"Iya, maaf," lirih Kai sambil menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang pulang ke sorean.
Karina tidak menggubris, ia terlalu sibuk memikirkan caranya mendapatkan sepatu heels dalam waktu 30 menit.
"Lo lagi nyari apa, sih, dek?" tanya Kai "berantakan banget kamarnya, entar ibu sama ayah pulang marah lo."
"Engga usah kepo kalo engga bisa bantu."
"Ya, emangnya lagi nyari apa?"
Karina berdecak, "sepatu heels, tau engga? Engga, kan? Makanya udah sono balik aja ke kamar lo," usirnya.
"Sepatu heels?" gumam Kai, "Kenapa engga cari aja di rak sepatu kamar ibu? Kali aja ada yang muat terus bisa dipake."
Karina termenung, "oh, iya-ya, bener juga," ucapnya tersenyum lalu menoleh pada kakaknya, "tumben lo berguna."
"T-tumben lo berguna?" Kai mendengus, "ucap makasih, kek, elah."
Tanpa basa-basi Karina langsung pergi ke kamar ibunya yang ada di samping ruang tamu.
Gadis itu membuka pintu kamar kedua orang tuanya. Jam menunjukkan pukul 6 sore, jadi ayah dan ibunya masih sibuk bekerja di restoran.
Karina mencoba semua heels yang ada di rak sepatu. Engga ada yang muat, "Ck, semuanya pada kebesaran."
Karina kembali menyusun sepatu ke tempatnya, saat itu pula matanya tidak sengaja menangkap satu sepatu yang ada di pojok rak bagian kanan, cukup jauh untuk dijangkau.
"Udah ketemu?" tanya Kai melihat adiknya yang sudah keluar dari kamar ibunya, "gimana muat engga?"