26- Masa lalu (3)

32 3 0
                                        

5 tahun yang lalu...

"Si Ezra gimana?" Tanya Ardhan.

Rizal mengangkat bahu, "Yah, sepi karena 3 bulan dia pergi buat karantina persiapan olimpiade,"

"Haha! Anak pinter emang beda,"

Rizal hanya terdiam, cukup canggung membicarakan Ezra pada Ardhan yang sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Ezra.

"Rizal! Ardhan!"

Terdengar suara perempuan yang membuat Ardhan dan Rizal yang baru pulang dari sekolah berbalik.

Riska Anggraini Jaya, kakak sepupu Rizal, lebih tua 2 tahun dariku dan Rizal sendiri, dan aku menyayanginya.

"Sini, aku pegangkan barangnya Mbak Riska," Tawar Ardhan, dan nampak sedikit merona merah dipipinya.

"Modus sem." Batin Rizal dengan tatapan malas.

Riska tersenyum, tapi dia tak sadar tentang pipi Ardhan yang memerah, "Gak usah, Dhan. Terima kasih ya."

"Kamu selalu baik ya, Ardhan. Rizal, contoh temanmu ya!"

Rizal nampak tak peduli karena sedari tadi dirinya sudah dikuasai oleh kantuk dan hanya mengeluarkan satu kata, "Gak, Gua ya Gua."

"Hih! Huh, ya sudah, aku mau ke perpus. Zal, ikut ya?" pinta Riska.

Rizal menggeleng menolak, yah Riska mengerti karena Rizal mengantuk akibat mengerjakan tugas semalam, namun Ardhan memilih untuk ikut, mereka bertiga dipisahkan oleh arah jalan yang berbeda.

Di perpustakaan, Ardhan membaca buku dengan tenang, dia bisa menerima informasi dari buku bacaan dengan mudah meski tak terlalu fokus. Di sekolah, dia termasuk anak yang pintar di antara teman sekelasnya.

Namun di sebelah Ardhan, Riska tengah tertidur pulas di atas tumpukan buku yang dibacanya, apalagi suasana perpustakaan dengan pendingin ruangan membuat suasana menjadi nyaman.

"Gusti! Dia yang ngajak dia yang tidur, gak ada bedanya ama Rizal yang suka tidur, mana bukunya dijadiin bantar pula" Batin Ardhan keheranan.

Ardhan berbaring di lipatan tangannya dengan menghadap Riska dengan bergumam, "Wajahnya Mbak Riska sama Rizal sama, tapi cantikan Mbak Riska. Gak masuk akal kalau Rizal jadi cantik, ganteng sih iya meski standar."

Ardhan makin lama makin menatap wajah Riska, wajahnya juga semakin memerah, sampai sebuah suara menghentikan tindakannya, "Jangan gitu, Ardhan."

Ardhan langsung kaget dengan wajah memerah menghindar dari Riska.
Deg, deg, deg, jantungnya berdetak sungguh cepat.

Rupanya Riska tidak benar-benar tertidur, ia menyadari perkataan Ardhan sedari tadi, "Ardhan cuma boleh ngelihat dengan tatapan kayak gitu ke wajah mahrammu aja, yang kayak tadi bisa jadi dosa."

"Ma-maaf Mbak..." Lirih Ardhan dengan jantung masih berdegup kencang, jujur rasanya malu, tapi dia tidak berniat begitu. Walau menyukai, tapi kebiasaan Ardhan adalah melihat sesuatu secara acak dengan waktu yang lama.

Meski berkata seperti itu, pipi Riska juga sedikit memerah merona, kemudian Ardhan dengan bibir bergetar memberanikan diri bicara,

"Aku... Em, Mbak Riska! Aku suka sama Mbak.."

Riska bangun dan menyandarkan kepalanya pada tangannya sembari bertanya, "Tapi kita beda 2 tahun, Zal?"

"Itu... Gak ada hubungannya, saat kita dewasa juga gak ada yang berubah tuh..." Ucap Ardhan tanpa menatap Riska karena masih malu.

Perempuan itu terdiam, "Ardhan, kalau ngomong liat sini."

"Maaf, nggak.."
"Ardhan."

"Nggak, Mbak Riska..." Ucapnya dengan pelan, semakin lama dia meladeni perempuan itu semakin bergetar pula suaranya.

Prince Charming [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang