10- Dua Pramudya

46 3 0
                                        

Selesai makan, Takagi kemudian berjalan pulang ke rumah, dan suasana menunjukkan bahwa hari sudah sore.

Sesampainya di rumah, Takagi disambut oleh Mbak yang biasanya membantu mengurus keperluan rumah, alias sebagai koordinator atau memimpin pengurus rumah yang lain dalam menjalankan tugas.

"Eh, Dek Taka, sudah pulang, Dek?" Tanyanya dengan senyuman hangat.

Takagi menyimpan sepatunya di rak dan mengganti dengan sandal rumah sambil menggerakkan lehernya yang kaku.

"Iya, Mbak. Kondisi Nee-san bagaimana, Mbak? Dan apakah Rina-Nee sudah pulang?" Tanya Takagi.

Dengan senyuman, sambil menghampiri anak itu untuk membantu melepas jaketnya, "Dek Taka harus latihan rutin dulu, itu peraturan jika ingin berkunjung atau ingin tahu kondisi Nona."

"Ah, ngga usah Mbak, aku bisa sendiri." Ucap Takagi sambil melepas jaketnya sendiri.

Ayah Nana dan Takagi Petinggi pertahanan militer pemimpin divisi pengembangan potensial, divisi ini baru dan memang bersifat rahasia sehingga kurang lebih terkait potensial apa yang sedang dikembangkan -untuk dimanfaatkan dalam bidang pertahanan- tidak diberitahu.

Dalam penerusan kemiliteran sebagai wujud pengabdian, sang Ayah menaruh harapan besar pada Putra semata wayangnya, sejak kecil Takagi telah dilatih dalam bela diri dan bertahan hidup, pelatihannya cukup berat dan tergolong tidak manusiawi untuk anak seusianya, tidak jarang Takagi pernah mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya.

Untuk mempercepat proses perkembangan, setiap hari minimal sekali, Takagi berlatih ketimbang berlatih bertahan hidup yang dilakukan sebulan sekali, berat dan cukup memberi tekanan yang tidak main-main, namun Takagi tidak punya pilihan.

Dengan berjalan perlahan, Takagi memandang pintu ruang latihan, dengan menghela nafas dan melakukan sedikit pemanasan.

Pintu itu terbuat dari baja untuk mencegah orang sembarangan masuk ke dalam.
Jika kalian berpikir itu untuk mencegah ada yang mencuri sesuatu dari ruangan itu maka kalian salah.

CEKLEK! Setelah Takagi memindai kata sandi dan sidik jari, baru selangkah dia memasuki ruangan, dirinya langsung melompat menghindar ke sisi kiri ruangan, karena terdapat lontaran senjata tajam yang ditembakkan dari sistem otomatis, dan pisau-pisau itu menancap cukup dalam di dinding yang terbuat dari baja pula.

Sistem itu disebut sistem latihan.

Ya, fungsi pengamanan tersebut untuk mencegah orang yang masuk sembarangan bisa tewas karena sistem latihan.

Dengan kata lain, dengan memasuki ruangan artinya latihan sudah dimulai.

Latihan berlangsung selama 15 menit, tanpa istirahat ataupun jeda sama sekali, jadi pastikan fisik maupun pikiran sudah sangat siap apabila ingin mencoba ruangan ini.

Satu-satunya yang dapat menghentikan sistem ini secara tiba-tiba adalah, ketika sistem yang melontarkan panah dengan ujung mata tajam melukai seseorang yang sedang berlatih.

Ketika panah itu mengenai tubuh seseorang, pendeteksi yang ditanam di dalam panah itu akan mengirim sinyal kepada sistem latihan agar berhenti total.

Namun bagian dimana panah tersebut terlontar adalah 11 menit sebelum latihan berakhir, dengan kata lain, jika terluka akibat yang lain, maka tidak ada jeda atau pertolongan sama sekali sampai latihan selesai, dan lagi untuk menghentikan sistemnya juga harus dikendalikan melalui ruang operator utama.

TRENG!!! Alarm sistem mengisyaratkan latihan telah selesai, mengetahui hal itu Takagi tersungkur dan telentang di lantai karena kelelahan.

Mbak perlahan memasuki ruangan sambil mengantarkan kain basah dingin dan minuman, "Dek Taka udah berusaha keras. Istirahat dulu, Dek."

Prince Charming [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang