Rosie's Point of View
Aku bersandar di kursi cafetaria ini sambil menatap Zayn yang duduk di sebelahku. "Zayn, kau tahu tidak? Ibuku pernah bercerita kalau waktu aku kecil, aku pernah pingsan di taman Dandelion. Itu loh, taman yang penuh dengan bunga Dandelion. Lalu katanya, aku ditolong oleh seorang ibu-ibu dan anak lelakinya yang masih kecil juga sepertiku. Tapi sampai sekarang aku belum pernah menemukannya. Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terimakasih,"aku bercerita ke Zayn tentang masa kecilku. Kami sedang istirahat. Tapi Niall, Louis, Harry, dan Liam belum. Ya jadi Zayn makan denganku. Tapi kami duduk di meja berkursi 6 kok, kalau-kalau mereka datang kan bisa bergabung.
Aku menatap ekspresi Zayn yang berubah menjadi tegang. "Oh ya? Siapa dia?"
"Itu dia, Zayn. Aku belum tahu siapa namanya. Tapi yang aku tahu dari ibuku, nama ibu-ibu yang menolongku itu Trisha. Bahkan aku tidak tahu nama belakangnya sehingga aku tidak bisa mencarinya,"ujarku.
"Dan, jika kau bertemu dengan laki-laki itu, apa yang akan kau lakukan?"tanya Zayn. Mengapa ia menanyakan itu?
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku akan sangat berterima kasih dengannya, dan memintanya untuk mempertemukan aku dengan ibunya untuk berterimakasih juga,"jawabku.
"Dan apa yang akan terjadi setelah itu?"tanya Zayn lagi. Ih kenapa sih dia menanyakan seputar itu terus?
"Mungkin kita akan berteman...?" ujarku gantung. "Aku tidak tahu Zayn. Memangnya kenapa kau menanyakan itu?". Aku menyipitkan mataku kepada Zayn. Ia terlihat tegang dan panik.
Ada apa sih sebenarnya? Apa ada yang ia ketahui dan tidak ku ketahui?
"Tidak.. tidak. Tidak apa-apa,"jawabnya gelagapan membuatku semakin curiga padanya.
"Zayn, jujurlah padaku. Ada apa sebenarnya? Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?"tanyaku menyelidik.
Zayn mengalihkan pandangannya. Dan pada detik itu juga aku tahu Zayn menyembunyikan sesuatu dariku. Itukan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang jika ia mencoba menyembunyikan sesuatu?
Zayn tak kunjung menjawab pertanyaanku. Ini semakin membuatku curiga sekaligus penasaran.
"Zayn?"
"Ya? Apa Rosie?"
"Ada apa? Kau seperti...panik?"ujarku.
Zayn merubah ekspresi wajahnya menjadi (sok) santai. "Tidak. Aku biasa saja. I'm fine."
Aku memincingkan mataku padanya selama beberapa saat. Dan ketika aku tidak mendapat respon apa-apa darinya, aku kembali ke posisi normalku.
"Fine, jika kau tidak mau memberitahuku,"ujarku.
"Bukan begitu,Rose. Kau.. tidak akan mengerti,"ujar Zayn.
"Yeah, aku tidak akan mengerti jika kau tidak memberi tahuku,"ujarku sok tidak peduli.
"Rosie ini bukan saat yang tepat untuk memberitahumu. Akan ada waktunya nanti. Nanti disaat aku sudah siap,"ujar Zayn. Ia memegang tanganku sepertii ingin meyakinkanku.
"Ya. Tidak apa. Bukan hakku juga untuk mengetahui urusanmu, Zayn. Aku bukan siapa-siapa, right?"ujarku. Tapi mengapa aku seperti tidak ikhlas ya mengatakan itu?
Zayn menatapku seperti, kecewa? Ah aku tidak tahu. Aku kan bukan pembaca perasaan orang, if that even exist.
"Zayn, my buddy!" Seru seseorang yang ternyata Liam. Ia, Niall, dan Louis menghampiri kami berdua dan ikut duduk di meja kami.
"Hey, Li. Dimana Harry? Aku tidak melihatnya?"tanya Zayn.
"Dia terkena detensi Mr. Wold. Si tua itu memergoki Harry sedang membuka situs porno di kelasnya tadi. Harry terkadang memang sangat bodoh. Untung saja aku tidak ikut terkena detensi karena duduk di sebelahnya,"jelas Louis. Aku tertawa mendengar perkataannya. Detensi karena situs porno? Wow, you are really something, Harry Styles.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion // z.m [EDITING]
DiversosThere are times when we have to stop lying to ourself. No matter how we try to continue to lie, lie it will be seen by itself, without us knowing.
![Dandelion // z.m [EDITING]](https://img.wattpad.com/cover/7455735-64-k951726.jpg)