"Rin ... Rin! Karina!" seru Jihoon membuyarkan lamunan Karina yang berdiri disampingnya.
Gadis itu tersadar lalu merotasikan bola matanya, "hm?"
Jihoon menghela nafas. "Ngapain ngeliatin gua terus?" tanyanya, "udah sampe di halte, nih, lo engga pulang?"
Karina mengedarkan pandangannya, lalu melihat jam dilayar ponselnya. Masih ada sekitar tiga puluh menit lagi sebelum bis datang.
Gadis itu pun mengambil tempat duduk di halte. "Capek, ah. Mau duduk dulu." katanya.
Jihoon tersenyum malu lalu ikut duduk disamping Karina. "Bilang aja mau nemenin gua, atau jangan-jangan lo engga mau pisah lagi dari gua?" tanyanya sambil terkekeh.
Karina bergidik geli. "Ge'er. Ga jadi, deh, gua mau langsung pulang aja," katanya langsung berdiri dari duduknya.
"Sensitif banget kayak gigi berlubang. Bercanda, Rin." Jihoon menahan tangan Karina. "Jangan tinggalin gua, gua engga suka sendirian," katanya dengan ekspresi yang tidak bisa dimengerti.
"Coba senyum lagi," pinta karina setelah kembali duduk, "jangan berekspresi kayak kucing abis kehujanan terus minta dibawa pulang."
"Kenapa? Lucu, ya? Jangan, kan, senyum. Apapun bakal gua lakuin, Rin. Kan, udah janji." Jihoon tersenyum memperlihatkan senyum yang kini sangat disukai oleh Karina.
Gadis itu menatap lekat-lekat laki-laki yang duduk disampingnya. Angan-angannya kembali pergi, memperlihatkan sebuah adegan yang tidak pernah diketahui oleh semua orang. Bahkan semua pembaca.
"Lo engga pa-pa?" tanya Jihoon ketika mereka berdua sedang berjalan pulang kerumah kakek-neneknya Junkyu setelah mengembara mencari Jujun-kucing Junkyu yang hilang.
Karina menggeleng. "Kalem aja. Gua udah sering digituin, kok. Apalagi pas jalan bareng abang gua pasti suka dikira pacaran terus, bocil lagi yang nyebar fitnah. Sialan emang."
Karina melempar tatapan tajam pada beberapa anak SMP yang yang sedari tadi berteriak dengan kata 'cie' kearah mereka berdua.
"Bukan itu maksud gua," kata Jihoon membuat Karina menoleh, "ingus lu masih ngucur daritadi, kayaknya lo masih sedih, deh."