Kaki Andre bergetar dan sempat mundur beberapa langkah disebabkan kaget ketika melihat Farel yang tumbang sekali tendangan, karena disini bukan Farel yang lemah, tapi memang organ vital setiap manusia umumnya memiliki ketahanan yang sama, entah seberapa kuat fisik luar orang tersebut.
Ketakutan mulai menyelimuti dirinya bahkan bisa roboh jika Andre tak mengendalikan tubuhnya, ia melihat Zack bagaikan singa lapar melihat mangsa.
"Bawa Farel ke rumah sakit!" Perintah Rizal kepada beberapa orang kelompok mereka.
"Siap, Mas!"
Zack masih meletakkan tangannya di saku celananya dan tak berpindah, "Disini, jika ada yang ingin mendekati Naren, silakan lewati aku dulu,"
Andre terdiam, dan teringat perkataan Takagi ketika mereka berkenalan -sebagai perantara kedua pihak- dan membahas tentang permasalahan Ezra dan Nana serta Tudung Merah.
Flashback...
"Wah, ternyata ini adiknya Nana, nice to meet you! Tak- Takgi...?" Rizal kesulitan menyebut nama Takagi.
Dengan senyum sopan, Takagi mengulurkan tangan, "Nakamoto Takagi, bisa sapa dengan Ta-ka-gi. Salam kenal juga."
"Wah, iya," Dengan membalas uluran tangannya, komentar Rizal tidak sampai situ saja, "Gua tahu dia bisa bahasa Indo dari Rina, cuma mukanya dia Jepang banget, cuy. Ga bisa ngebayangin dia bahasa Indo sampai dia ngomong sendiri, muka bisa ngebohongin ya, fasih banget lagi..." Batinnya.
Andre turut tersenyum dan menjabat tangan bocah itu, "Sopan sekali, senang berkenalan, Takagi. Disini santai saja, tidak ada senioritas."
"Kata Ezra, adiknya Dek Nana itu gak ada akhlak...? Tapi dia sopan sekali, aku akan mengetes sekalian dengan membuat suasana sesantai mungkin." Rizal dan Andre sudah diberitahu Ezra perihal ketika Takagi menguras 2,5 jt uang Ezra untuk camilan.
"Tentu saja! Terima kasih sekali, saya jadi merasa punya pihak yang lebih berpengalaman untuk diajak berdiskusi!" Takagi tersenyum cerah.
Sungguh, cara bicara dan sikap sopan Takagi hanya membuat kedua anak SMA didepannya itu merasa sangat canggung bukan main.
"Kak Rizal, dan Kak Andre, ya?" Takagi kemudian berbicara didalam hati, "Mungkin jangan menyebut mereka dengan panggilan 'Rizal-Nii', atau 'Andre-Nii', itu akan terasa aneh untuk mereka..." Pikirnya.
Keduanya tersenyum sembari mengangguk.
"Eh, Takagi aman kan kalau aku pakai 'Gua-Lu'? Maaf, kebiasaan dari dulu, aneh kalau gak gitu," ucap Rizal.
"Iya, santai saja, kak."
Takagi kemudian mengeluarkan beberapa lembar dari tasnya yang sudah di klip jadi satu, "Disini ada rangkuman tentang pemimpin serta petinggi Tudung Merah,"
"Sungguh?! Darimana kau mendapatkannya...?!" Rizal terkejut, karena mereka sendiri pun hanya baru dapat menebak aktivitas bagaimana Tudung Merah menghasilkan uang, belum sampai petinggi-petingginya.
"U-uh? Yah... Hanya firasat...? Maksudku, itu... Web gelap di internet? Kadang ada orang yang jual informasi gelap?" Takagi gugup, tidak mungkin dia bilang mendapatkannya karena dia sendiri yang menyusup, kan?
"Hah? Sumpah? Lu maen begituan?!"
"Ah, kawanku, kak! Dia obses pengen masuk Tudung Merah, tapi udah ku tobatin kok!" Ucap Takagi, dia sudah melatih skill untuk berbohong, walau kakaknya melarangnya agar sebisa mungkin tidak berbohong jika bukan dalam keadaan darurat. Ini berguna juga ternyata, pikirnya.
"O-oh, keren sih..." Gumam Rizal yang semakin tidak enak jika bertanya lebih lanjut.
Andre terdiam menatap bocah itu, "Hebat sekali, bahkan sebelum aku dan Rizal berkutik..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)