"Tuhan!! Persiapan kuliah di luar negeri sebanyak ini?! Yang benar saja!" Rizal melempar lembaran-lembaran kertas dan bersandar di kursi.
Andre fokus menatap layar laptop dibalik kacamatanya, dia tidak ada waktu meladeni keluhan Rizal seperti biasanya sekarang, waktu sudah semakin tipis.
"Eh iya, Ndre! Persiapan anggota osis baru sudah beres, kan? Untuk orasi dan lain-lain, bagaimana?"
"Pengajuan terkait anggota sudah kita urus sebelum insiden dengan Tudung Merah bersamaan dengan pengurusan vendor buku tahunan kita dan kakak kelas, kan?" Ucap Andre tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Waktu itu kenapa kita masih ngurus vendor buku tahunan kakak kelas, ya?" Rizal mengingat-ingat.
Andre menatap heran, "Hah? Kan ada Osis kelas 2 yang melakukan penggelapan dana, hingga buku tahunan kurang dari yang dipesan. Mana kakel baru bilang setelah hampir setahun, makanya urusan sama vendor rumit banget kemarin."
"Akhirnya Ezra dan Januar lakuin evaluasi habis-habisan angkatan mereka, aku ingetnya sampai merinding, 3 jam aku jadi patung di ruangan liat Ezra dan Januar..." Andre bergidik ngeri mengingat tampang Ezra dan Januar yang murka terhadap adik kelas mereka.
Rizal menghela nafas kesal, kenapa Ezra tidak mengajak dirinya? Rizal tidak akan setengah-setengah jika sedang marah.
"Eh iya, Ezra sudah ngasih tahu belum calon ketua osis nya? Sebagai hukuman atas insiden penggelapan dana itu, angkatan kelas 2 tidak boleh ada yang menjabat jadi ketua dan paling tinggi pun hanya bisa sebagai wakil,"
"Artinya, calon ketua osis tahun ini... adalah angkatan kelas 1, benar?" Tanya Andre.
"Calon ketua osis dari kelas 1, akan diberi hak istimewa yakni otoritas penuh mengatur angkatan kelas 2 sebagai hukuman insiden penggelapan dana itu...." Rizal menghentikan kata-katanya.
Andre menyela, "Zal, aku itu tanya siapa calonnya. Soalnya Ezra cuma bilang sekretarisnya Dek Rina."
Rizal tersenyum, "Siapa lagi?"
"Hei, jangan bilang..."
Sontak Rizal tertawa, "Haha! Sepertinya bakal ada yang menuruni duo Ezra Januar. Tahu kan mereka se-gacor itu? Ezra yang berpikir logis, dan Januar si ahli strategis."
"Aku kasihan dengan calon ketua barunya..." Andre hanya keheranan, dan kembali menatap layar laptopnya.
Kembali pada Nana...
Nana mengunci rapat pintu kamarnya mengaktifkan flashdisk itu di laptopnya, "Sudah kuduga Ayahanda menyembunyikan sesuatu. Tapi kenapa flashdisk?"
Tidak sulit untuk mengoperasikan apa yang ada didalam flashdisk tersebut, perlu beberapa tahapan, dan selesai.
TIK!
"Video? Kuharap videonya tidak aneh-aneh..." Rasa curiga menyelimuti gadis itu sambil memberikan sentuhan terakhir agar video tersebut terputar.
Nana terbelalak melihat sosok yang muncul ketika video tersebut diputar, "Kak Ezra?!"
"Apa-apaan...."
Masih tidak percaya. mengapa ini ditujukan padanya? Nana meminta jawaban dimana Takagi dan yang muncul malah Ezra.
Begitu video dimulai, tampak Ezra yang duduk sambil tersenyum menatap lensa kamera.
"Untuk Nana teman masa kecil yang kutemui di rumah sakit, di 10 tahun yang lalu."
"Tidak masuk akal. Tapi aku sangat yakin, kamu adalah teman masa kecilku 10 tahun yang lalu. Saat kita bertemu secara tidak sengaja di sebuah rumah sakit. Selama 5 hari kita menghabiskan waktu di rooftop rumah sakit untuk bermain dan mengobrol, ingat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)