Ezra tengah bersandar di dinding rooftop rumah sakit yang mengarah langsung ke pemandangan yang mulai terasa perubahannya dari 10 tahun yang lalu.
Dengan hati gundah, Ezra hanya bisa bergumam dalam hati, bagaimana lagi? Hati hampir tidak bisa ditebak siapapun
"Nana, sampai saat ini pun kau tidak datang. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi ya?"
"Apa mungkin... Nana takkan mau bertemu denganku? Seharusnya dia sudah mendapatkan flashdisk itu dari Tuan Ichiro- Ah tidak, akan kutunggu Nana kapanpun sampai dia akan datang. Rina sudah bilang kalau Nana sudah masuk sekolah."
SRET!
Tiba-tiba saja ada sebuah material besi tipis, ringan nan dingin menempel di leher Ezra.
Ezra tak bergerak karena lumayan kaget sebab dia tak mendengar suara langkah kaki sedikitpun, apa ini? Reflek dan kepekaannya berkurang? Bahkan dia baru menyadari beberapa detik kemudian bahwa yang menempel di lehernya adalah pisau bedah.
"Pemandangannya tak banyak yang berubah, kan? Jadi, apa yang ingin dibicarakan?" Terdengar suara seorang gadis tak asing berdiri tepat dibelakang lelaki itu dengan menodongkan pisau bedah yang dibawanya.
Mantan Ketua Osis ini semakin terbelalak, hampir saja dia meneteskan air mata karena dapat bertemu gadis yang mencuri hatinya satu dekade lalu.
"Nana... "
"Sudah berapa lama menunggu?"
Berusaha menjawab tanpa menoleh, seakan-akan benda besi tajam itu dapat menggores urat nadi di lehernya kapan saja, "Setelah membuat video itu, artinya aku sudah menunggu sejak 3 pekan yang lalu, seperti ini, setiap malam..."
"Aku turut berduka cita atas berpulangnya adikmu. Lalu, menunggu tanpa memberitahuku itu tidak masuk akal. Jika aku tidak sadar, bisa saja kau menunggu disini selamanya, lho? Kuharap apa yang kau tahu itu setimpal dengan apa yang kuinginkan."
Dengan menelan ludahnya sendiri, Ezra mengangkat tangannya yang memegang sebuah surat amplop terbungkus rapi, "Aku... tidak keberatan menunggu disini selamanya. Dan, tentang Eza sudah kau dengar, ya? Ini, aku ingin memberikanmu ini..."
"Surat pertemuan konsultasi dengan pengurus lama Osis. Pertemuan yang diadakan di ruang Osis dengan kandidat pengurus baru, tanpa itu kau tidak bisa masuk..." Tambah Ezra lagi, lehernya yang dibanjiri keringat sudah mulai terasa pegal karena tidak bergerak sedikitpun.
Nana tak bereaksi apapun, "Hanya itu?"
Akhirnya, topik utama, Ezra kemudian memberanikan diri untuk bicara, "Tentang... kemana Si Bocah Jahil. Akan aku beritahu, ketika kau tidak sadarkan diri saat itu..."
"Jadi bisakah kita bicarakan ini di situasi normal? Aku akan melupakan setiap kejadian sebenarnya jika terlalu gugup. Tolong pisau bedahnya... " Suara Ezra terdengar agak gugup.
Nana menyingkirkan pisau bedah itu dari Ezra sambil menuntut penjelasan, "Ceritakan semuanya."
Ezra kemudian bergerak perlahan dan mengisyaratkan Nana untuk duduk di kursi yang memang disediakan khusus untuknya. Tak ingin mengambil pusing, Nana langsung duduk di kursi yang menghadap pemandangan yang indah, namun keinginannya meminta penjelasan mengalahkan rasa kagum dan mencegah berputarnya memori lama.
Sedangkan Ezra? Dia tetap di posisi berdiri dan bersandar dinding rooftop bersebelahan dengan Nana, ditatapnya sebentar mata gadis yang pandangannya lurus menatap pemandangan, namun pandangan dari iris mata Nana bukan seperti dulu yang bahagia terkagum, tapi dengan tatapan datar kosong dan sinis.
Ezra menghela nafas perlahan. Rasa bersalah, sedih, haru, dan senang campur aduk menjadi satu, berusaha mengatur nafas agar dapat bercerita, "Akan ku ceritakan, semuanya..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)