Jika kata maaf bisa membuatmu kembali maka akan kuucapkan ribuan kali
***
Sudah dua minggu Kania tidak lagi menerima pesan dari Bastian. Tidak ada lagi pesan-pesan penuh kerinduan dan permintaan maaf dari laki-laki itu. Kini, ponselnya terasa kosong dan hampa.
Kania membuka kembali kunci layar ponselnya. Memeriksa pesan-pesan yang masuk. Namun, tidak satu pun berasal dari Bastian. Ia menghela napas panjang dan menutup kembali layar ponsel. Gadis itu menatap keluar jendela kelas sore itu. Hujan telah turun dan membasahi semua yang ada di bawahnya.
"Kania Helena," sebuah suara mengagetkan gadis berambut panjang itu. Kania menoleh dengan sedikit terkejut. Pak Agustinus tengah menatapnya dengan tatapan garang. Kania menelan ludah, nampaknya ia membuat kesalahan lagi kepada dosen tua itu.
"Kamu perhatikan apa yang saya jelaskan nggak?" tanya Pak Agustinus tanpa henti menatapnya. Kania menggaruk belakang kepala sambil mengangguk tidak yakin.
"Jangan bohong," balas Pak Agustinus yang membuat seisi kelas terdiam. Ovie ikut tegang di sebelah Kania. "Saya tau kamu bohong," lanjut Pak Agustinus. Kania hanya diam, jantungnya berdebar tidak karuan.
Pak Agustinus berdecak pelan kemudian melanjutkan menjelaskan materi pada hari itu. Kania dan sebagian mahasiswa di kelas tersebut terkejut. Tidak biasanya Pak Agustinus marah tanpa menghukum mahasiswa. Kali ini dosen tersebut tampak berbeda.
Kania mengusap dadanya. "Selamat gue," bisiknya pelan. Ovie menyikut lengannya dan sedikit menoleh. "Tumben nggak dihukum sama Pak Agustinus," ucapnya dengan memelankan suara. Kania tersenyum jail dan mengangkat bahu.
"Ya iyalah, Vie. Kania, kan, calon menantunya Pak Agustinus," Ryan ikut-ikut berbisik dari belakang Kania dan Ovie. Kania menoleh dan melotot kepada Ryan yang terkikik geli. Sementara Ovie menahan tawanya mendengar ucapan Ryan.
"Udah, perhatiin lagi penjelasan Pak Agustinus, Vie. Kita, kan, bukan calon menantunya. Nanti kena hukuman," lanjut Ryan. Hal itu membuat Kania berbalik ke belakang dan mencubit perut Ryan kuat-kuat.
"Kania Helena!" Pak Agustinus bersuara lagi. Kania terdiam membeku.
"Mampus gue."
***
Bastian memakan santapan di hadapannya dengan malas. Ia sebetulnya sedang tidak mood untuk melalukan apapun, termasuk makan. Namun, perutnya berbunyi sejak pagi, ia tidak ingin mengambil risiko jatuh sakit.
Tangan kiri Bastian bergerak mengganti channel televisi yang dirasa pas untuknya. Sejauh ini tidak ada yang menarik perhatiannya.
Bastian menyimpan remot di samping dan beralih membuka kunci layar ponsel. Tidak ada notifikasi apapun dari Kania. Padahal, ia sangat menunggu hal tersebut. Bastian berdecak kesal ketika notifikasi dari Ryan masuk.
Ryan :
Bro, basket
Bastian :
No, thanks
Nampaknya Ryan tidak menyerah, sepupunya itu malah meneleponnya sekarang. Bastian menyimpan piring di atas meja kaca dan menekan tombol hijau.
"Woy, lo udah dua pertemuan nggak ikut basket. Lo kemana? Biasanya lo paling semangat," suara Ryan langsung terdengar. Di belakangnya terdengar suara-suara pantulan bola basket dari lapangan.
Bastian menghela napas. "Gue lagi nggak mood," jawabnya cepat. Ryan tertawa di seberang sana. "Kayak cewek PMS lo."
"Dahlah, gue males. Lo main aja," Bastian langsung menekan tombol merah. Ia melempar ponselnya ke single sofa di sebelah kanannya. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruang televisi.
Sementara Harold terlihat terburu-buru menuruni tangga dan bersitatap dengan Bastian. Harold kerepotan membawa dua bola basket cadangan dan juga sebotol air minum. Tidak lupa tas ransel tergantung di pundak kirinya.
Bastian tidak menyapanya, ia pergi menuju kolam renang belakang rumah. "Nggak basket?" tanya Harold. Bastian tidak menjawab, ia malah menutup pintu kaca dan duduk termenung di pinggir kolam renang.
Harold menggigit bawah bibirnya dan memilih untuk menyusul Bastian. Ia duduk di samping Bastian sambil memakai kaos kakinya.
"Gue minta maaf," ucap Harold cepat. Ia yakin Bastian marah padanya atas kejadian dua minggu yang lalu. Dan, selama dua minggu itu juga mereka terlibat 'perang dingin'.
Bastian diam, ia mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam renang. "Gue tau gue berlebihan," lanjut Harold, ia telah selesai memakai kaos kaki dan kini menatap Bastian dari arah samping.
"Gue cuman nggak suka aja ada yang nyakitin perempuan, apalagi Kania."
Perkataan Harold membuat Bastian menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Lo ada hubungan apa sama dia?" tanya Bastian. Harold mengangkat bahu dan melempar pandangan ke arah riak-riak air di permukaan kolam renang.
"Nggak ada. But ... I think I have crush on her," jawab Harold dengan senyumannya. Bastian terperangah, ia kini menyipitkan kedua mata, memastikan ucapan tersebut benar-benar keluar dari mulut Harold. Harold menoleh dan menatap Bastian dengan pandangan bingung.
"Lo kenapa?"
Bastian mengusap wajahnya frustrasi. "Gue nggak mau ribut lagi. Tapi, gue juga suka sama dia," balas laki-laki itu dengan penuh penegasan. Harold terdiam sejenak.
"B-bukannya ... Lo itu cuman saudara kembar dari temen masa kecilnya Kania?"
"Nggak, gue suka sama dia," tegas Bastian. "Apa dia juga suka sama lo?" pertanyaan Harold membuat Bastian kalah telak, laki-laki itu berdecak kesal dan bangkit dari duduknya. Meninggalkan Harold sendirian.
***
Ryan mulai membagi tim untuk latihan basket mereka hari itu. Ia akan menjadi pemain basket handal jika tidak ada Bastian. Well, permainan Bastian lebih baik daripada Ryan.
"Kania?" Harold berbisik ketika melihat Kania masuk ke area lapangan dan duduk di tribun menemani Ovie. Mereka berdua terlihat terlibat percakapan.
"Ya ampun, seumur-umur, baru pertama kali gue lihat lo main ke sini. Lo nunggu siapa?" tanya Ovie sambil mencolek bahu Kania. Kania tertawa dan menggelengkan kepala. "Nggak kok, gue ... Cuman mau nemenin lo nungguin Ryan. Lagian suasana di sini juga enak. Bosen gue di rumah terus," jawab Kania dengan sedikit gugup.
Ovie tersenyum penuh arti. "Lo pasti nyari Bastian, kan?" tebaknya membuat Kania melotot. "Nggak, gue ke sini, ya, cuman mau nyari suasana baru aja."
Ovie tertawa dan menepuk pundak Kania. "Alah, nggak usah cari alesan," ucap Ovie. "Bastian udah nggak pernah basket lagi, udah dua minggu, itu kata Ryan," lanjutnya.
"Serius?" Kania terkejut, ia menatap Ovie dengan tatapan panik. Ovie malah tertawa dan meledeknya. "Iya, makanya jangan gengsi, cepet hubungin dia sekarang," jawabnya.
Kania terdiam dan memandangi ponselnya. Ia menatap ponsel dengan ragu. Namun, di sampingnya Ovie sudah terus mendesak agar ia segera menghubungi Bastian.
Akhirnya Kania menekan tombol hijau pada nama Bastian. Tepat didering ketiga, suara Bastian mengalun.
"Halo?"
"Halo, Bas. Lo ... Di mana?" tanya Kania takut-takut, ia mendengar suara Bastian sangat datar dan dingin padanya.
"Rumah, kenapa?" benar, Bastian benar-benar berubah. Ia menjadi ketus pada Kania. Kania meremas ujung tasnya. Rasanya sakit menghadapi perubahan Bastian.
"Nggak kok, gue lagi ada di tempat lo biasa basket. Tapi, ternyata lo nggak ada," jawab Kania pelan. Di seberang sana Bastian terdiam cukup lama.
"Oke."
Kania tertegun mendengar jawaban dari Bastian. Bahkan, laki-laki itu langsung mematikan sambungan telepon. Kania memegang ponsel dengan tangan bergetar. Sakit sekali hatinya, padahal ia yang menyuruh Bastian untuk pergi. Namun, kini rasanya sesak menghadapi itu semua.
"Vie, gue pulang duluan, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Evermore [END]
RomantikPercaya dan kecewa merupakan dua hal yang saling berkaitan. Serpihan kata rindu pun tidak akan mampu mengubah dua hal paling menakutkan itu. Kini, saatnya untuk memilih, tetap percaya atau tenggelam dalam lautan kecewa. Selamat menyelam dalam lauta...
![Evermore [END]](https://img.wattpad.com/cover/291213671-64-k609700.jpg)