Ezra berdiri di depan gerbang rumah sibuk memperhatikan ponselnya sembari menunggu adiknya.
"Eza!! buruan! udah siang!!"
Terdengar seruan dari dalam, "SEBENTAR!! Kalau ada ketinggalan nanti gimana?!! kamu ku suruh balik nanti!!"
Seruan itu membuat Ezra cukup merinding dan memilih menyibukkan diri dengan ponsel ketimbang harus menanggung amarah gadis kecil itu jika terjadi sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang menyapanya, "Ezra? lagi sendirian?"
"Destiny?" Ezra terkejut mendengar suara perempuan itu, nampak Destiny dengan pashmina dan berpakaian model kasual menatapnya dengn senyuman merekah.
"Ya! Tumben banget diluar gini, rapi banget lagi! mau kencan, ya?" Goda Destiny sembari berdiri di sebelah lelaki itu.
"Sok tahu, ngga ya." singkat Ezra, posisi perempuan itu cukup mengganggu baginya namun tidak sopan jika memintanya pindah.
Destiny terdiam sejenak, "Kamu... baik-baik aja? kabar perundungan yang kamu dan temanku Nana alami, itu buruk sekali. Nana juga sudah hampir 3 pekan tidak masuk sekolah, kau tahu?"
"Tentu saja, dan aku bisa mengabaikannya tapi Nana mungkin tidak. Itu pasti mengganggu sekali untuknya." ucap Ezra dengan singkat lagi dan sibuk dengan ponselnya.
Perempuan itu mengangguk setuju, "Benar! orang aneh sekali yang melakukan hal itu pada kalian! Dan... pelakunya masih belum ditemukan?"
"Tidak mungkin menuduh orang begitu saja, Destiny."
Hijab bermodel pashmina itu berhembus lembut ditiup angin, namun tak dapat menutupi ekspresi gadis itu yang bersemangat, "Ezra... bagaimana jika pelakunya.. orang yang kita kenal?"
Seketika Ezra terbelalak, bagaimana bisa Destiny dengan cepat menebak analisis yang sebelumnya sudah didiskusikan bersama Rizal, Andre, Rina, Nana, bahkan Takagi? Ah tidak, jangan terburu-buru, bisa saja itu hanya dugaan Destiny, kan?
"Maksudmu?" tanya Ezra dengan suara berat.
"Ah! Tidak jadi, maaf. Seharusnya aku tidak membahasnya..." Destiny menatap Ezra sejenak kemudian memutuskan untuk membahas hal lain.
Ezra terdiam dan berpikir, "Apa mungkin Destiny tahu dari Januar? Wajar aku sering mendiskusikan soal si pelaku pada Januar, karena hal ini begitu krusial. Apalagi Januar ahlinya dalam strategi, ketika dia kutempatkan untuk menangkap Tudung Merah dan murid yang bersekongkol dengan mereka, itu sukses dalam waktu singkat."
"Menurutku, bertukar pendapat dengan Destiny sepertinya bukan ide yang buruk, karena Destiny punya kemampuan intelektual sama seperti Januar. Ah, tidak, Januar pernah bilang mereka sudah jarang berkomunikasi karena sibuk. Apalagi bisa saja Destiny tahu pelakunya, kan?" batin Ezra.
"Ezra! Ezra dengar ngga sih?!" gerutu Destiny dengan sebal.
"Ah, kenapa?" sesaat Ezra terlupa bahwa dia tidak sendirian.
"Jadi kau akan pergi, ya? Lalu sore ini, apakah kau senggang?"
"Huh? yah, entahlah..." Ezra mulai tidak suka pembahasan ini.
"Benarkah? kalau begitu sore ini, apakah kau bisa-"
Tiba-tiba Eza muncul sambil menutup pintu gerbang sembari menyahut.
"Maaf, tapi dia ada janji denganku sore ini."
"Eza," Ezra melihat adiknya itu membawa tas besar segera mendekati dan mengambil tas itu dari adiknya. Berat juga, begitu pikir Ezra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Teen Fiction"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)