14- Masa lalu (1)

53 3 0
                                        

"Pak, beli es krimnya satu, ya," Pinta Rina sambil mengeluarkan dompet.

Sekarang dia tengah berada di toko fotocopy yang pula menjual camilan, kebetulan toko ini juga menjadi tempat dimana Nana dan Ezra saling mengenal tidak diketahui oleh siapapun bahkan Rina sendiri.

"Panggil Mas aja toh dek, masih muda gini..." Goda pemilik toko, yah tampangnya memang seperti anak kuliah namun sedikit tidak terawat.

Rina menunjukkan wajah datar tanda tidak suka, dia rela menyelesaikan 50 soal olimpiade kimia internasional ketimbang harus memanggil pemilik toko dengan embel-embel 'Mas'.

"Yang harusnya dipanggil Mas itu saya, Pak." Tiba-tiba terdengar suara yang dikenal oleh Rina.

"Kak Andre?! Kok disini?!" Rina terkejut ketika menoleh, dan melihat Andre yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya sembari tersenyum simpul pada pemilik toko.

Andre tersenyum heran, "Saya kesini buat beli perlengkapan sekolah yang kurang, nggak mungkin saya di sekolah terus, kan? Dan kenapa kagetmu seperti itu, Rina? Seperti ketahuan selingkuh saja."

"Siapa yang selingkuh?! Enak aja!" Gerutu Rina, entah kenapa Andre yang biasanya soft spoken tiba-tiba melontarkan ejekan seperti itu.
Bagi orang mungkin sedikit biasa, namun untuk Rina itu sedikit... Menyeramkan. Mungkin karena yang mengatakannya adalah Andre?

Pemilik toko terkekeh, "Becanda doang, Mas Andre. Mau beli apa, mas?"

"Mau rautan pensil sama satu set jangkar deh, Pak."
"Wah, beneran gak dipanggil Mas sayanya, ya."

Andre terkekeh, "Bapaknya kan udah 30."

"Saya masih 27, mas."

Perempuan itu menatap tampang pemuda dari sisi samping, tatapan hingga kepribadiannya benar-benar terlihat sangat tenang dan polos.

"Ayo, Rina, kenapa ngelamun? Ada yang mau dibeli lagi?" Tanya Andre.

Seketika perempuan itu tersadar dari lamunannya, "A-ah! Bentar, aku mau bayar dulu-"

"Sudah, anggap aja traktiran. Ayo pulang, udah mau jam 2." ajak Andre sambil menenteng tas dan jaketnya.

Rina terkejut, apa? Jadi ketika Andre bercengkrama dengan pemilik toko, disitu dirinya pula membayarkan belanjaannya?

Dengan segera Rina mengambil es krimnya dan berlari kecil menghampiri Andre.

"Kak Andre apaan! Kenapa tiba-tiba?!" Tanya Rina dengan sebal.

"Haha! Anggap aja sebagai penyemangat ujian."
"Nggak sekalian penyemangat hidup, kak?"

Andre terkekeh mendengarnya, rasanya seperti mendengarkan celotehan adik perempuan, kebetulan dia hanya memiliki adik sepupu, itupun masih berusia 5 tahun.

Pemilik toko melihat keduanya berjalan bersama dan saling berinteraksi, melihat hal itu membuatnya tersenyum.

"Masa SMA memang menyenangkan."

Mereka berjalan bersama sembari mengobrol dan saling bercanda, melepas beban setelah memeras otak demi menyelesaikan soal yang mempertaruhkan nilai.

"Kakak tumben nggak bareng kak Rizal dan kak Ezra? Oh, atau kak Ezra masih dirawat?" Tanya Rina dengan berbisik memastikan tidak ada yang mendengarnya.

"Oh tidak. Alhamdulillah Ezra sudah sehat dan bisa ikut ujian tadi, namun dia seperti ada urusan mendadak jadi pulang duluan. Sedangkan Rizal sudah pulang karena kecapean." Jelas Andre dengan singkat.

Rina mengangguk sebagai isyarat mengerti, tiba-tiba Andre bertanya kembali.

"Kalau Rina sendiri? Tumben tidak dijemput? Setahu saya, Rina selalu diantar jemput, kan?"

"Ah-ahahaha..." Rina terkekeh pelan dengan pandangan ragu dan bingung, mana mungkin dia bilang kalau dia mencopot setir mobil supirnya agar dirinya tidak diantar jemput?

"Bannya kempes!"
"Oh? Oh oke..."

"Btw keadaan dek Nana gimana?" tanya Andre mengalihkan pembicaraan.

Rina sedikit menunduk, "Nana tidak dapat mengeluarkan suaranya karena terdapat luka di area dada yang terasa sakit apabila mengambil nafas. Jadi dia belum bisa bicara apapun..."

"Ya ampun..." Andre benar-benar sangat khawatir, dia tidak habis pikir separah itu kondisi Nana, apa saja yang sudah diperbuat Tudung Merah waktu meneror Nana? Sungguh, Ezra bisa pingsan jika mengetahui hal ini.

"Tapi kamu tidak apa-apa, dek Rina? Apakah mereka melukaimu?" Tanya Andre.

Rina menggeleng, "Tidak, tentu saja. Aku kan saudaranya Baba Yaga!" Ucapnya dengan tersenyum bangga.

Lelaki itu terbelalak dan seketika isi kepalanya membayangkan perempuan itu berpenampilan seperti nenek sihir.

"Haha! Tidak bisa dibayangkan! Hentikan." Andre tidak ingin terlalu banyak tertawa.

Rina terbelalak dan sedikit tersipu, "Kenapa aku mengatakan seperti itu tadi..." Gumamnya.

Kemudian lelaki itu perlahan menoleh ke perempuan yang berjalan berdampingan dengannya, tubuhnya yang lebih pendek membuat hal itu terasa lucu, namun bukan itu alasan Andre melihat Rina.

"Rina, kakak mau tanya."
"Ya, kak?"

"Kamu... Mau tidak, berhenti dari menjadi pihak dek Nana?"

Di kamar Rizal...

Rizal sedang melamun sembari menatap langit-langit kamarnya, seragamnya dia biarkan berserakan karena saking lelahnya sehabis ujian.

"Yah, Andre malah curi-curi kesempatan... Padahal Gw yakin Rina ngga bakalan pengen berhenti dari pihaknya Kirana. It's not possible..." Gumamnya.

"Hmm... Ezra Pramudya. Gw jadi ingat pertama kali ngenal dia...

5 tahun yang lalu...

BUAK! BUK! BAK!! Rizal di hajar habis-habisan karena tak mau menuruti perintah kakak kelasnya, itu adalah ketika dia menduduki bangku kelas 2 SMP.

"Lu kagak usah belagu! Kalau lu mau tetap aman di sekolah, turutin apa yang kita-kita mau!"

Rizal terdiam di posisinya, "Heh, sekarepmu bang mau ngomong apa. Gw punya harga diri, gak bakalan takluk ama Lu pada, kasta kelas lebih tinggi tapi otak kayak anak SD. Sih gimana belajarnya?"

"Anak-anak TK aja udah pada nurut dan sopan sama orang yang lebih tua, masa kalah? Haha! Payah!" Kata Rizal.

"Kau... Jangan meremehkan kami!!" Tinju yang terlihat kekar itu membuat Rizal pasrah, paling pulang sekolah dia akan mampir dulu membeli perban dan obat disinfektan.

DUAK!! Tiba-tiba si kakak kelas yang ingin meninju Rizal langsung terpental.
Dan semua kakak kelas langsung ambruk dan tak sadarkan diri begitu Rizal perlahan membuka matanya.

Rizal bengong pelongo, tidak tahu apa yang terjadi.

"Ribut banget, lolipop ku jadi hambar nih."

Rizal berbalik ke belakang nya dan melihat seorang lelaki seumuran dengannya duduk di tembok pagar sekolah sambil mengulum permen bertangkai.

Dan itulah pertama kalinya gw ketemu Ezra.

"L-Lu yang hajar mereka?!" Tanya Rizal.

"Bukan, dukun tengah jalan. Ya iyalah, gak liat?" Tanya Ezra.

"G-Gak gitu maksudnya.." Kata Rizal.

Ezra terdiam menatap Rizal, kemudian melompat turun sembari menghampirinya.

"Kau keren, mau temenan gak?"
"Eh?"

Akhirnya, Ezra jadiin Gua temannya, Gua gak paham apa alasannya. Rupanya, dia juga anak yang lumayan santuy di bandingkan anak-anak seusianya.
Ia juga sangat populer, tapi karena sikapnya yang "Bodo amat" yang menyebabkan ia dijauhi, tapi dia anak yang cukup asyik, pintar, dan enak diajak ngobrol.

"Ra, Lu bisa ngehajar kakak-kakak kelas hebat kayak gitu gimana?" Tanya Rizal.

Ezra menjawab tanpa menoleh, "Aku diajarin sama kakak."

Seriusan di ajarin kakaknya?! Sehebat apa kakaknya?!. Begitu pikir Gua, karena Ezra saja bisa sehebat itu, apalagi kakaknya?.

Hingga kemudian Gw bertemu dengan Kakak serta Adiknya.

Prince Charming [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang