🏅JUARA 2 WRITHON WITH CWBP🏅
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA]
"Kamu adalah dosaku di masa lalu dan surgaku di masa depan." -Zawjaty-
Blurb:
Siapa sangka, kehidupan Zay semula baik-baik saja, tiba-tiba berubah setelah kejadian hari itu. Ia yang masih bisa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Memang benar, semua itu butuh waktu. Namun untuk mencintaimu, aku hanya butuh jarak antara ijab dan kabul. Setelah itu, bisa dipastikan bahwa perasaan ini akan berlangsung selama-lamanya."
-Addar Zayn Quthni-
***
🐳
Kilau cahaya bulan malam itu terlihat sangat jelas masuk celah jendela yang masih terbuka lebar. Sinarnya yang putih semakin menambah keindahan langit di malam itu. Lengkingan suara jangkrik terdengar bersahutan, diiringi dentingan rintik air yang masih tersisa diantara dedaunan dan genteng rumah.
Suasana yang begitu menenangkan untuk sekedar merefleksikan pikiran maupun perasaan. Itulah yang dilakukan laki-laki berkaos coklat polos dengan sesuatu di tangannya. Sejak tadi, matanya terfokus pada benda kertas berisikan sebuah foto beberapa tahun silam.
"Nak, ada tamu tuh." Suara seseorang dari depan pintu sukses menghentikan aktivitasnya yang sedang mengamati sesuatu.
"Siapa, Bun?"
"Biasa," jawab wanita paruh baya namun tetap nampak anggun.
Sang pemilik kamar langsung meletakkan benda di tangannya, kemudian berjalan keluar mengikuti langkah wanita tadi. Senyumnya mengulum indah ketika mendapati seseorang yang sedang duduk santai di ruang tamu.
"Sejak kapan ada di sini?"
Sosok yang ditanya pun menoleh. "Baru aja," jawabnya membalas senyum.
"Tumben malam-malam. Ada perlu apa?"
Lawan bicaranya terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Nggak ada. Cuma pengen ketemu bunda sama kamu."
Laki-laki itu tertawa kecil. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Selain itu, ada lagi?"
"Nggak ada," balasnya berbohong, kemudian menyeruput secangkir teh hangat yang sudah dibuatkan untuknya.
"Kamu nggak bisa bohong sama aku, Ya." Perkataan laki-laki itu hampir membuatnya tersedak."Kamu lagi ada masalah, kan?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia meletakkan kembali cangkir putih yang ada ditangannya kemudian tersenyum. Seakan mengatakan baik-baik saja lewat senyum palsunya. Ia tidak ingin menambah beban laki-laki yang sudah banyak membantunya selama ini.
"Cerita aja, Ya. Aku siap kok jadi pendengar yang baik buat kamu," bujuk laki-laki itu dengan senyum tulusnya.
Melihat ketulusan itu membuatnya menarik napas dalam. Mungkin dengan menceritakan masalah yang ia hadapi bisa sedikit menghilangkan rasa sakitnya. "Dia ... udah selesaiin semuanya, Riz," kata wanita itu mulai bercerita.