Nana berjalan pergi setelah mengucapkan kalimat itu.
"Na... Nana!" Panggil Ezra dengan mengumpulkan keberaniannya.
Panggilan dari Ezra membuat Nana berbalik dengan pandangan membelalak, disertai perasaan haru.
Mereka saling bertatapan di waktu itu.
*****
"Dia gak mungkin Nana... Nana kan gak ketus..." Ezra mengakhiri halusinasinya.
Tenang semuanya, jangan terburu-buru, hal tersebut hanyalah pikiran Ketua Osis ini.
Mungkin berjalan santai bersama adik kelasnya ini bukan hal buruk. Selain karena gadis ini bukan penggemarnya, lagipula kakinya sedang sakit karena jatuh dari beton dan tidak terlalu kuat untuk parkour lagi.
"Sepertinya kita memiliki arah yang sama, aku ikut kalau begitu." Ezra perlahan bangkit dan berjalan.
Nana tampak tak senang padahal niatnya ingin menikmati waktu sendiri, namun dia juga ingat harus sopan khususnya terhadap kakak kelas, "Jaga jarak, jangan terlalu dekat. Minimal 2,50 meter."
Ah, mungkin... tidak begitu sopan juga?
Ezra sedikit kesal karena Nana melihat dirinya seperti sebuah parasit.
"Santai, kita tidak sedang masa pandemi."
Mereka akhirnya berjalan dengan Ezra didepan dan Nana di belakang tanpa bicara sepatah katapun. Keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Di hitung-hitung mereka telah menempuh perjalanan selama 20 menit, namun terasa sangat lama disebabkan tidak ada percakapan apapun sama sekali.
Keduanya benar-benar tidak ada yang memulai pembicaraan.
Ezra rasanya ingin kembali ke rumah dengan parkour, namun sayangnya dia takut dicap sebagai lelaki 'tidak punya hati', karena meninggalkan perempuan sendirian di jalan, menyesal sekarang mengajak adik kelasnya untuk pulang bersama.
Sedangkan Nana sangat ingin menyuruh agar Ezra pulang lebih cepat, dirinya ingin menikmati perjalanan pulang sendirian dengan tenang.
Tak lama Ezra melihat dari kejauhan, wilayah yang dilewatinya mulai kosong dari rumah-rumah warga, seperti sengaja disediakan khusus.
Khusus? Ya, dari kejauhan ada sebuah rumah yang sangat besar, dengan pagar berwarna emas dengan kombinasi kehitaman yang menunjukkan aura elegan. Sepertinya wilayah itu disediakan untuk rumah ini.
"Sampai sini saja, Ketua Osis bisa pulang."
Jangan tanya kenapa Nana menyebut Ezra dengan sebutan itu walau dirinya telah mengetahui nama Ezra. Pulang bersama lelaki menyebalkan ini membuat suasana hatinya turun drastis hanya sekedar untuk menyebut namanya.
"Apaan? Jadi itu rumahmu?"
"Ketua, tolong bisa pulang-"
Ucapan Nana tiba-tiba terpotong karena terdengar suara lari yang kencang, yang dihasilkan dari suara tepukan antara alas sandal kayu dengan aspal.
"ナカモト-おねえさん!"
( Kak Nakamoto! )
"Takagi, jangan lari-lari!" Nana berusaha memperingati anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun yang berlari kearahnya.
"ねえさん!!"
Nee-san!!
( Kakak!! )
Anak laki-laki dengan bahasa jepang yang bernama Takagi itu datang memeluk Nana. Posisi itu memudahkan siapapun yang melihatnya dapat menilai bahwa tinggi si anak laki-laki dengan Nana beda 15 cm.
Ezra terkejut melihatnya, "Apa-apaan...?"
"も高木、きみは成長し"
(Takagi, kamu udah besar lho)
Kata Nana sambil mengusap kepala adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)