34- Dimana Takagi?

46 3 0
                                        

3 hari kemudian...

Nana sudah semakin sehat, dan sudah diperbolehkan untuk berangkat sekolah. Semoga hari ini menjadi hari yang baik, Destiny juga sudah memastikan tidak ada gangguan perundungan dari para murid-murid berandal lagi.

"Non? Sudah siap?" Mbak perlahan membuka pintu.

"Ah, iya Mbak." Jawab Nana disambi memasang bros lambang sekolah di sisi kanan rompi rajut berwarna navy.

Senyuman terukir di wajah mungil perempuan gaun hitam dengan celemek putih itu, rindu sekali dengan ekspresi dan keseharian anak majikannya yang sudah dianggap keponakannya sendiri.

"Non cantik sekali."

"Ah, Mbak belum dikirim gaji sama Ayah? Nanti saya bilang-"

"Tidak, Non! Saya benar-benar memuji Nona!" Mbak merasa panik, kenapa gadis itu tiba-tiba membalas pujiannya dengan tidak biasanya?

Nana tertawa kecil, "Hanya bercanda, Mbak. Kalau kurang bilang saja, ya. Saya juga pegang uang."

Suasana diisi tawa dan senyuman sesaat, sebelum kemudian Nana mengajukan pertanyaan.

"Mbak, Takagi ada dimana, ya? Katanya dia ada camping? Emang sih mendekati penerimaan rapor biasanya ada kemah gitu,"

Sontak reaksi Mbak berubah menjadi tanpa ekspresi dan kaku, rasanya bikin suasana tegang dan agak menyeramkan.

"Mbak...?"

"Nona ayo berangkat, nanti telat."

"Mbak belum jawab pertanyaan Nana-"
"Nona, ayo."

"Mbak nyembunyiin sesuatu, ya?"
"Sekarang gak boleh ada pertanyaan, Non."

"Mbak, saya potong gaji Mbak kalau-"
"Yang gaji saya Ayahnya Non, ayo Non."

Nana sebal, inilah hal yang tidak disukainya ketika bersama Mbak-nya. Jika ada sesuatu bersifat rahasia, Mbak-nya bagaikan The Last Boss untuk mengungkap apa rahasia itu, dan sayangnya sampai saat ini Nana belum dapat mengalahkannya.

Di sekolah...

Menghela nafas, Nana menatap gerbang elegan yang menjadi pembatas wilayah sekolah dan area umum, rasanya cukup berat untuk melangkahkan kaki di tempat dimana harga dirinya diinjak-injak sebelumnya.

Namun mau tak mau harus dia lakukan, begitu berjalan menuju kelas, rasanya suasana seperti berjalan biasa saja, layaknya dia seperti seseorang yang tidak dikenali siapapun, tidak ada pula pandangan menghakimi dan sebagainya.

Membuat detak jantung gadis ini berdebar cepat, bukan takut, melainkan bahagia, inilah yang diinginkannya ketika memasuki lingkungan baru, dimana tidak ada yang berinteraksi dengannya hanya karena memandang latar belakang kekayaan dan sebagainya.

PLUK!

Muncul dorongan dari belakang, disamping muncul pula dua lengan yang melingkari lehernya, memeluknya dari belakang.

"Nana!! Aku kangen!!"

Nana tersenyum, rasanya menyenangkan walau selama ini dia sering bersabar dengan sifat heboh dan random sahabatnya itu, "Rina! Akhirnya ketemu kamu lagi!"

"Kayak gak ketemu bertahun-tahun aja, tapi aku juga kangen!!" Ujar Rina yang awalnya cemberut langsung kembali ceria.

"Lah? Aku kan ga bilang kangen?"
"NANA!"

Tawa gadis itu pecah, menyenangkan sekali meledek sahabatnya itu lagi, sembari berjalan menuju kelas mereka terus bercengkrama.

"Rina."
"Dalem?"

Prince Charming [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang