Boleh dong ramaikan ...
Hanya sampai sini Mas bisa merawatmu.
–Satria Abizar Mahardika –
🌷🌷🌷
Tarik nafas ...
Buang ...
Tarik nafas ...
Buang ...
Part kali ini akan sedikit drama (gak juga sih. Karena pengalamanku juga jadi ini tuh wajar bukan drama yang dibuat-buat. Semoga kalian mengerti)
Santai ...
Oke selamat membaca ...
Gak, kok! Jangan takut. Gak bikin nangis segukan, kok. Aku kan baru belajar bikin feel ... 😅
Typo dll mohon dimaafkan ... Semoga dapat mengerti, aku ngetik sambil sesegukan.
🌷
Kita flashback bentar ya
🌷🌷🌷
Satria mengerutkan kening saat kedua netranya menatap punggung mungil bergetar milik adik bungsunya. Langsung saja kedua kakinya ia bawa melangkah untuk semakin mendekat.
"Ananta ..." panggilannya lembut, beralih mengikuti arah pandang Ananta yang menatap beberapa gundukan tanah di depannya.
"Mas! Ihh ... Ikannya keburu mati, padahal belum Ananta bantu mentalqin ..." tangisnya saat ia melihat Satria berjongkok disamping, ikut memandang gundukan yang ia buat. Kedua matanya telah basah dengan bahunya naik turun diiringi suara segukan.
Satria pun tersadar saat mendengar pengakuan adiknya, ia pun berucap, "astaghfirullah. Ikan hiasnya Mas Tanjung?"
Atas pertanyaan sepele itu Ananta yang masih berumur 7 tahun mengangguk. Menatap Satria dengan mata berkaca-kaca karena takut dimarahi saat melihat kedua alis kakaknya menukik.
"Sekarang dimana?"
"Udah Ananta kubur, karena gak ada kain kafannya jadi pake daun aja ..." ucapnya memicu kekehan Satria tertahan.
"Nan, itu mau dimasak Mas Tanjung! Pantesan Mas Tanjung nyariin ... Kamu kubur dimana?" tanyanya lagi, walaupun ia sudah tahu Ananta mengubur ikan-ikan itu dimana tapi Satria masih ingin menguji kejujuran adiknya.
"Itu ... Satu, dua, tiga ..." tunjuknya pada beberapa gundukan tanah yang ditancapkan kayu kecil lalu ditempeli kertas bertuliskan nama-nama ikan milik Tanjung.
"Polos banget, deh. Yuk bilang Mas Tanjung dulu, dia lagi nyariin ..." ujar Satria berdiri mendahului kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak serta Ananta.
"Mas, ikan yang udah mati harus dikubur ..." pelan Ananta.
"Tapi bisa dimakan, kok."
"Kan udah mati ... Lagi pula itu ikan hias bukan ikan lele" alasannya lagi kini membuat Satria menghela nafas. Kedua pipi Ananta mengembung sempurna lalu perlahan-lahan kedua sudut bibir mungilnya tertarik sehingga terlihat sebuah senyum yang menggemaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
enfermedad [END]
Fanfiction✨ _________________________________ Haechan | Yangyang | Jisung _________________________________ Cerita tentang kita yang tak sempurna ✨ Saling menggenggam satu sama lain, Saling berangkulan untuk menghadapi tantangan, Tak peduli berapa juta detik...
![enfermedad [END]](https://img.wattpad.com/cover/284254230-64-k234983.jpg)