🏅JUARA 2 WRITHON WITH CWBP🏅
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA]
"Kamu adalah dosaku di masa lalu dan surgaku di masa depan." -Zawjaty-
Blurb:
Siapa sangka, kehidupan Zay semula baik-baik saja, tiba-tiba berubah setelah kejadian hari itu. Ia yang masih bisa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
...
"Sebenarnya, luka dan masa lalu ingin mengajarkanmu sesuatu yang berharga. Tapi seringnya, kesalahpahaman manusia membuat mereka terlihat seperti hal yang menyakitkan."
🐳 ...
"Ya ampun, cantik banget Adik kakak," puji Yua yang baru masuk kamar. Matanya langsung membulat saat melihat penampilan perempuan di depan cermin.
Bunga memang terlihat sangat cantik dengan balutan gamis warna krem bergaris coklat dengan bawahan berwarna tosca. Penampilannya terlihat semakin sempurna dengan balutan jilbab pashmina panjang dengan warna senada.
Bunga kembali melihat penampilannya di cermin. Ia merasa sedikit risih saat Yua mengolesi wajah putih yang biasa terlihat alami dengan sedikit make up.
"Kak, apa lipstiknya nggak kemerahan?"
Yua menggeleng. "Nggak dong. Itu warna paling alami dan sesuai untuk bibir kamu, Dek," jawabnya langsung menutup kotak make up miliknya.
"Oke, udah siap. Sekarang kita turun yuk! Keluarga tante Melin udah nungguin lho," beritahu Yua.
Bunga mengangguk dan memperbaiki posisi jilbabnya agar tetap rapi. Sebelum keluar kamar, Bunga menarik napas dalam-dalam sembari membaca doa. Berharap agar Allah memberinya kemudahan dan keberkahan di setiap langkah hidup yang ia pilih.
"Udah siap?" tanya Yua sebelum mereka keluar.
"Insya Allah, aku siap, Kak."
"Ya udah, yuk!" Yua memegang tangan kanan Bunga seraya menuntunnya turun tangga.
"Nah itu mereka!" Ara tersenyum ke arah dua bidadari yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Setelah itu, Ara berdiri dan memegang tangan kiri Bunga.
"Sini, Nak," suruh Ara agar kedua putrinya duduk di sampingnya.
"Ini anak saya yang kedua. Namanya Bunga."
Melin, Fadlan dan keluarga lainnya mengangguk sambil tersenyum. Kecuali Zay yang masih sibuk dengan benda hitam di tangannya. Entah apa yang sedang dilakukan laki-laki itu sampai tidak mendengar apapun yang ada di sekitarnya.
"Cantik, kan, Bi?" bisik Melin pada suaminya.
"Iya. Pilihan Umi emang top," jawab Fadlan mengacungkan jempolnya.
Bunga melihat sekilas ke beberapa orang yang ada di depannya. Setelah itu, ia langsung menunduk seraya memainkan kedua tangannya.
"Gimana Zay? Cantik, kan?"
Zay menoleh ke arah Melin dengan pandangan bertanya. "Cantik apa, Mi?"
"Itu, di depan kamu," tunjuk Melin dengan dagunya.