Martin termenung menatap hampa pemandangan jendela kamarnya, sudah dua hari ia tak menemukan Aurora. Ia merasa bersalah tentu saja, karena ulah kakak nya- manusia suci seperti Aurora akan menjadi korban selanjutnya. Tak menutup kemungkinan sekalipun itu adalah mate pria itu sendiri
Ia merasa tak berguna, sulitnya menerobos pertahanan Istana Jack menjadi faktor pendukung. Tak seperti biasanya- antek-antek Nicholas pun mati kutu saat akses mereka yang biasa di lewati tiba-tiba saja di penuhi anak buah Jack yang terdiri dari makhluk-makhluk menyeramkan. Alhasil apa boleh buat, Martin tak bisa berbuat banyak kali ini. Ia akan memikirkan cara lain demi menyelamatkan Aurora
Dan Nicholas- pelayan pribadinya itu tengah menyelidiki dan mencari ri tahu tentang Istana Jack, karena sepertinya tengah ada sesuatu yang terjadi mengingat banyak nya para penjaga yang berjaga tak seperti biasanya. Martin yakin itu. Semoga saja jika Aurora benar berada di sana dan gadis itu akan baik-baik saja sebelum ia membawanya pulang
"Permisi tuan muda!" Martin nenoleh begitu mendapat intrupsi dari sosok pelayan dari balik tubuhnya- itu bukan Nicholas
Sam- pria dengan suari hitam legam kebanggaan nya kini menyodorkan satu gulungan kepada Martin. Pria remaja yang nyatanya sudah berusia ratusan tahun itu pun menaikkan satu alis tebal nya
"Apa ini?"
"Ini surat undangan pertemuan para Raja imortal yang di adakan setiap sepuluh tahun sekali, tuan. Saya dengar Paduka Jack akan menghadiri acara itu" jelas Sam, gulungan kertas lapuk berwarna merah merona dimana di dalam nya tertera nama sebuah kerajaan disana 'Almeer Castle'
"Darimana kau dapatkan itu?" Sam menyeringai. Martin jelas tau maksud pelayannya itu, Sam adalah pelayan setia selain Nicholas yang begitu licik dan terkenal akan kecerdasan nya. Jadi jelas sudah jika pria itu tengah membuat rencana, dan Martin yakin rencana nya itu seratus persen akan berhasil
"Anda melupakannya tuan? Mereka memang mengundang anda, hanya saja saat itu anda benar-benar tak tertarik untuk membacanya dan malah membuangnya ke tong sampah. Melihat hal itu saya pun memungut nya kembali, mendapat firasat jika surat ini akan berguna suatu hari nanti. Dan... Tibalah waktunya, anda harus mencoba membuktikan firasat saya, tuan" yakin Sam, mata pria itu menghitam sempurna dengan dihiasi sinar kemerahan
Martin tak banyak berfikir, ia yang melihat sorot mata Sam yang amat meyakinkan itu pun langsung mengambil gulungan tersebut. Semoga keputusan nya kali ini benar
"Ku dengar Paduka Jack akan membawa seorang gadis yang di gadang-gadang adalah mate nya, itukah gadis yang tengah anda cari tuan?" tanya Sam seraya melempar senyuman miring
Martin mendengus, Sam jelas sudah tahu tapi kenapa pria itu masih saja bertanya. Berniat menggodanya, heh?
"Diamlah! Kau jelas sudah tahu jawabannya, bodoh!"
Sam terkekeh dan mengangkat kedua tangannya tinggi
"Baiklah, saya minta maaf. Dan ya satu lagi... Orang tua anda meminta anda pulang tuan! Mereka merindukan anda" wajah Martin berubah datar nan dingin, tatapannya berubah kosong. Sam memang pelayan setia yang di kirim dari kerajaan orang tuanya, jelas pria itu amat santai dan begitu pro menyampaikan pesan dari orang tuanya.
Sementara Nicholas, pria tua itu jelas akan merasa segan karena paham jika hubungan Martin dengan orang tuanya sedikit merenggang. Ia selalu berhati-hati menjaga perasaannya, tidak seperti pelayan sialan yang di rekrut ayah nya itu
"Kalau begitu saya pamit undur diri tuan, jangan terlalu berlarut dalam dendam. Tak baik untuk jiwa muda anda"
"SHUT UP, SAM!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Vampire Love Me
VampirosDengan paras yang menyerupai bidadari, Aurora bagaikan bintang di mata para kaum adam. Bersinar dan memukau. Namun sayang, Aurora hanya di anugrahi kecantikan fisik, tidak dengan kepintaran otaknya Aurora begitu lugu, polos seperti kertas putih. Di...
