Kanza Pramudya, telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik serta perhatian diusianya yang sekarang menginjak 13 tahun.
Kemudian dia datang ke suatu tempat yang diberitahu Nana untuk memanggil Ezra.
Dengan mata terpukau, Kanza melihat pemakaman rapi berjejer dengan berhiaskan kayu papan nama saja, sederhana.
"Aku tak tahu kalau ada tempat seperti ini di Surabaya..." Gumamnya, ini suatu hal yang baru untuknya.
Penglihatannya tajam, dia langsung melihat sosok laki-laki yang tengah bersandar di pohon yang terletak agak jauh, di pojok pemakaman. Itu Ayahnya. Di belakang lelaki itu, alias disisi pohon yang lain atau didepannya, terdapat dua makam sederhana di dekat sana.
Gadis ini segera menghampirinya, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, ketika sampai dia mengawalinya dengan berdoa untuk arwah dua penghuni makam yang tak dia kenali itu.
Ezra tanpa berbalik sudah tahu itu putrinya, "Kanza Pramudya..."
"Iya, Papa?"
"Apa kamu tahu... Makam siapa itu?"
Kanza menggeleng dan menjawab, "Tidak, tapi sepertinya Papa tahu, dan kayaknya... mereka itu orang yang berharga buat Papa, ya?"
Tampak tertulis di makam tersebut, dengan nama, "Eza S Pramudya" dan di makam sebelahnya lagi, "Nakamoto Takagi".
Lelaki itu tersenyum menunduk belum berbalik, tak mau dirinya yang dikenal sebagai orang yang "sederhana dan lugu" oleh anak-anaknya memperlihatkan ekspresi barunya, kembali mengajukan pertanyaan dan bertanya dengan suara perlahan, "Mengapa kamu pikir begitu?"
"Karena... setiap sehabis lebaran, kita hanya berziarah ke makam Paman Indra, kakaknya Papa, kan? Dan, ini... pertama kalinya aku lihat Papa berziarah ke makam lain selain makam Paman Indra..." Jelas Kanza dengan pelan, dia agak takut mengucapkan kata yang salah di tempat yang sensitif.
"Apa ini terlihat seperti berziarah?"
Kanza tak terpikirkan apapun, karena memang itu yang ia pikirkan, "Iya...?"
Lelaki itu terbelalak mendengarnya, benar juga, seperti apapun dia ingin mengunjungi adik-adiknya, orang-orang pasti akan mengatakannya sebagai ziarah, apa sih yang dia harapkan selama ini? Silaturahmi dan bertamu? Omong kosong, dia berbicara panjang lebar kepada kedua makam tersebut pun tidak akan ada yang menjawabnya.
Karenanya wajahnya jadi tersenyum lemas dengan wajah yang sendu.
Membuat terputar kembali ingatan saat-saat terakhir Eza dan Takagi.
FLASHBACK
EZRA POV
DUAK!!! GLANG!!
Terdengar seperti ada suara yang sangat keras seperti tabrakan... dan pukulan dari sebuah benda seperti pentungan atau sebilah kayu, apa yang terjadi?
"Suara apa itu?" Tanya Rizal keheranan menoleh ke arah Gapura makam, pintu masuk-keluar dari area pemakaman.
Aku yang juga mendengarnya, turut menoleh dengan terheran, namun kedua suara keras tersebut membuat firasat buruk. Hei, jangan bilang-
"Dek Eza! Katakan sesuatu! Dek Eza!! DEK EZA!!!"
Rizal kaget mendengar seruan Andre, "Andre?! Ada apa dengan mereka?! Ezra!"
DEG!
Kacau, perasaanku semakin tidak enak
Ezra bergegas ke luar area pemakaman ketika juga mendengar seruan tangisan Andre, disusul Rizal dan Zack.
"Eza...?" Tanya Ezra, matanya terbelalak melebar ketika melihat Andre sedang merangkul tubuh adiknya yang tidak sadarkan diri, simbahan darah dari tubuh gadis kecil itu membuatnya kaku bagaikan patung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)