CHAPTER 5

2.3K 331 9
                                        

Rosie's Point of View.


"Rosie, kau, ikut aku sekarang,"panggil Niall. apa yang akan ia lakukan lagi?


Aku mengikutinya. dan ternyata ia berhenti di lorong dekat gudang kedua. Jadi, sekolahku ini memiliki 2 gudang. Gudang pertama adalah gudang tempat One Direction dan Bad Girls membullyku. gudang kedua ini dipenuhi oleh alat alat olahraga yang sudah tak terpakai.


"Apa?"tanyaku langsung. aku tak ingin berlama-lama di tempat ini hanya berdua dengan Niall. Bukan karena aku takut dengannya. Bagiku Niall adalah anggota terbodoh di One Direction. ia hanya tau makan, makan, makan dan makan. Tapi aku harus pergi ke butik sekarang.


"Aku ingin kau menjadi pacarku,"


what


what


what


god tell me what's happening rn


menjadi kekasih Niall?


no wayyy!


"aku tidak mau,"ucapku tegas, dan sedikit ketus. atas dasar apa tiba-tiba Niall memintaku menjadi kekasihnya?


"yasudah kalau kau tidak mau. Aku bisa bilang Jade agar ia mengeluarkanmu dari butiknya,"ancam Niall.


"Haha, memangnya kau kenal dengan Jade? asal kau tahu, Jade itu sahabatku, dan kau bukan siapa siapanya. Jadi ia tak akan memecatku semudah itu,"ujarku menantang. iya kan? logikanya aku sahabat Jade dan Niall bukan siapa siapanya.


"Aku bisa melapor bahwa kau telah mencuri baju dari sana dan aku bisa langsung menghubungi ibunya. ibuku teman baik dengan ibu Jade. mau apa kau?"fuck. Niall yang kukira anggota terbodoh dari One Direction kali ini menjadi pintar. ugh.


"fuck you. baik aku mau. tapi aku punya satu pertanyaan," Aku maju selangkah mendekatinya dan menyilangkan tanganku di dada. "why do you want me to be your girlfriend?"


tiba-tiba ia tertawa keras. aku menurunkan tanganku dan menatapnya heran. apa ia memiliki gangguan? "HAHAHA don't be too confident, Rosie ku sayang. aku hanya kalah taruhan dan aku harus berpacaran denganmu selama 1 bulan. got it?"


"but still, why me?"


"i don't know you better ask them. by them i mean my pals,"ujarnya. ugh, One Direction, selalu merepotkanku.


"so, we're dating now?"tanya Niall.


"pretending, i guess. syaratnya, kau tidak boleh menghubungiku selama One Direction tidak ada disampingmu. kau tidak boleh menggangguku. dan, selama aku menjadi 'kekasihmu' One Direction dan Bad Girls tidak boleh menahanku sepupang sekolah, deal?"ucapku sambil menulurkan tangan. Aku mengambil keuntungan? terang saja. bayangkan, jika aku bisa bebas dayti bully-an One Direction dan Bad Girls selama sebulan, artinya aku tidak akan mendapat 'tugas tambahan'. am i right?


"deal. start from now,"


"okay,"


***


Niall melingkarkan tangannya di bahuku. sejujurnya aku ingin lari dari sini secepat-cepatnya. berada dalam rangkulan Niall sangat tidak nyaman. moreover, dia terus terusan mencium pipiku. wtf is this.


Niall membawaku ke tempat One Direction dan Bad Girls berkumpul. katanyasih, ingin pamer telah berhasil menjadikanku pacarnya.


"whoaaaa, new girl, Niall?"teriak Louis dati kejauhan. Louis the sassy, as always.


Niall hanya tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya lebih cepat. "yeah," ia berdeham dan melepas rangkulannya di bahuku dan memindahkan tangannya ke pinggangku. "guys, this is Rosie, my new girlfriend,"


"Whoa!"


"Wow!"


"my leprechaun, u finally got a girl!"


i just rolled my eyes. respon dari mereka semua sangat menggangku pendengaranku. tapi ada yang salah, sepertinya. Zayn as the leader of this fucking annoying gang, he's not saying anything. not even 1 word. he just stare at me, checking me out. what's wrong with him?


***


Zayn's Point of View.


what the fuck?!


Aku kira Rosie tak akan menerima Niall sebagai 'kekasihnya'. mengapa Rosie menerimanya? apa yang Niall lakukan sampai Rosie bisa menerimanya.


tubuhku terasa panas. entah mengapa. seperti ada yang marah dari dalam diriku melihat mereka bersama. seperti hatiku tidak ikhlas. seperti aku menyesal telah memberikan Niall tantangan seperti itu. kukira Niall tidak akan mendapatkan Rosie dan akhirnya ia harus mentraktir kami semua di Nandos. ternyata..


Aku tak habis pikir dengan Rosie. what's wrong with her? kami sudah sangat-amat-sering membully-nya, mengapa ia masih membiarkan Niall menjadi kekasihnya? seharusnya ia berfikir "hey mereka sudah sering membully-ku tak mungkin Niall tiba-tiba memintaku menjadi kekasihnya."


Kenapa harus Niall yang kalah tadi? kenapa bukan aku?


wait wait. i sounded like im jealous with Niall. no. no.


-----------------------------

[A/N]: HAHAHA chapter ini sangat-amat-pendek. tapi udah mulai keliatan kan alurnya? udah mulai ketebak kan? kalo yang gabisa nebak gapeka(?) HAHAapasih.

ohiya, jangan lupa request di One Shot ku dong boleh di check di profile ku yaaa.

-shin

Dandelion // z.m [EDITING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang