai. Dara membereskan buku-bukunya. Juga membawa tas Yona yang sampai saat ini gadis itu belum kembali juga.

"Yona dihukum lagi?" tanya Anya sembari berjalan keluar kelas.

"Iya, kayaknya dia ditambah hukuman gara-gara tadi ninggalin lapangan gitu aja." jawab Dara.

"Kita mau pulang bareng? Kayaknya malem ini gue bisa nginep di rumah lo deh, Ra." Anya tertawa senang.

"Boleh-boleh. Gue seneng banget, kalo lo gimana Ma?" tanya Dara melirik ke arah Alma yang berada tepat di sampingnya.

"Boleh aja, lagian besok libur. Tapi, aku pulang dulu ambil baju ya. Jadi nggak bisa pulang bareng." ujar Alma yang mendapat anggukan dari Dara.

Gadis itu tersenyum senang. Akhirnya, ia tidak akan merasa kesepian lagi. Kalaupun Abangnya akan pulang, dia tidak peduli. Lagipula di keluarganya memang tidak ada yang peduli akan perasannya selama ini.

"Le, lo abis ngomong apa aja sama Yohan?" tanya Adylan menghampiri Yona yang terlihat pucat.

"E-enggak, gue balik duluan ya." jawabnya, yang langsung bergegas menuju kelas untuk mengambil barang-barang miliknya.

Adylan hanya menatap kepergian gadis itu. Setelah melihat Yona berjalan menaiki tangga, dirinya langsung pergi mencari keberadaan Yohan. Entah apakah hanya perasaan nya saja, tapi sepertinya ada yang mereka sembunyikan.

***

"Dara mana ya?" Ian menunggu gadis itu di depan parkiran.

"Wih, belum pulang nih! Bareng dong." Naya menepuk bahu Ian pelan.

"Lagi nungguin cewek gua."

"Eh, lo udah ada cewek? Gue baru tau."

"Lu nggak bareng Adylan?" tanya Ian.

Naya itu, pacar Adylan. Yang kedua setelah Farah lebih tepatnya. Naya juga memacari Adylan hanya karena ingin dikenal banyak orang. Sebenarnya, gadis itu lebih mengincar Ian dari dulu.

"Kayaknya gue mau putus aja deh, Yan. Tadi Gita baru aja diputusin, katanya juga tadi Dylan gandeng cewek lain. Gue udah mau serius Yan," jelas Naya tersenyum.

"Baguslah, walaupun si Adylan temen gua tapi ya lu jangan mau juga jadi yang kedua kayak gitu."

"Btw, cewek lo dari kelas apa nih? Kenalin sama gue bisa dong,"

"Kayaknya nggak dulu deh, dia masih malu. Nanti kalo dia udah nyaman gua publish dah."

"Lo pengertian banget ya, Dylan mana pernah. Yang ada nyari cabang terus." Naya memutar bola matanya malas.

"Haha, salah lu juga mau sama orang brengsek kayak dia. Kan lu sendiri juga udah tau kalo lu cuman selingkuhannya, kenapa masih mau?" sarkas pria itu.

Adylan salah, jelas salah besar. Tetapi Naya juga punya pilihan. Sebab Naya tahu betul saat itu Adylan sudah berpacaran dengan Farah, tetapi karena ia memang hanya ingin numpang tenar jadi dia tetap mau dijadikan yang kedua.

"Eh? Ya soalnya dia baik sih Yan, royal, suka beliin gue apa aja. Cuman ya kayak gitu, nggak bisa setia." Naya jadi curhat pada Ian.

Tak mau terlibat lebih lanjut, Ian hanya tertawa kecil. Sesekali melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah semakin siang. Kemana gadis itu? Kenapa ia belum lewat juga sampai saat ini?

"Yona!" Ian melihat teman Dara berjalan melewati parkiran. Yona langsung menoleh.

"Iya kak?" gadis itu berhenti, melihat wanita yang berada di samping Ian dengan tatapan datar walaupun kesannya sinis bagi Naya.

ANTARIKSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang