Part 1 : Ananta Abimanyu Mahardika (Revisi ✔)

4.2K 236 51
                                        

Hallo, apa kabarnya? Siap baca part 1? Oke happy reading semuanya .... Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, komentar dan rekomendasikan pada temanmu ...

 Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, komentar dan rekomendasikan pada temanmu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sakit itu ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia bisa sembuh atau kemungkinan kedua dia bisa sembuh dengan cara lain. Itu kata guruku waktu SMP.
—Ananta Abimanyu M—

***

Bertempat di taman rumah sakit, ketiga pemuda bertemu dalam keadaan siang yang terik namun hembusan angin menjadikan hari tidak terlalu panas. Satu pemuda terlihat berdiri diantara kedua pemuda lain yang sedang duduk pada kursi roda.

“Maaf, ya, Mas baru bisa jengukin kamu …” ucap pemuda bernama Ananta Abimanyu, ia mengetatkan jaket yang dipakai lalu menoleh dengan raut wajah sedih memandang sepupunya, Nalendra Mahawira.

Pemuda berumur 17 tahun itu mengangguk untuk menanggapinya. Kedua netranya masih betah memandang sekeliling taman rumah sakit. Terduduk di kursi roda yang berdampingan dengan Ananta semakin membuktikan sepayah apa dirinya sekarang.

“Kak Naka, bisa gak biarin aku mengobrol berdua dengan Mas Ananta?” Tanya Nalendra memandang Naka sejenak, berharap kakaknya berkenan menuruti kemauannya kali ini.

Naka pun mengangguk memberikan izin, sekejap sebuah usapan sayang ia berikan pada Nalendra sebelum meninggalkan keduanya.

“Kata Kak Rendra kamu ngambek lagi setelah kemo.” ungkap Ananta selepas melihat Naka menjauh, beralih meminta penjelasan pada Nalendra.

Hm.”

“Kamu harus nurut pada kakak-kakakmu. Ceritakan apa yang mengganjal di hati agar kamu lega lalu kalian bisa lebih akrab dan mencari solusi bersama.” pesan  yang lebih tua memberi nasehat.

“Nalendra cuman percaya sama Mas Ananta kalo urusan bercerita,” tolaknya menghela nafas. Ingatannya kembali pada ucapan-ucapan yang sering ketiga kakaknya lontarkan, namun semua itu tidak kunjung membuat resah dalam hatinya mereda.

“Udah berkali-kali Lendra bilang sakit, tapi tetap saja mereka gak akan mengerti sakitnya. Mereka cuman bisa bilang sabar tanpa pernah tahu rasanya. Kalau sama Mas Ananta, Lendra merasa lebih nyaman karena pasti Mas juga merasakan sakitnya, kan?”

enfermedad [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang