23 : LEONARD PUTRA PRATAMA [2]

356 12 3
                                        

Bandung, 1 Agustus 2018

Pukul 00.00 dini hari, hujan deras menghujani Kota Bandung. Leo tengah menyalakan lilin ulang tahun untuk adiknya. Berbeda dengan Lea, yang tidak pernah peduli tentang hari kelahirannya.

Bagi Lea, kelahirannya juga tidak diinginkan oleh siapapun lalu untuk apa ia merayakannya? Sementara, sudut pandang Leo hari lahir mereka tetap berharga. Setidaknya, mereka memiliki satu sama lain di dunia ini.

Tapi tetap saja, setiap dini hari pada tanggal 1 bulan 8 Lea akan terbangun. Menuliskan catatan kecil, untuk Leo. Isinya hanya doa-doa yang ia harapkan untuk abangnya, tapi malam ini Lea tidak terbangun karena lelah.

Tok! Tok!

Leo menggedor pintu kamar adiknya, tidak ada jawaban. Akhirnya ia membuka pintu itu dengan sendirinya, terlihat sekali bahwa Lea sedang tertidur pulas.

Leo menaruh kue itu pada meja belajar adiknya. Ia kemudian mendekati Lea, mengelus surai adiknya lembut lalu mengecup puncak kepalanya singkat.

"Loh?"

Badan gadis itu bergetar, suhu badannya sangat tinggi. Lea memang tidak tahan dengan dingin, hujan malam ini membuat tubuhnya sakit.

Leo dengan cepat berlari ke arah dapur untuk menyiapkan kompres hangat. Ia mengompres adiknya, dan memakaikan selimut nya dengan benar.

"Bang Leo?" Lirih Lea, membuka matanya perlahan.

"Ini hari ulang tahun kamu loh Lea, masa sakit. Liat tuh badan kamu panas, badan kamu juga gemeter gitu. Kamu tau stamina tubuh kamu itu lemah, lagi musim hujan gini harusnya nggak usah pake AC. Tadi juga kan muter-muter sampe Maghrib." Jelas Leo, khawatir.

"Masa lagi sakit di marahin sih?" Lea mengerucutkan bibirnya lagi.

"Hukuman kamu, suruh siapa sakit? Bikin abang khawatir aja." Ucapnya mengecek suhu badan Lea lagi.

"Bang, Lea mau soto ayam yang di depan jalan itu dong." Ucapnya bertingkah manja.

"Ini jam berapa Lea? Liat tuh jam 12 lewat."

"Padahal kan buka 24 jam." Gerutu gadis itu, merajuk.

"Yaudah iya abang beliin sekarang. Tunggu disini, jangan kemana-mana." Ujarnya beranjak pergi dari kamar gadis itu.

"Lea mau ikut! Nggak mau sendirian disini, takut." Rengek Lea, melepas kompresan pada dahinya.

"Kamu lagi sakit, Le."

"Demam doang elah, Lea kan kuat."

Leo yang tahu betapa takutnya gadis itu pada hal-hal berbau hantu tentu mengangguk pasrah. Dulu, bahkan Leo pernah meninggalkan Lea sendirian di rumah dan membuat gadis itu menangis tidak berhenti juga memukuli dirinya.

"Pake jaket, nanti di mobil aja jangan turun." Lea mengangguk antusias.

Sekitar pukul 00.15 mereka sudah sampai di depan warung Soto ayam yang Lea inginkan. Leo memarkirkan mobilnya diseberang jalan, membuat pria itu harus menyebrang terlebih dahulu.

"Diem disini, tutup mata nanti ada hantu." Ujar Leo menakuti Lea.

"Merinding jadinya ih abang! Buruan jangan kelamaan!" Teriak Lea dari dalam mobil, membuat Leo yang sudah keluar dengan membawa payung itu hanya terkekeh pelan.

Sekitar 15 menit Lea menunggu didalam mobil. Gadis itu menurut, memejamkan matanya seperti apa yang Leo katakan.

"Abang lama banget sih, masa iya ngantri. Siapa juga yang mau keluar jam segini, kecuali gue? Setan kali ya. EH LEA! Ngomong apa sih lo?! Tolong ya, para hantu yang baik hati mohon untuk dimengerti mulut Lea suka nggak bisa dikontrol." Ucapnya membuka mata, mengirimkan pesan kepada Leo untuk cepat.

ANTARIKSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang