Malam hari, pukul 0.27 dini hari.
Waktu dimana semua orang beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian.
Namun berbeda untuk mereka, dalam sehari, mereka telah kehilangan lebih dari satu orang.
Suasana seketika hening ketika pemimpin Tudung Merah berhenti bicara setelah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Hei Zack!! Jawab aku!! Zack!!" Dion menangis terisak menyadari bahwa tubuh terkapar di sebelahnya itu sudah tidak akan bisa menjawab panggilannya lagi.
Andre menangis, rasa kasihannya muncul ketika melihat Dion, sakit sekali melihatnya, dia begitu paham rasa akan kehilangan seseorang yang disayangi.
Ezra memilih memalingkan mukanya dari Dion dan Zack, rasa bersalah memenuhi perasaannya, tidak dapat menyelamatkan saudaranya.
"Ugh... " Dion merasakan tubuhnya semakin lemah karena luka tembakan di tubuhnya dan berbaring di samping Zack, menggenggam tangan Zack yang sudah pucat, dan terasa sangat dingin.
Dion menangis sambil tersenyum menatap tubuh disampingnya itu, "Bagaimana lagi... kita sangat payah dalam hidup..."
Setelah berkata seperti itu, seketika Don langsung kaku tak bergerak lagi.
"Dion...!" Andre berniat menghampiri, namun perempuan berbaju abu disampingnya menahannya agar tidak gegabah, air mata membasahi pipi keduanya.
"Kak... Kak Andre, shh..." Rina menahan isakannya sembari berusaha menenangkan pemuda itu.
Tangan Ezra mengepal begitu erat, permasalahan ini terasa sangat berat, ini harga yang terlalu berat sebagai pengganti berakhirnya konflik.
Semua korban dan kerugian yang dihasilkan, itu semua harga yang terlalu berat untuk sebuah perdamaian.
"Anggota-ku dan Tudung Merah! Dengar!!" Ezra membuka suara, berdiri sebagai pemimpin kelompok yang meraih kemenangan, namun Ezra berbicara sekarang bukan karena hal itu.
"Konflik ini sudah berakhir!! Sudah hampir 7 tahun, konflik ini berakhir sekarang!! Ambulans dan polisi akan segera datang setelah dihubungi oleh Januar tadi!"
"Untuk menghindari masalah yang terjadi, segera pergi dari sini! Aku akan mengurus sisanya!!" Perintah Ezra, berbicara dan bertindak untuk melindungi orang-orang dibawahnya.
Rizal terkejut mendengarnya, "Apa tidak mengapa?"
Ezra berbalik dan tersenyum angkuh pada Rizal, "Apa sih? Aku kan calon direktur Pramudya."
Terbelalak mendengarnya, seketika Rizal langsung menanggapi Ezra dengan senyuman pula, "Sombong bener Lu, Zra."
"Segera bubar!! Jika kalian mendapati masalah, langsung sebut nama Pramudya!" Seru Ezra.
"Tidak."
Tiba-tiba terdengar suara yang membuat siapapun bahkan Ezra sendiri keheranan.
"Kau pergilah Ezra, kami yang akan tinggal..." Kevin perlahan berdiri sembari memegang lengannya yang terkilir akibat serangan Januar sebelumnya.
Ezra tercengang, "Kalian... "
BUK!
"Akh!!" Kevin merintih ketika seseorang memukul lengannya.
Januar terkekeh, "Orang sombong selalu mendapat balasannya, Tuan. Jangan khawatir, Zra! Aku juga berdiri setara denganmu suatu hari nanti!"
"Heh, bocah boxing! Minta tipsnya dong!" Kevin membuang rasa kesalnya dan tersenyum lebar sembari mengikuti Januar.
Ezra hanya tersenyum heran, yah setidaknya Januar ada disisi mereka sedari awal, wakilnya itu cukup dapat diandalkan juga.
Ardhan menghampiri Dion dan Zack yang terbaring berdampingan, perlahan menutup kedua mata mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Ficção Adolescente"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)