Takagi menatap layar ponselnya, beberapa waktu lalu Ezra berusaha menghubunginya untuk bernegosiasi.
Izinkan aku bertemu Nana dan kau bisa mengajak Eza ke perpustakaan kota
-Ezra P
"Menyebalkan!! Bagaimana dia bisa tahu niatku?! Orang itu menyeramkan..." Gumam Takagi.
"Takagi?" Terdengar suara lirihan yang lemah dari belakang.
Seketika Takagi tersentak dan berbalik sembari tersenyum, "Ah, Nee-san. Maaf, terlalu berisik, ya?"
"Tidak... Nee-san kangen padamu." Terlihat terukir senyuman di wajah Nana, yang beberapa saat lalu sudah siuman.
Takagi tersenyum haru melihat pemandangan itu, kakaknya hampir pulih, namun dokter mendiagnosis bahwa tulang rusuk kakaknya itu sempat patah karena teror dari Tudung Merah.
Dan tulang rusuk yang seharusnya melindungi paru-paru malah melukai organ itu sendiri, menyebabkan permasalahan serius dalam sistem pernapasan dan hampir membuat kerusakan pada Medulla Oblongata akibat luka berat di kepala karena pukulan yang sangat keras.
*(Sistem saraf di otak yang berfungsi mengatur sistem pernapasan, pencernaan hingga kinerja detak jantung).
"Ya, Nee-san, aku juga..." Takagi tersenyum sambil mengusap air matanya.
Nana tersenyum tipis sembari melebarkan kedua tangannya, dan Takagi yang melihatnya terbelalak dan perlahan berjalan mendekat.
Kemudian Nana mendekap bocah itu dipelukannya, rasanya baru seperti kemarin bocah ini masih seukuran lengannya.
"Nee-san..." Air mata Takagi menetes, tidak tahu, rasanya rasa ketakutannya yang sudah lama dia tahan, sekarang terlepas dan membuatnya lega.
"Kamu pasti takut, ya? Tidak apa-apa, Nee-san akan baik-baik saja. Kamu harus jaga diri, Takagi..." Nana terus membelai kepala adiknya dan berbisik dengan suara yang lembut.
Takagi mengangguk, "Hmm..."
Nana melepaskan pelukannya dan tersenyum meledek, "Nee-san baru tahu kalau kamu suka dengan adiknya Ketua Osis?"
Seketika muncul semburat merah muda di wajah bocah itu, "Nee-san salah paham! Aku, aku hanya-"
"Nee-san juga pernah seusiamu, Takagi."
"Uh..."
Takagi tak bisa menyembunyikannya, namun juga tidak memberikan konfirmasi yang jelas, terlalu memalukan rasanya.
"Eza gadis yang baik, berteman baik dengannya ya. Kalian harus belajar dan menggapai cita-cita dulu. Semoga Eza sehat selalu." Pesan Nana, dia menyukai sikap Eza ketika bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.
Bocah itu mengangguk, "Pasti, dan Nee-san... Aku ingin masuk SMP."
Nana terkejut mendengarnya, padahal adiknya itu sudah seperti putus asa untuk melanjutkan pendidikan karena tekanan keras dari sang Ayah.
"Sungguh? Alhamdulillah, karena seseorang?"
Bocah itu mengangguk mengiyakan.
"Eza-chan?"
"N-Nee-san!! Tentu saja bukan!"
"Haha, Nee-san tahu, lalu? Siapa itu?"
Takagi terdiam kemudian tersenyum tipis, "Yah, sejujurnya aku ingin dia menjadi kakakku, tapi aku tidak ingin mengatur Nee-san..."
Nana terheran, siapa sebenarnya yang dimaksud adiknya?
Kemudian Takagi melihat pesan diponselnya.
Aku sudah mendapatkan Golden Ticket untukmu masuk ke sebuah SMP biasa. Namun akreditasinya luar biasa dengan segudang prestasi, tapi kau tetap dapat menikmati berteman dan bermain dengan teman-temanmu. Tinggal konfirmasi saja jika kau setuju.
Tidak usah berterima kasih.
-Ezra P.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)