20- Merelakan

75 2 0
                                        

"Alhamdulillah, Nona sudah membaik! Kemarin kondisi Nona parah sekali, dek Taka sampai histeris lho, Non!"

Nana tersenyum menatap Mbak, rasanya menenangkan dapat bertemu Mbak lagi. Walau tidak ada hubungan darah, namun Mbak memperlakukan Nana dan Takagi benar-benar sangat baik.

"Nana juga kangen sama Mbak..." Lirih Nana sembari tersenyum untuk menenangkan perempuan itu.

Mbak menahan air mata, rasanya terharu sekali. Syukurlah anak majikan yang sudah dianggapnya sebagai keponakannya itu seiring waktu membaik.

"Non, sebenarnya kenapa Non bisa kayak gini? Pertama ini terjadi ketika Nona pingsan di kamar karena demam kata Tuan Besar, terus diarahkan rawat jalan oleh Dokter, tapi setelahnya beberapa hari kemudian kondisi Non makin parah dan dibawa ke Rumah Sakit, sebenarnya Nona sakit apa?"

Raut wajah Mbak menunjukkan kekhawatiran. Nana tidak suka berbohong, namun dari penjelasan perempuan itu, sepertinya Ayahnya tidak ingin siapapun tahu soal yang dialami dirinya, bahkan pembantu dan pengurus rumah.

"Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula saya hampir membaik..."

Bohong, lirihan yang keluar dari mulutnya adalah bukti, bahwa kondisi tulang rusuknya masih belum baik-baik saja dan terasa sakit sekali jika mengambil nafas.

"Nona yakin? Jangan sungkan cerita ke saya, toh saya juga pengen berusaha yang terbaik buat Non Nana sama Dek Taka."

Gadis itu tersenyum mengangguk dan sabar menenangkan keras kepala seorang pengurus itu, wajar saja karena Mbak yang selalu membantu keperluannya dan Takagi.

"Tapi Takagi ada dimana sekarang, Mbak? Saya bangun tidur namun tidak bertemu Takagi?" Tanya Nana keheranan.

Mbak terdiam sejenak, "Dek Taka agak aneh hari ini, Non,"

"Maksud Mbak?"

"Hari ini Dek Taka menyicil latihan agar selama 16 hari, Dek Taka tidak latihan,"

"16 hari... Sehari Takagi latihan 15 menit, jadi hari ini Takagi berlatih selama 4 jam?" Nana sedikit tertegun mendengarnya, kenapa adiknya tiba-tiba memaksakan diri seperti itu?

Mbak mengangguk membenarkan kepastian dari Nana.

"Nggih, Non. Tapi di tengah-tengah latihan, Dek Taka dapat telepon tidak tahu dari siapa. Sontak perilakunya menjadi tegang ketika bertelepon, setelah selesai, Dek Taka langsung pergi dan belum kembali sampai sekarang." Jelas Mbak dengan tampang khawatir.

Nana terdiam, tidak memberikan reaksi maupun komentar dari penjelasan itu.

"Anu... Nona tidak usah khawatir! Dek Taka pasti tidak apa-apa, mungkin sedang ada keperluan mendesak."

"Ah, iya Mbak."

Dibalik senyuman gadis dengan pakaian pasien itu, bukan itu yang dikhawatirkan dirinya. Melainkan soal 'ekspresi' yang adiknya tunjukkan.

Nana sangat hafal sekali, pasti ada sesuatu, membuat Takagi menjadi sangat syok bukan kepalang.

"Takagi, semoga baik-baik saja. Tetap kuat..."

Di markas Tudung Merah...

Naren tengah duduk di atas tiang, mengingat perbuatannya sebelumnya sembari menatap telapak tangannya, seakan hanya mimpi bahwa ia baru saja menghabisi seorang perempuan dengan keji.

Kemudian terdengar suara langkah kaki, namun Naren sama sekali tidak menoleh, perasaan mengganjal timbul setelah dirinya melihat tubuh gadis itu terkapar dengan simbahan darah segar.

"Naren, melihatmu disini yang artinya, kau sudah selesai?" Ternyata Zack.

"Ya."
"Cepat juga."

Zack terdiam sejenak, ia paham yang dibunuh oleh Naren adalah seorang perempuan, apalagi itu adik tiri Zack sendiri.

Prince Charming [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang