Ezra dipindahkan ke kamar dan beristirahat, beruntungnya besok hari Sabtu dan itu libur.
Eza memandang kakaknya yang belum sadarkan diri dari tadi malam, rasanya khawatir sekali, sebenarnya lelaki di depannya ini sedang ada masalah apa?
"Kau tidak pernah mau menceritakan apapun padaku..." Gumam Eza, dan teringat perbincangannya dengan Ezra semalam soal Tudung Merah.
Sebelumnya...
"Jadi? Kenapa kau tiba-tiba membahas komplotan yang telah merenggut nyawa kakak kesayanganmu sendiri?" Tanya Eza.
Ezra terkejut, salah rasanya dia berdiskusi dengan Eza tanpa memberitahu soal masalah yang ada, "Aku... Aku hanya, ingin bertanya saja."
"Apakah ini ada hubungannya dengan perbincanganmu tadi dengan Takagi?" Tanya Eza.
DEG! Jantung Ezra berdegup kencang dan semakin gugup.
"I... Itu... Itu... Em,.. "
"Kau tahu kan? Geng Tudung Merah itu amat berbahaya! J-Jadi karena itulah! Aku ingin membawa Zack kembali" Kata Ezra dengan gugup.
"Kenapa tiba-tiba? Aneh, kau bohong, ada sesuatu kan? Kau sudah lama melupakan geng itu."
Semakin lama, detak jantung Ezra semakin kencang, dirinya panik, tak tahu harus apa sekarang.
"Ezra, tenang. Ceritakan padaku, setidaknya padaku. Hanya kita berdua, oke?" Ucap Eza dengan pelan menenangkan kakaknya.
Ezra perlahan tenang, sekali lagi, dirinya melihat bayangan adiknya itu, ternyata gadis kecil ini telah tumbuh menjadi gadis cantik, dengan pemikiran yang begitu dewasa ketimbang usianya.
Mau tidak mau, Ezra terpaksa menceritakannya, lagipula adiknya itu adalah perempuan dengan bertriliunan bahasa. Apapun alasan yang dikatakan dirinya, adiknya dapat mengatakan hal yang membuatnya harus jujur.
"Kau... di bully karena fitnah yang dibuat orang tak bertanggungjawab?!" Tanya Eza.
"Lebih tepatnya, aku dan kakaknya si bocah jahil itulah yang dibully. Aku tidak masalah, karena aku mampu membela diriku. Namun Nakamoto-san bisa saja kena..." Kata Ezra dengan menunduk.
Klap! Eza menutup pintu kamar kakaknya itu, "Jadi, lebih tepatnya karena cewek-cewek berandal penggemarmu yang kau katakan itu malah membawa-bawa Tudung merah ke permasalahan yang mulanya kecil, menjadi besar?"
"Benar, aku tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya masalah ini ketahuan oleh si bocah jahil. Aku ingin melindungi kalian semua agar tidak dipermainkan oleh Tudung Merah. Salah satu prinsip Tudung Merah, satu target semua kena..." Jelas Ezra.
"Tapi, kau tahu kan?! Zack adalah pemimpinnya! Dan maksudmu tadi ingin menyelamatkan dirinya?" Tanya Eza dengan bingung.
Si ketua Osis mengacak-acak rambutnya karena stres, "Aku baru memikirkannya tadi, aku yakin masalah akan selesai jika aku menyadarkan Zack! Dan masalah utama disini adalah Naren, dia yang menjadikan Zack sebagai medianya. Aku sama sekali tidak mengerti tujuannya sampai-sampai Zack jatuh ke tangannya!"
"Kalau kau cepat paham, kau tahu sendiri kalau Zack orangnya keras kepala. Naren ya... aku yakin penyebab Tudung Merah ingin membantu para cewek-cewek berandal itu adalah karena dirimu. Tudung Merah menarget dirimu, dan Zack tidak pernah mengungkapkan apa alasannya..."
Eza terdiam sejenak, mengingat insiden beberapa tahun yang lalu, wajah Zack yang sangat syok ketika Indra dalam kondisi kritis dibawa oleh Ambulans.
"Namun bagaimanapun juga, dia adalah kakakku..."
"Kau benar, aku akan berusaha bagaimanapun untuk menyadarkannya. Hanya masalahnya satu, pelopor dan pembunuh Indra adalah Naren..." Lirih Ezra.
Eza menghela nafas namun pandangannya terhenti di kalender kamar kakaknya itu, dan membuatnya jadi teringat sesuatu, "Ah... "
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Charming [END]
Fiksi Remaja"Kau mau melarikan diri ya?" Hanya dengan kalimat itu saja membuat jantung Nakamoto Nana berdebar gugup tak tahu kenapa, mungkin karena kalimat itu hanya diucapkan oleh cinta pertamanya. Jangan salah, yang berucap demikian ialah kakak kelasnya, Ezr...
![Prince Charming [END]](https://img.wattpad.com/cover/290981259-64-k972687.jpg)