7- Kakak-Adik

56 4 0
                                        

Beberapa hari kemudian...

Ezra menenggelamkan kepalanya kembali di meja, Rizal merasa heran kenapa Ezra akhir-akhir ini tiba-tiba seperti itu.

"Lu kenapa, Zra?"

Ezra mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat kusut dan lesu, "Zal, jika ada seseorang yang kau kenal, dekat, maybe? Dan dia merahasiakan sesuatu yang ingin kau tahu menurutmu bagaimana?"

"Memangnya siapa, Ezra?" Tanya Andre yang sedang mendata keuangan organisasi.

"Kalian berdua jawab saja." Singkatnya.

Andre dan Rizal berpikir, dan Rizal yang pertama memberikan pendapatnya, "Mungkin dia tak ingin memberitahu hal yang ia anggap rahasia? Entahlah, Gua ngga terlalu paham.."

"Ah, misalnya saja... Privasi" celetuk Andre tiba-tiba.

Ezra terbelalak kaget sampai dirinya berdiri dari kursi, "Pri-... Privasi?!!"

PAK! Rizal menumbuk tangan kirinya dengan tangan kanannya -sebagai alas- sebagai isyarat setuju, "Ah! Bener itu, Ndre!"

"Kalau soal privasi aku pastinya juga tidak akan cerita." Kata Andre sambil tersenyum.

Suasana hari Ezra menjadi semakin buruk sekarang, dirinya menjadi malas bicara. Rizal dan Andre menjadi bingung dan berpikir salah mereka dimana?.

Di atap gedung sekolah...

"Yah, begitulah kak. Mereka terus mengganggu saya tanpa memberikan kesempatan untuk berpendapat..." Ucap Nana dengan sedikit menunduk.

Januar yang melipat tangannya di dinding pembatas rooftop terdiam sejenak dan tersenyum tipis, "Apakah luka di lenganmu juga salah satu kelakuan mereka?"

Seketika Nana terkejut mendengarnya, "Hah? Kakak kok-"

"Haha, sebelum ke sini, kamu terus megang lenganmu. Tenang saja, aku bukan cenayang." Canda Januar.

"Tapi apa kamu tidak apa-apa?"

Nana menunduk, "Saya... Hanya ingin belajar dengan tenang..."

Januar terdiam mendengarnya dan berbicara, "Apa kau dekat dengan Destiny?"

"O-oh? Yah, Destiny salah satu teman pertama saya sebelum saya mengikuti program pertukaran pelajar..." Ucap Nana.

"...Ah! Saya juga tahu kalau Destiny itu sebenarnya kakak kembarnya kakak..."

Januar membalasnya dengan anggukan tanda membenarkan, "Ya, tapi Destiny terkena kecelakaan dan sekolahnya tertunda 6 bulan. Aku tidak tahu apa alasannya menolak program akselerasi dulu, sehingga aku berada ditingkat 3 sedangkan dia masih ditingkat 1."

"Aneh, ya?" Ujar Januar sambil terkekeh.
"Ah, tidak kok."

CKLAK! Pintu untuk menuju rooftop atap gedung sekolah tiba-tiba terbuka yang membuat mereka terkejut.

"Ketua Osis?!".
"Ezra?" Tanya Januar keheranan.

Ezra menatap mereka berdua dengan tatapan datar dan dingin, membuat Nana tersentak kaget, Ezra memang dingin tapi tak sedingin itu.

"Ada yang ingin kubicarakan empat mata dengan Januar. Yang tidak bersangkutan silakan undur diri." Kata Ezra.

Nana menunduk, ia seperti memiliki salah dengan Ezra namun apa?.

Januar menatap Nana dengan tersenyum kasihan, "Maaf ya, kita lanjutkan lagi nanti."

Blam! Pintu ditutup oleh Nana.

Januar yang masih bersandar di dinding rooftop menatap pemandangan melihat Ezra yang berwajah kesal dengan tersenyum, "Kenapa Zra?"

"Tidak ada, hanya saja kau tidak boleh menggoda adik kelas begitu. Playboy." Kata Ezra, sudah jelas sekali Ezra mengalihkan pertanyaan sebenarnya.

Prince Charming [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang