Mana antusias kalian nich, tunjukin dong. 4130 word loh, mantap kan!
*******
Ada beberapa hal yang tak bisa ia kendalikan dalam hidupnya, termasuk takdir. Aurora tidak mengira jika ia akan mengalami semua nasib buruk ini, setelah ia dibuat jatuh cinta setengah mati lalu di tinggal begitu saja sampai nyaris mati. Satu bulan berikutnya Aurora baru bisa membuka diri dan kembali ber Sekolah, meski ada banyak sekali perubahan dalam dirinya
Wajah cantiknya tak lagi di hiasi senyuman, terkadang tatapan nya kosong dan ia menjadi lebih pendiam. Melukis bukan lagi menjadi hobinya setelah Martin juga sama-sama meninggalkannya, Aurora yang sekarang lebih senang mengurung diri di dalam kamar, atau sesekali menyusuri hutan yang terletak di belakang rumahnya setelah pulang Sekolah- berharap dengan begitu ia bisa menemukan jejak-jejak pria itu. Meski nyatanya hanya sebuah sia-sia belaka
Selama sebulan penuh Aurora sudah berupaya untuk melupakan kehidupan di masa lalunya yang orang-orang anggap hanyalah khayalan semata, tapi nyatanya tidak semudah itu. Sangat sulit apalagi ketika ia mencoba berpaling dengan pria lain sebagai sarana pengalihan dari bayang-bayang sang suami yang membuangnya Aurora malah selalu dihantui rasa bersalah dan ketika terlelap ia selalu bermimpi di datangi pria itu.
Kini sudah enam bulan berlalu dan Aurora mencoba menikmati tahun-tahun terakhir nya di Sekolah sebelum ia dan keluarga nya pindah ke Jepang untuk memulai kehidupannya yang baru, kaki jenjang nya melangkah santai menyusuri koridor Sekolah sambil menatap lurus ke arah depan dan berhenti tepat di depan sebuah kelas yang masih belum di penuhi oleh para penghuninya, kepalanya menoleh menatap kearah jendela yang menampilkan isi kelas. Setiap hari ia melakukan hal itu hanya untuk memastikan jika pria remaja itu ada di dalam sana- duduk di tempatnya sambil membaca buku tebal dengan raut wajah dingin yang menjadi favoritnya.
Tapi sayangnya sosok itu masih bersembunyi, hilang, dan tidak lagi terlihat di pandangan nya. Di setiap malam Aurora berdoa sebelum tidur berharap dipertemukan dengan Martin agar ia bisa mengungkapkan sebuah pengakuan, atau setidaknya ia ingin sekali menitipkan salam untuk pria itu.
"Tidak apa-apa, mungkin tidak hari ini. Rora yakin di kemudian hari Rora akan kembali melihatnya di sana." bisik gadis itu dalam hati, mencoba menyemangati dirinya.
Orang-orang atau pihak Sekolah sebenarnya sudah menyatakan jika tak ada siswa di kelas itu maupun kelas lainnya yang memiliki nama 'Martin' atau siapapun yang di cirikan Aurora ketika beberapa bulan pasca ia kembali ke Sekolah. Martin pergi tanpa jejak seperti dia, menghapus ingatan-ingatan orang lain tentang kehadirannya yang pernah ada, sehingga spekulasi jika selama ini ia hanya mengalami halusinasi adalah sebuah kebenaran. Tapi Aurora dengan ego nya percaya jika ia tidak berhalusinasi dan akan kembali bertemu dengan kedua orang yang kini menempati ruang hampa di hatinya lagi.
Kaki nya kembali melangkah tak memperdulikan tatapan memuja dari siswa lain yang selalu memperhatikan nya, selama jam pelajaran berlangsung Aurora hanya diam memperhatikan apa yang gurunya ajarkan, gadis itu juga mengerjakan semua soal dengan jawaban yang benar dan mendapat nilai yang memuaskan.
Sungguh sebuah kemajuan yang sangat pesat karena selama ini orang-orang mengenal nya dengan murid pemalas dan bodoh, tapi sekarang tidak. Aurora benar-benar merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, ia tidak mau mengecewakan pria itu dan kelak ketika hari itu tiba Aurora akan memamerkan kepintarannya yang kian meningkat
Jam istirahat pun tiba, Aurora dengan buku Biologi di tangannya berjalan menuju taman lalu mendudukkan bokongnya di kursi tempat biasa Martin menghabiskan waktunya. Selama berbulan-bulan ia selalu menyempat kan diri mendatangi beberapa tempat yang kerap Martin singgahi berharap jika ia bisa bertemu dengan nya lagi, tapi sayangnya ia hanya menemui beberapa murid lain yang tengah mengobrol, membaca buku atau makan siang bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Vampire Love Me
VampirosDengan paras yang menyerupai bidadari, Aurora bagaikan bintang di mata para kaum adam. Bersinar dan memukau. Namun sayang, Aurora hanya di anugrahi kecantikan fisik, tidak dengan kepintaran otaknya Aurora begitu lugu, polos seperti kertas putih. Di...
