*expected to read while the soundtrack goes*
"Eza?"
"Maafkan aku... Ezra... Aku..." Andre mendekap tubuh gadis itu sembari menatap Ezra dengan terisak, hampir tak sanggup mengeluarkan suara.
Ezra terbelalak, tubuhnya seketika kaku, melihat simbahan darah membasahi hampir sekujur tubuh adiknya, sekuat tenaga lelaki itu berusaha mengendalikan dirinya, namun hatinya mulai diliputi rasa takut, harapannya mulai sirna.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ezra dan segera menghampiri Andre dan Eza yang tak sadarkan diri.
Andre berusaha tenang dan menahan tangisannya, Ezra butuh penjelasan, keterlaluan jika meladeni rasa sedih diri sendiri, walau hatinya bergetar dipenuhi rasa bersalah karena gagal melindungi gadis yang berada di dalam dekapannya ini.
"Dia diserang oleh pengendara motor!" Kata Andre dengan tatapan tajam menatap tubuh mungil itu sembari menahan isakannya.
"Hah?! Bagaimana bisa?!" Ezra bertekuk lutut di depan Andre dan terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu.
Rizal keluar dari area pemakaman dan sangat kaget melihat kondisi Eza dengan simbahan darah segar di sana.
"Eza?! Hei ada apa ini?!!" Rizal segera menghampiri mereka.
Sedangkan Zack menatap mereka sejenak, sejenak pandangannya menangkap wajah dingin adiknya, rasa mengganjal mulai timbul dihati sehingga dirinya memilih langsung berbalik pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.
"Naren yang melakukannya..!" Andre terus berucap sembari perlahan mengusap darah yang menghiasi wajah mungil itu.
"Naren katamu?!! Kenapa bisa-... kurang ajar beraninya dia..." Rizal berdesis menahan amarah.
"Andre!! Angkat dia! Rizal, hubungi Takagi agar mengamankan Nana, kalau perlu pergi ke sana! kita tidak tahu apa mereka akan mengincarnya juga!" Ucap Ezra yang siap memasang punggung, mengisyaratkan Andre untuk menaruh Eza di punggungnya.
Andre langsung mengangkat Eza ke punggung Ezra dan dengan segera mereka menuju rumah sakit dengan berjalan kaki.
"Ya!" Sedangkan Rizal segera berlari pergi dengan keringat bercucuran dan rasa khawatir, perlahan ingatannya terputar, ketika Indra berada di punggungnya dengan posisi kritis.
"Tidak... Tidak... Jangan sampai..."
"Eza..."
Rizal mulai terserang rasa panik, namun setidaknya... Masih ada harapan.
Belum terlambat, kan?
****
Ezra berjalan cepat untuk menuju rumah sakit terdekat, jika melakukannya dengan berlari maka itu bisa membuat pendarahan pada luka Eza menjadi semakin parah.
"Jangan khawatir Eza, kita hampir sampai ke rumah sakit." Ezra tersenyum tipis sembari terus fokus berjalan.
Andre khawatir dengan Ezra mengetahui kondisi Eza benar-benar serius, bahkan pakaian Ezra mulai ternodai oleh simbahan darah, tersisa jaketnya saja yang sekarang dipegang oleh Andre.
"Semoga baik-baik saja... Dek Eza. Ya Allah, tolong..."
Andre terus menerus memanjatkan doa. Dirinya benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dari kedua bersaudara itu sambil terus mengawasi apakah akan ada serangan mendadak lagi dari Naren.
"Ezra...?"
Tiba-tiba terdengar lirihan lemah yang langsung ditangkap oleh pendengaran dua lelaki itu.
"Dek Eza!" Andre sungguh lega ketika mendengar suara gadis yang berada dipunggung Ezra itu, rasa syukur terus diucapkan dihatinya, benar-benar.
"Za?" Ezra membalas sahutan adiknya itu dengan pelan dan lembut sembari melangkahkan kakinya lebih cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Jugendliteratur"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)