Extra part | Missing Chapters

6.4K 119 1
                                        


| 7. WTF?! |

Merasa Lula sudah membalas ciumannya, Dava pun semakin mencium bibir Lula lebih dalam. Bibirnya terus melumat benda kenyal tersebut yang terasa amat enak.

Baru kali ini Dava merasakan perasaan yang berbeda. Cewek-cewek yang berada di dekatnya selama ini tidak dapat pernah menarik Dava untuk ingin mencium bibir mereka. Paling mentok, Dava hanya mengecup area wajah jika mereka benar-benar berisik dan membuatnya ingin cepat-cepat menyelesaikan waktu yang ia habiskan bersama mereka.

Tapi dengan Lula, dirinya tiba-tiba tertarik untuk melumat bibir gadis itu. Hatinya menggerakkan akal pikirannya untuk melumat, menyecap, dan memperdalam ciuman tersebut. Awalnya ia tidak suka dengan Lula yang berkata bahwa dirinya tidak seksi, cantik, dan lainnya. Namun dirinya seolah otomatis ingin menyentuh cewek itu. Tangannya pun tiba-tiba saja ikut andil untuk memperdalamnya—menekan lebih dalam tengkuk Lula. Tangan satunya secara spontan ingin meraba tubuh Lula. Tangan Dava benar-benar sudah tiba di payudara Lula, ingin meremas benda kenyal gadis itu.

Namun semuanya cepat disadari oleh Dava. Akalnya masih bekerja saat ini. Ia menarik tangannya dan tidak jadi meremas payudara Lula. Cowok itu langsung menghempas Lula agar menjauh dari dirinya.

Dava tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, tapi sekarang rasanya berbeda. Dava hampir lepas kendali saat berciuman dengan Lula. Hatinya pun turut menuntut hal itu terjadi, tapi otaknya langsung menepis secara tiba-tiba.

Tanpa mengucap apapun kepada Lula, Dava langsung pergi keluar. Cowok itu meninggalkan Lula sendiri di kamarnya. Ia berjalan menuju pada balkon panjang yang berada di lantai dua. Tubuhnya disandarkan dengan pasrah pada tiang penyangga.

Pikiran Dava benar-benar kemana-mana dan tidak bisa terkendali. Ah, sial. Ia masih memikirkan dirinya yang hampir meremas payudara cewek itu. Dirinya benar-benar tidak baik-baik saja sekarang.

Dava menghembuskan napas kasar. Cowok itu mengambil rokok dan pematik yang berada di kantung celananya. Ia mengapit rokok tersebut pada kedua jarinya. Pematik itu pun mulai dinyalakan menggunakan satu tangannya. Ia langsung menyesap dalam rokok tersebut, dan menghembuskannya dengan tenang kemudian.

Berbicara tentang rokok, Dava jadi ingat kejadian dimana Lula pingsan hanya dengan melihat dirinya uang sedang merokok. Dava sama sekali tidak mengerti alasan yang dapat menyebabkan cewek itu pingsan seketika. Yang jelas, mata Lula tertuju pada rokoknya sebelum ia benar-benar hilang kesadaran. Dan Dava pikir, itu lah penyebab Lula pingsan saat itu.

“Ah, sial!” Dava mengumpat. Ia tidak habis pikir akan dirinya sendiri yang aneh seperti ini.

Ia suka pada Lula? Mungkin dapat dikatakan begitu. Mengingat kejadian dimana Lula pernah menenangkannya dan membuatnya merasa dipedulikan, itu bisa menjadi alasan. Dan Dava mengancam Lula agar Lula terikat sama dirinya, apalagi alasannya jika bukan karena tertarik pada cewek itu.

Tapi kali ini berbeda. Perasaan aneh itu berbeda dari rasa ketertarikannya karena Lula memperdulikannya saat itu. Yang dirasanya sekarang adalah sesuatu yang berbeda, sangat jelas itu. Sifat Lula terasa berbeda 180 derajat dari yang ia ketahui dulu. Dan sekarang ia merasa bahwa dirinya bersama Lula yang berbeda. Dan persaaan di hatinya pun juga berbeda. Dava tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang dirasa hatinya. Yang jelas, ini terasa aneh. Sensasinya benar-benar berbeda.

“Gue kenapa sih, anjing. Sial!”

Dava kembali lagi memaki dirinya karena apa yang terjadi pada hari ini.

“Gue nggak bisa berhenti peduli.”

Ungkapan itu keluar dengan sangat jujur. Dava benar tidak bisa berhenti peduli dan juga fokus pada hal selaij cewek itu. Semua gerak-gerik Lula entah mengapa selalu tertangkap oleh matanya. Entah itu keinginan dari dirinya sendiri atau memang tidak sengaja. Tapi sejak tadi, Dava selalu memperhatikan Lula mulai dari ia masuk dalam ruangan hingga cewek itu menatapnya. Bahkan, Lula yang meminum minuman segitu banyak pun juga tidak luput dari penglihatannya. Dava bisa gila sekarang.

LALULATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang