Andre terkejut dan hampir berlari untuk menghentikan Zack, "Memakai pistol itu curang, Zack!!"
"Kak Andre...!" Rina berusaha menahan lelaki itu agar tidak bertindak gegabah.
Walau melihat Zack menodongkan senjata api padanya, Ezra hanya terdiam tidak bergerak sedari tadi dari posisi aslinya.
Begitu pertarungan Ezra dan Zack dimulai, wilayah itu membentuk lingkaran dipenuhi oleh Tudung Merah dan anggota Ezra, menonton pertarungan dua pemimpin kubu itu.
Karena ketika pertarungan keduanya sudah dimulai, pertarungan lain sudah tidak ada gunanya, puncak kemenangan ada pada siapa diantara mereka berdua yang akan memenangkan pertarungan.
"Kalau aku kalah disini... Berarti aku akan kehilangan segalanya..." Pandangan Zack tidak berpaling sedikitpun dari Ezra, yang artinya jika Ezra ingin membuat pengalihan berupa serangan fisik pun tidak akan berguna, kecepatan peluru lebih cepat apalagi Zack yang melakukannya.
Takagi tercengang sekarang, dia satu pemikiran dengan Ezra, menyadari juga bahwa Zack sedang serius, tatapan matanya terlihat menyedihkan, "Matanya terlihat sangat depresi..."
"Pergilah dari dunia ini, Ezra..." Desis Zack dan bersiap menekan pelatuk.
"HENTIKAN ZACK! JANGAN TEMBAK! EZRA MENGHINDAR!!" Teriak Andre dengan histeris, takut Zack benar-benar akan melakukannya.
Rina terdiam sembari menahan bahu lelaki itu agar tidak ikut campur dengan menutup mata erat, berharap tidak ada hal lebih buruk yang terjadi.
"Hei, Pria Es Batu!" Takagi akan melangkah untuk membantu Ezra, namun Ezra memberikan isyarat dengan jarinya melarang agar tidak ada siapapun yang masuk ke areanya dan Zack.
Paham akan situasi bagi siapapun yang ikut campur, maka Zack akan langsung menembak tanpa pandang bulu, itu yang ditangkap oleh Ezra untuk saat ini.
Ezra bereaksi tenang, tak bergerak sedikitpun. Ia juga sama sekali tidak terlihat takut meski senjata mematikan itu membidik dahinya. Berusaha mencari sesuatu agar Zack terlepas dari traumanya.
"Kenapa Zack? Cepat tarik pelatuknya, aku tidak akan menghindar. Itu memuaskan dirimu kan?" Ucap Ezra dengan tatapan dingin.
"Kau sedang merencanakan apa..." Batin Takagi yang bahkan sampai dibuat ragu.
Rizal terkejut mendengar perkataan Ezra, apa-apaan? Dia yakin sekali tidak mungkin Ezra tidak memahami situasi saat ini, "Jangan tekan dia Ezra!! Dia sedang serius!!"
"Kenapa Zack?!! Cepat tarik pelatuknya!! Coba dan tembak aku!!" Teriak Ezra dengan marah.
Zack terbelalak dan langsung terbawa emosi.
PLAK!!
Tiba-tiba Dion sudah berada di depan Zack dan menepis pistol itu hingga terjatuh dari tangan pemegangnya.
Ardhan kaget, sejak kapan Dion sudah ada di sana?!
"Dion?!"
Zack yang terbelalak dan masih dikuasai amarah mendesis dengan suara berat, "Dion, kau ini ngapain...?"
"Sudah cukup Zack, kita kalah." Dion menatap pemimpinnya dengan tatapan tegas namun sedih, dia kasihan pada Zack sekaligus Tudung Merah. Dion paham bahwa Zack menyayangi Tudung Merah sebagai bagian dari dirinya, itu yang membuat Zack takut Tudung Merah hilang.
"Dion, yang paling setia diantara anggota Tudung Merah dan eksekutif lainnya?!" Batin Kevin terheran, apa yang sedang dipahami oleh lelaki itu sebenarnya?
"Bawahan... memberikan pendapatnya kepada atasan, tanpa izin?! Hah?!!" Bentak Zack.
Dion menunduk sedih, "Ingat... dulu, kita bertemu, kau menyadarkan diriku untuk tidak terlalu berduka atas kematian orang tuaku... perspektif yang sama yakni untuk mengisi kekosongan di hati orang yang kehilangan, membuat kita berteman..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Fiksi Remaja"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)