***
Hanya di ruangan bernuansa putih polos rara berbaring, duduk, makan, dan tidur. Itulah aktivitas rara belakangan ini
"Putrii..
"Hmm
"Gw pengen ke taman rumah sakit boleh kan? Temenin gw yuuuu
"Ga boleh. Lo blom pulih
"Yaampun kalo nunggu gw pulih lamaaa tau.
"Intinya ga boleh ra
"Yaudah gw sendirian aja kalo gitu
"Eh eh,, ga ga gaboleh
"Makanya ayo temenin gw
"Oke oke bentar gw izin dokter revan dulu
..
Setelah mendapat izin dari dokter revan, disini rara sekarang
Di taman rumah sakit.
Huufftt
"Ah lega banget dapet hirup udara segar
Dengan menggunakan bantuan kursi roda rara dengan mudah bisa kemanapun yang ia mau, tentunya putri juga menemani rara hingga sampai berada di taman rumah sakit itu.
"Putrii,, boleh minta tolong ngga? Ucap rara
"Apaan?
"Boleh ambilin gw buku sama pulpen?
"Tapi emang lo gapapa di tinggal sendiri di sini?
"Iyaa gapapa
"Yakiin?
"Iya putrii, lagian gw bukan anak kecil lagi
"Yaudah tunggu bentar
Putri beranjak dari tempat duduknya, dan segera mengambilkan apa yang rara inginkan
Pemandangan yang rara lihat cukup beragam, tetapi taman ini dominan di penuhi oleh anak-anak. Tidak semua anak yang sakit yang berada di taman ini, mungkin juga sedang melongok orang yang sakit 'pikir rara
Dorr!!
Raena yang datang dan melihat rara sedang melamun berinisiatif untuk membuat sahabatnya itu kaget.
"Yaampun raee, untung penyakit gw leukemia bukan jantungan. Kan ga epik kalo ada berita 'seorang sahabat mati karena sahabatnya sendiri'
"Hehe,, abisnya bengong mulu raena hanya nyengir kuda sebagai tanggapan ucapan rara
"Eh ini, tadi katanya lo mau buku sama pulpen. Buat apa si?
"Ah kepo lo. Eh trus si putri nya mana?
"Ah kepo lo jawab raena membalas rara
Pletak
Rara memukul raena menggunakan pulpen yang ia pegang
"Sakit anjirr. Ucap raena mengelus² kepalanya
"Rasain, abisnya gw nanya serius malah lo becandain
"Mau amat di seriusin neng ucap raena melihat rara sambil mengangkat² alisnya sama persis dengan om-om pedo di pinggir jalan
"Sialan lo. Udah ah gw cape becanda sama lo ga berkelas
"Gaya-gayaan berkelas. Makan cuma sama mi gelas aja belagu lo
Hening, rara lelah jika harus terus-menerus meladeni sahabatnya itu.
Rara tengah fokus mengoreskan tinta kedalam buku yang raena bawa, hingga atensinya teralihkan pada dua sosok kaka beradik yang sedang asik bermain
"Baaang balikin bonekanyaaa
"Sini dooong ambil
"Ih abaaang ....
"Wlee...ayo sini kejar abang...
Bruk
"Ehh ade gapapa kan?
"Gapapabhehee..
"Maafin abang ya..sini abang bantu
Rara hanya tersenyum melihat kedua bocah itu. Ia benar-benar teringat akan masa kecilnya bersama abangnya
"Bang,, rara liat mereka kaya seneng bgt, rara juga pengen kaya gitu bang,,Rara iri sama adik kecil itu..'gumam rara
"Hahh? Kenapa ra?
"Hahh? Apaan dah, orang gw ga ngomong apa-apa
"Eh, gw salah denger ya.. raena menggaruk² kepalanya yang tak gatal
"Eh eh Raa..liat deh. Cewe itukan kena penyakit kangker tunjuk raena pada seorang perempuan yang duduk di kursi roda sama seperti rara
"tapi si cowoknya tuh tetep mau nemenin dia sampe sembuuh katanyaa , malahan dia ngemanja²in cewe nya gituuuh.. aaa gw iri deh liat nyaaaa huaaa
"Eum..gw ga iri sama cewe yang di manjain sama pacarnya rae,, tapi gw iri sama seorang adik yang di manjain sama abangnya ucap rara sambil melihat kaka beradik yang membuatnya iri
"Ah, lo mah mikirin abang lo muluuu, abang lo aja ga inget sama lo ra
"Hehe,, iya ya
***
Dion sudah hampir 2 bulan akhir-akhir ini berada di Jakarta, ia bahkan rela bolos mapel kuliah hanya untuk mencari keberadaan adiknya. Tentunya di temani oleh viona sang kekasih
"Kita mau cari kemana lagi nih?
"Aku juga ga tau vi, bahkan temen-temennya rara juga ga pernah aku liat akhir² ini
"Jangan nyerah ya dion, mungkin rara sekarang lagi butuh kamu
Dion hanya menunduk mendengar apa yang di ucapkan viona. Tentu benar rara sedang membutuhkan sosok dion.
'dengan siapa rara sekarang?, Apa dia sudah sembuh?, dapat Uang dari mana rara untuk menyembuhkan penyakitnya itu?, Dimana rara tinggal sekarang?, Dengan siapa?' hanya itu yang selalu berputar-putar di kepala dion
**
"Ra, masuk yu.. udah mau magrib nih. Ucap raena tanpa melihat rara
"Raaa yaampuuuuuun, jawab ke...
Raena hanya menatap benda pipih yang berada di tangannya tanpa menoleh sedikitpun pada rara
"Raa gw ta-
Belum raena melanjutkan perkataannya dia melihat tubuh rara sudah terkulai lemas di kursi roda, dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Astaghfirullah raaaa. Yaampun maafin gw
Raena segera membawa rara kedalam ruangan inapnya lagi
Vote:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear ABANG
Teen Fiction"..Tidak semua orang memiliki hidup yang mudah.meski berusaha, adakalanya dunia tidak mengizinkannya bahagia.." Rara ingin menentukan rencana takdir nya sendiri. Di buat se-indah mungkin tapi.. Kadang takdir berjalan tidak sesuai rencana,tapi dari s...
