Song for this chapter:
Half a heart - One Direction
When you're gone - Avril Lavigne
I miss you - Blink 182
When i was your man - Bruno Mars
Happy reading!
-------------------------------------
Zayn's Point of View
"Aku pulang dulu, bye Zayn. Hati-hati di jalan babe." Isa menciumku lalu ia keluar dari mobilku. Aku menurunkan kaca mobil dan tersenyum ke arahnya yang sedang memandangku.
Kami baru pulang dari bioskop. Sehabis pulang sekolah, aku bingung ingin apa di rumah dan akhirnya aku mengajaknya ke bioskop untuk menonton Fast and Furios 7. Well, sejujurnya selama menonton itu aku tidak banyak melihat filmnya. Aku lebih banyak memandang Isa dan sekali-sekali memikirkan Rosie. Tanganku gatal sekali ingin membuka foto Rosie yang aku ambil tadi. Tapi tidak mungkin aku lakukan itu saat Isa ada di sini bersamaku.
Sekarang aku memutar stir mobilku untuk membelok ke kanan. Rumahku sudah terlihat dari sini tapi entah mengapa aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku ingin menyendiri.
Maka aku memutar balik dan mengarahkan mobilku ke satu-satunya tempat yang aku pikirkan sekarang. Mungkin aku bisa tenang di sana.
***
Aku memarkirkan mobilku di dekat pohon. Setelah itu, aku berjalan memasuki taman ini, taman Dandelion yang sejak kecil sering ku kunjungi.
Aku duduk di bawah pohon. Ini sudah malam, tidak ada orang di sini kecuali aku dan sepasang kekasih yang berada di seberang sana. Aku menyandarkan tubuhku ke pohon besar di belakangku ini dan memejamkan mataku.
Di sinilah pertama kalinya aku bertemu dengan Rosie. Aku ingat dulu ia hanyalah seorang gadis kecil yang kehabisan nafas-setidaknya itu menurutku. Lalu aku menghampirinya dan menelepon ibuku karena takut Rosie kenapa-napa. Aku yang pada saat itu tidak mengenalnya sebenarnya bingung kenapa aku bisa membantunya. Aku sempat berpikir kami ditakdirkan untuk bertemu dengan cara seperti itu. Tapi entahlah, aku sudah tidak terlalu memikirkan itu sekarang.
Tanda lahir di bahu kirinya. Hanya itulah yang bisa aku ingat saat itu. Saat ia sedang kehabisan nafas, ia terjatuh dan secara tidak sengaja bajunya itu tergeser dan menampilkan tanda lahir di bahu kirinya itu. Dan siapa sangka aku bisa melihat tanda lahir itu saat ia dirawat di rumah sakit akibat bertengkar hebat dengan Perrie.
Ha Perrie. Gadis gila yang merangkap sebagai mantan pacarku itu sangat berjasa dalam hal ini. Kalau saja Rosie tidak terlibat pertengkaran dengan Perrie waktu itu, aku tidak mungkin bisa melihat tanda lahirnya itu. Dan aku tidak mungkin bisa tahu kalau ialah gadis kecil 7 tahun lalu.
Aku merogoh saku celanaku, ingin mengambil handphoneku. Lalu aku membuka galeri fotoku dan melihat, lebih tepatnya menatap foto Rosie yang tadi ku ambil saat di kelas.
Ia begitu cantik. Bahkan saat tidur. Rambutnya yang ia gerai itu menutupi wajahnya tapi entah mengapa itu terlihat pas di wajahnya. Bibir pinknya yang tidak ia lapisi dengan lipstick itu terbuka sedikit. Ia begitu mempesona, walaupun sedang tidak sadar. Aku menggeser layar handphoneku dan menatap foto Rosie selanjutnya. Masih sama. Ia masih tertidur. Namun rambut yang menutupi wajahnya tidak terlalu banyak karena ia belum banyak bergerak. Wajahnya begitu sempurna. Aku mau memandangi foto ini setiap hari kalau aku bisa.
(Play When i was your man & I miss you now!!)
Setelah puas menatap fotonya, pandanganku beralih ke pasangan yang berada di seberang ku. Mereka seperti sedang mengadakan piknik malam-malam di bawah pohon. Apakah itu terdengar aneh? Menurutku iya. Lagipula, siapa yang mau mengadakan piknik malam-malam?
Disamping anehnya acara mereka, aku mengamati gerak gerik si lelaki. Ia bersandar di pohon sama sepertiku. Akan tetapi yang membedakan adalah ia memiliki wanita untuk bersender di dadanya, tidak sepertiku sekarang. Well, aku punya Isabella. Tapi ia tidak berada di sini sekarang.
Aku melihat lelaki itu membisikkan sesuatu kepada pacarnya. Habis itu, pacarnya tergelak dan entah kenapa itu mengingatkanku kepada Rosie.
Rosie yang tidak menjaga imagenya di depanku. Ia tertawa, menangis juga di depanku. Dia bahkan tidak merasa malu kalau saat ia tertawa, mulutnya itu terbuka lebar. Biasanya perempuan-perempuan lain akan menutup mulutnya tapi ia tidak. Aku suka itu. Aku suka perempuan yang tidak menutup dirinya. Aku suka perempuan yang apa adanya.
I love her. I miss her. So much.
Sulit melihat sepasang kekasih itu saling bermesraan sementara aku di sini sendirian, bersandar di pohon ini, dan hanya dapat merindukan Rosie. Aku tahu ini salah. Aku punya Isa tapi aku masih mencintai Rosie. Aku begitu brengsek hingga membawa-bawa Isa ke tengah-tengah antara aku dan Rosie hanya karena ingin membuktikan omonganku padanya. Aku brengsek. Aku seharusnya tidak layak untuk mendapatkan Rosie.
But somehow i knew she's made for me. Aku yang brengsek, dia yang baik. Aku yang hancur, dia yang sempurna. Kami saling melengkapi. Rosie bisa membuatku lebih baik. Itu sudah terbukti. Aku sudah jarang membully orang lagi, bahkan tidak pernah sejak aku dekat dengannya. Aku sudah jarang berkeliaran tidak jelas. Aku lebih suka jalan-jalan dengannya. Aku merasa aku memiliki tujuan jika sedang bersamanya.
Dan ketika aku sendiri tanpanya seperti ini. Aku merasa tersesat. Aku tidak lagi memiliki tujuanku. Rosie lah yang secara tidak langsung menuntunku menjadi lebih benar. Dan kini ia tidak menuntunku lagi. Ia tidak peduli lagi padaku.
Tiba-tiba saja suara Mark Hoppus dari Blink 182 terngiang-ngiang di kepalaku.
I miss you, i miss you...
**********
Rosie's Point of View
Malam ini cukup bersalju. Padahal ini sudah hampir Februari dan seharusnya salju sudah tidak turun banyak seperti ini.
Aku, Harry, dan Camille sedang menonton film di rumah Harry. Sebenarnya tadi Harry datang dan menjemputku di rumah sehabis aku pulang kerja. Tepat sekali aku baru ingin masuk rumah, mobil Harry datang dari arah kanan. Harry mengajakku pergi menemaninya makan di luar. Camille ikut karena ia ternyata sendirian di rumah sementara Ibuku sepertinya belum pulang. Karena salju di luar cukup banyak, akhirnya Harry membawaku ke rumahnya saja.
Kami bertiga menonton film Despicable Me 2 sekarang. Hm, cukup hangat juga berada di depan perapian ini. Sebenarnya Harry memberiku selimut tapi Camille memakainya lebih banyak jadi kami tidak bisa berbagi.
Aku duduk di antara Cam dan Harry. Harry di kananku, sedangkan Cam di kiriku. Cam menyandarkan tubuhnya kepadaku, membuatku menyandar juga ke Harry yang menyandar ke sandaran sofa. Sepertinya aku terlalu sering menggunakan kata menyandar.
"Rosie,"bisik Harry. Aku menoleh padanya. Aku menelan lidah karena betapa sedikitnya jarak di antara kami berdua. "Cam tertidur,"ujarnya.
Aku menoleh ke Camille dan benar saja ia tertidur dengan pulasnya. "Dia lucu sekali." Aku mendengar Harry berbicara di dekat telingaku. Aku mengangguk menanggapi perkataannya.
"Harry, aku ingin pulang.. boleh? Kasihan Cam sudah tidur begini,"ujarku.
"Tentu saja sayang. Sebentar, aku ambil jaketku dulu." Aku pelan-pelan merubah posisi Cam agar tidak menyandar padaku sehingga aku bisa tidak menyandar paa Harry. Harry berdiri dan meninggalkanku dengan Cam untuk mengambil jaketnya.
Setelah ia kembali, ia menggendong Cam dan membawanya ke mobilnya. Aku mengikutinya dari belakang dan duduk di kursi penumpang sedangkan Cam tiduran di belakang.
Perjalanan ke rumahku diisi dengan Harry yang bercerita ia akan membuat pesta dua hari lagi untuk merayakan ulang tahunnya. Saat ia sedang bercerita, aku sibuk memikirkan hadiah apa yang harus aku berikan ke Harry.
Dia kaya, dia sudah punya semuanya. Jadi apa yang bisa aku berikan padanya?
---------------------------------------
[A/N]: Haaaai i'm baackk!
Hehe ini update cepet cepet mau sekolah, jadi pendek yaa hehe.
Waah Rosie sama Harry udah kayak happy family aja.. Zayn galau ya bang?
Kira kira gimana kelanjutannya yaaa? Vomments for next chapter!
alisonswxft
KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion // z.m [EDITING]
De TodoThere are times when we have to stop lying to ourself. No matter how we try to continue to lie, lie it will be seen by itself, without us knowing.
![Dandelion // z.m [EDITING]](https://img.wattpad.com/cover/7455735-64-k951726.jpg)