✨
_________________________________
Haechan | Yangyang | Jisung
_________________________________
Cerita tentang kita yang tak sempurna ✨
Saling menggenggam satu sama lain,
Saling berangkulan untuk menghadapi tantangan,
Tak peduli berapa juta detik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ananta : pengen banget kumpul lagi sama mereka ... Fahri : Mas Fadhil sama Mas Tanjung? Ananta : bukan, maksudnya pengen kumpul bareng Ayah dan Ibu. Fahri : Nan, jangan becanda terus. Gak lucu. Ananta : loh, kok ngamok? Fahri : Nalendra! Urus nih sepupu pesimisnya!
💉💉💉
Naka mengambil langkah besar, seusai jam berakhir ia langsung bergegas menuju parkiran. Keringat dinginnya dan rasa lelah kini bercampur dengan kebimbangan. Mendapat kabar bahwa adik satu-satunya masuk rumah sakit dua jam yang lalu.
"Haa ... Ya Allah, lama banget, cepet ijo!" kesalnya ketika ia sudah dua kali terjebak lampu merah. Hitungan mundur yang terekam diatas sana membuat ia menggeram rendah.
Dering handphonenya terus berbunyi dan ia tahu siapa yang menghubunginya. Naka semakin tidak karuan saat telepon masuk itu tidak terjeda sebentar saja. Hal ini semakin menambah rasa kalutnya.
Tangannya sudah dingin dan pikirannya kacau. Ingin rasanya ia menangis saat kedua netranya masih memandang jalanan padat sore ini. Ia kembali berdecak pada mobil di depannya yang tidak kunjung berjalan padahal lampu sudah berubah, "cepetan, Pak. Mohon pengertiannya, adik saya sedang tidak baik-baik saja. Ayo dong, maju. Jangan-jangan ketiduran, nih!"
💉💉💉
Saat hari kian menggelap, suara langkah kaki yang tergesa mampu mengisi kehampaan lorong rumah sakit. Berkali-kali menenangkan diri sendiri atas kekhawatiran yang menyelimuti.
"Kak ... " Julian berdiri saat Rendra datang dengan penampilan yang sudah berantakan. Peluh sebesar biji jagung terlihat menetes dari dagunya. Terdengar helaan nafas lalu berdecak saat ia melihat ruangan ICU masih tertutup rapat.
Ia berjalan mendekati dinding, menyandarkan punggungnya pada dinding polos dibelakang. Tubuhnya meluruh dengan kaki yang ia tekuk. Nafasnya masih tersenggal-senggal.
"Nal ... Hahh, Nalendra?"
"Belum ada kabar, Kak!" jawab Naka menghampiri sambil memberikan sebotol air mineral untuk menghilangkan dahaga Rendra.
Selanjutnya Rendra bertanya, "kalian sudah makan?"
"Belum, Kak. Mana sempat ..."
"Yaudah, Kakak belikan makanan dulu, ya!"
"Nana ikut!" ia mengajukan diri yang segera diangguki Rendra.
Langkah keduanya tidak pernah beriringan selama diperjalanan menuju kantin. Percakapan pun terdengar garing dan penuh dengan keputus-asaan.
"Na, kebutuhan kalian juga penting, Kakak sebagai sulung cuman bisa berbuat seperti ini saja. Memastikan kalian aman, nyaman dan terjamin kebutuhannya. Kalian jangan sakit, ya!"