Sekarang sudah memasuki bel pulang sekolah, lingkungan jadi ramai karena para murid menunggu dijemput untuk pulang, walau ada yang jalan kaki dan membawa sepeda sebagai kendaraan.
"Ugh... Untung aja Ibu Kantin mau dititipin es krim di freezer kantin. Aku lupa seharusnya beli es krimnya ketika pulang sekolah saja..." Batin Nana sambil menyantap perlahan es krim ditangannya.
"Hai, Na!" Terdengar suara seseorang menyapanya dari belakang dan cepat menghampirinya.
Nana segera berbalik, "Oh, hai Rin."
"Nana, Nana! Kamu mau kemana habis pulang?" Tanya Rina, dia adalah sahabat dekat Nana di kelas.
"Langsung pulang, kenapa emangnya Rin?"
"Wah, gak mampir dulu nih?"
"Haha, gak deh, makasih Rina. Takut ngerepotin Mbak kamu di rumah"
"Dih kalem, emang udah tugasnya Mbak kok- btw kamu beli es krim dimana?! Itu kalau tidak salah dijual di luar, kan?" Tanya Rina dengan cemberut.
Dengan segera Nana terkejut mendengarnya. Di sekolah mereka memang menjual es krim, namun bukan es krim kemasan, melainkan dengan penyajian langsung, dan Rina pasti tahu kalau Nana membelinya di saat jam pelajaran.
"E-Eh? A-aku beli di kantin kok..." Gumam Nana, dirinya tidak pandai berbohong jika sedikit mendesak.
"Aku tahu, soalnya produk es krim instan ini punya iparnya kakekku. Tidak usah bohong, jelek tahu." Kata Rina dengan wajah cemberutnya yang masih terpampang.
Nana kaget sekali lagi, "Hah? Bukannya kamu bilangnya keluargamu punyanya kerja sama dengan es krim Hiigan-Desz yang emang sekolah kita jual?"
"Oh, itu sih punya Tantenya ipar kakak sepupuku."
"Holang Kaya relasi keluarganya jauh ya..."
"Tapi kamu ketahuan bohong! Hayo! Belinya pas bolos, ya?!"
"Iya deh, maaf. Tapi aku kan ga makan pas jam pelajaran, jadi jangan lapor ke guru ya, hehe."
"Bukan itu! Masalahnya aku juga mau!" Ucap Rina.
"Dasar anak ini..."
Tiba-tiba tak jauh dari mereka terdengar suara ricuh, diantaranya suara teriakan hingga kehebohan yang terdengar seperti ada artis saja di situ.
"Ada apa emang?" Tanya Nana yang keheranan.
Rina mengerti, kebiasaan bagi para cewek di SMA mereka setiap pulang sekolah. Sembari mengobrol mereka berjalan ke gerbang sekolah, dan berniat menunggu jemputan di sisi pagar sekolah yang cukup sepi.
"Oalah, mereka kan penggemarnya ketua osis"
"Ketua... Osis? Oh.." Nana biasa saja, karena dia teringat telah bertemu dengan lelaki itu hari ini.
"Kok 'oh' sih? Ketua osis kan keren, apalagi ganteng, pintar pula! Idaman! Oh!! Jangan bilang kamu belum tahu beliau?!! Nana! Kamu emang ikut student exchange dan baru balik 3 pekan yang lalu-" perkataan Rina dipotong oleh Nana.
"Apaan sih? Aku tahu beliau! Lagian juga ganteng pasaran." Ucap Nana.
"Oh tahu, tah."
"Terus?"
"Ih, kok gitu sih?"
"Engga Rin, maksudnya emang aku peduli sama dia? Dia juga bukan tipeku tuh?"
"Bukan gitu, ih!" Kata Rina.
Nana terdiam.
"Jangan khawatir! Besok aku jemput kamu lagi ya!"
"Udah lama aku gak ketemu dia. Andai aja aku bisa ketemu lagi" gumam Nana sambil memikirkan si anak yang pernah mengajaknya bermain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Fiksi Remaja"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)